
"ma sudah bangun? " tanya rio
rara melihat putranya yang semakin dewasa setelah menikah dan akan menjadi seorang ayah.
"papa mana ma.?" tanya rio yang sudah duduk di tempat tidur mamanya.
"katanya jalan jalan di halaman belakang. " kata rara
"mama tidak ikut papa.?" tanya rio lagi
"tidak mama juga baru bangun tidur." kata rara
rio sangat tahu betapa keras kepalanya mamanya itu dan rio membiarkan semua akan baik baik saja selama mamanya tidak berbuat yang aneh aneh.
terutama tidak mencarikan istri seperti dulu, rio yakin nanti suatu saat hati mamanya akan luluh dan mungkin saja dengan lahirnya anaknya nanti.
siapa yang tidak senang melihat cucu yang di dambakannya, itu mengapa dahulu rara selalu ingin menjodohkan dirinya.
agar cepat memberikan cucu kepadanya. dan walaupun rista bukan istri pilihan hatinya tapi rista adalah ibu dari cucu cucunya.
rio yakin saat itu tiba mama nya akan sadar dan menerima rista sebagai menantu di rumahnya dan menghargai pilihan anaknya.
"tuan sarapan sudah siap. " kata bibi di luar kamar
"ma ayo kita ke meja makan semua orang sudah menunggu kita. " kata rio
rio dan namanya menuju meja makan di mana sudah ada rista dan namanya dan almira juga fandi masih di kamarnya mereka masih tidur.
karena hari libur rista membiarkan anak anaknya bersantai dan pasti mereka akan lebih canggung karena adanya orang tua rio.
"sayang di mana akan anak. ?" tanya rio
"mereka masih di kamar sayang," kata rista
"ma ayo kita makan, " kata rista kepada mamanya
jika tidak hamil besar mungkin rista dengan senang hati mengambilkan makanan untuk mertuanya tapi keadaan tidak memungkinkan untuk nya bergerak jadi rista hanya bisa menawarkan saja.
sebagai tanda jika dia perhatian kepada mertuanya, entah itu akan berhasil membuat mamanya setidaknya melihat niat baiknya.
__ADS_1
di meja makan hening dan rista sudah tahu kebiasaan keluarga rio tidak mengobrol di meja makan.
semalam rista juga sudah memberitahu kepada mamanya soal kebiasaan keluarga rio dan rinda mengerti.
setelah sarapan rista dan mamanya duduk santai di halaman belakang dan memang itu sudah menjadi kebiasaan mereka jika rinda menginap di rumahnya.
"ma jika berkenan kita akan bersantai di belakang apa mama akan ikut bersama kami.?" tanya rista kepada rara
mendapat tawaran rista, rata hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti rista dan namanya di belakang.
rio tersenyum melihat betapa rista mampu bersabar menghadapi namanya dan itu membuat rio semakin takjub akan istrinya.
rio mengajak papanya juga bersantai dekat kolam ikan sambil mengamati para wanita yang duduk dengan wajah yang sangat tidak bisa di katakan oleh rio, karena melihat ketiganya membuat ekspresi yang berbeda, "canggung sekali." kata rio dalam hati
"pa aku tinggal sebentar," kata rio lalu menghampiri rista dan mamanya.
Rio duduk di dekat mamanya dan melihat ketiga wanita itu masih diam satu sama lain.
"sayang bukannya hari ini kita akan memeriksa kandungan mu?" tanya rio
rista melihat rio dengan ragu tapi dia menganggukkan kepalanya, "jadwal kontrol kandungannya masih seminggu lagi." pikir rista
rara diam walau dalam hatinya mengatakan iya, dia juga ingin melihat cucu cucu di kandungan rista saat di USG nanti.
"ris mama pulang ya, anak anak besok sekolah. " kata Rinda kepada putrinya
"mama ngk ikut kami ?" tanya rio
"Tidak usah mama kemarin kemarin sudah menemani rista periksa kandungannya, sekarang gantian biar mamamu yang menemani." kata Rinda yang melihat arah rata yang masih diam saja.
"ya sudah kita bersiap siap mumpung masih pagi." kata rista
rista berada di kamar bersama rio dan rista mengambil pakaiannya untuk ganti, "kak mama masih belum mau berbicara kepadaku, " kata rista
" kita lihat nanti sayang setelah mama melihat cucunya dalam USG nanti, sabar." kata rio
hmmm, rista menganggukkan kepalanya dan rista juga ingin melihat reaksi mama rata saat melihat bayi bayi dalam kandungannya.
"sebenci apapun dia kepadaku mana mungkin dia menolak bayi dalam kandunganmu ini." kata tiara dalam hati dan mengelus perutnya yang membuncit.
__ADS_1
dalam perjalanan menuju klinik langganan rista papa dan rio berbincang dan sekali kali rista menjawab pertanyaan yang di kontrakan papa mertua kepadanya.
sampai di dalam klinik ada beberapa ibu hamil menanti untuk di periksa dan rista mendapatkan urutan ke empat.
bidan erni adalah bidan langganan rista semenjak dia positif hamil, selain di rumah sakit dia praktek di rumahnya.
rista jika tidak sempat ke rumah sakit dia akan datang ke tempat praktek bidan erni di rumahnya contohnya seperti saat ini.
tadi rista sudah menelfon bidan erni sewaktu di rumah, bertanya apa bidan sedang praktek apa tidak dan kebetulan hari ini bidan tidak pergi jadi mereka bisa datang.
setelah menunggu akhirnya giliran rista dan mereka masuk kedalam, " semua sehat sehat, baik ibu maupun bayinya." kata erni
terlihat senyum rara saat melihat bayi dalam layar monitor dan "bu apa jenis kelamin mereka.?" tanya rara
bidan erni melihat rista seakan bertanya apa boleh di menjawab pertanyaan wanita yang berdiri di sebelahnya ini dan rista menganggukkan kepalanya.
"satu perempuan dan dua laki laki." kata bidan erni
terlihat wajah bahagia dari rara yang tidak bisa dia tutupi dan rara bersyukur akan cucu yang sudah lama dia nantikan.
"boleh aku minta hasil USG ini," kata rara kepada rista
mendengar mertuanya meminta kepadanya rista yang senang menganggukkan kepalanya dan memberikan foto USG di tangannya.
rara melihat foto USG di tangannya lalu menyimpan di tasnya, kini dia bisa mengatakan kepada teman temannya nanti jika dia akan mempunyai cucu.
"kamu tahu sayanga aku senang saat mama berbicara kepada ku. " kata rista
"aku tahu dan syukur jika kamu senang, maaf kan mama sayang suatu hari nanti mama akan menerimanya dan saat itu kamu akan kesalahan menerima kasih sayang mama." kata rio
rio tahu jika mamanya lambat laun akan luluh dan menerima rista apapun yang ada pada diri rista, semua kekurangan dan kelebihan rista.
di kamar rara dia masih melihat foto USG di tangannya, memandangnya dengan penuh senyum kebahagiaan.
bram yang sebenarnya belum tidur melihat semua yang di lakukan istrinya, karena takut istrinya merasa malu dia kembali memejamkan mata dan tidur siang
"Mana mungkin kamu akan menolak menantu sebaik rista, apalagi dia telah memberikan cucu tiga sekaligus, dasar keras kepala." kata bram dalam hati
rara memasukkan kembali foto itu dalam tasnya dan keluar kamar menuju halaman belakang, tadi dia belum sempat jalan jalan berkeliling di rumah putranya.
__ADS_1
.