Mendadak Gangster

Mendadak Gangster
Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Semenjak Noah mengambil jabatannya di kantor, Vector menghabiskan hari-harinya untuk mabuk dan bermain wanita.


Orangtuanya juga marah besar padanya yang berimbas pada Violet yang tidak mengerti apa-apa.


“Bos! Bos!“ panggil Lius pada Vector yang saat ini tengah mabuk berat.


“Hm,“ Vector hanya bergumam tidak jelas.


“Nona Violet sudah kembali, Bos!“ lapor Lius yang mendapat kabar dari pelayan mansion keluarga Bill.


Vector langsung menegakkan kabarnya mendengar kabar itu. “Di mana sekarang, Vio?“


“Ada di apartemennya, Bos!“


Dengan langkah sempoyongan Vector berjalan ingin menemui adiknya. Lius membantu Vector berjalan keluar bar dan segera menyiapkan mobil untuk pergi ke apartemen Violet.


Di apartemen, Violet masih saja menangis sesegukan karena perlakuan James padanya sebelumnya. Dia merasa keluarganya sendiri tidak menyayangi dirinya.


“All is well, all is well “


Violet mencoba menenangkan dirinya, dia masuk ke kamar mandi di kamarnya yang selama sebulan lebih ini dia tinggal.


Lantainya kering dan bau karena lama tidak dipakai, Violet merasa mual dan ingin muntah saat itu juga. Violet muntah beberapa kali sampai dia merasakan pusing luar biasa.

__ADS_1


Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mandi, Violet kembali berbaring karena tidak bisa menahan sakit di kepalanya. Tapi baru saja dia menaruh kepalanya di bantal saat itu juga bell apartemennya berbunyi.


“Siapa yang datang?“ gumam Violet. Di hati kecilnya dia berharap itu Noah. “Aku pasti sudah gila!“


Violet menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan lelaki itu dari kepalanya. Kaki jenjangnya dia langkahkan ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang.


“Kak Vector!“ seru Violet bergegas membuka pintu.


Saat pintu terbuka dengan segera dia memeluk kakaknya.


“Vio, kau tidak apa-apa?“ tanya Vector perhatian dengan membalas pelukan adiknya.


Violet tidak menjawab tapi gadis itu mengeratkan pelukannya tapi sedetik kemudian indera penciumannya merasakan aroma alkohol yang menyengat, membuatnya melepas pelukan seketika.


Violet berlari menuju wastafel dan muntah-muntah di sana. Kepalanya semakin berat membuat Violet limbung dan akhirnya jatuh pingsan.


“Vio!“ pekik Vector yang sedari tadi mengikuti Violet dari belakang. Lelaki itu menangkap Violet yang pingsan lalu berteriak pada asistennya. “Lius, cepat bawa Vio ke rumah sakit!“


*****


Vector sudah mulai sadar dari mabuknya, beruntung malam ini dia masih bisa mengontrol dirinya. Dengan memijit pelipisnya dia duduk menunggu Violet di periksa oleh dokter di rumah sakit.


“Awas kau, cupu!“ geram Vector menyalahkan Noah atas apa yang terjadi pada adiknya.

__ADS_1


Lalu pandangannya mengarah pada asisten yang setia menemaninya. “Lius, belikan makanan saat Vio bangun dia harus makan! Dan pastikan dia mendapat perawatan dan ruangan terbaik!“


“Baik, Bos!“ sahut Lius patuh.


Beberapa menit berlalu, dokter yang memeriksa Violet keluar dari ruangan pemeriksaan.


“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?“ tanya Vector tidak sabaran.


“Luka di lehernya tidak mengalami masalah sepertinya sebelumnya sudah mendapatkan penanganan terbaik. Setelah pemeriksaan keseluruhan ternyata pasien tengah hamil. Usia kandungan berkisar 2 minggu!“ jelas Dokter.


Tentu saja Vector terkejut bukan main mendengar penjelasan dokter tersebut. Violet hamil?


Pasti itu anak Noah! Vector mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.


“Bisa rahasiakan kehamilan adik saya?“ pinta Vector.


Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya. “Saya permisi!“


Setelah dokter itu pergi, Vector masuk ke ruangan Violet berada. Adiknya masih tidak sadarkan diri dengan wajah memucat.


Vector tiba-tiba menyeringai karena menemukan senjata kuat untuk mengalahkan Noah.


“Ternyata kepulangan Vio membawa keberuntungan!“ gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2