Mengubah Nasib Gadis Jelek

Mengubah Nasib Gadis Jelek
36


__ADS_3

Keesokan paginya, Ivanka terbangun dari tidurnya dan perempuan itu langsung bersiap-siap untuk meninggalkan rumah.


Tetapi kau mah ketika dia keluar dari kamar perempuan itu terkejut saat mendapati adalah telah kembali dari rumah sakit dan perempuan itu memandanginya dengan sangat marah sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Ivanka tidak mengatakan apapun dan sama sekali tidak menghiraukan Kakak perempuannya, tetapi perempuan itu langsung berlari ke lantai bawah dan menghampiri kakak laki-lakinya yang saat itu sedang memegang sebuah majalah.


"Apakah kakak kedua sudah pulang?" Tanya Ivanka berpura-pura tidak tahu apapun mengenai kakaknya.


Davi menganggukkan kepalanya, "hm, baru saja pulang ke rumah tapi apa kau baik-baik saja?" Tanya Davi yang merasa khawatir pada adiknya itu, sebab tidak biasanya adik perempuannya itu membantah apa yang diperintahkan padanya, jadi kejadian kemarin malam cukup membuatnya terkejut.


Ivanka tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, "Kakak jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ahh,, aku sudah terlambat, hari ini aku ada janji dengan seseorang, jadi aku harus pergi sekarang. Katakan pada ayah dan ibu kalau aku akan pulang terlambat." Ucap Ivanka langsung diangguki oleh Davi.


Ivanka lalu menyelamatkan tangannya pada kakaknya dan berlari keluar rumah dan mencari sebuah taksi untuk mengantarnya ke klinik kecantikan.

__ADS_1


Saat ia tiba di lantai paling atas di klinik kecantikan itu, dia mendapati bahwa tempat itu telah kosong, yang menandakan bahwa pemilik tempat tersebut telah pulang kampung.


"Hah,,, akhirnya dia pergi menemui kedua anaknya," ucap Ivanka sembari berlari ke dalam salah satu kamar dan dia kemudian mengambil sebuah buku catatan yang selalu diletakkan di sana pada beberapa kehidupannya.


"Hm,,, ini dia," ucap Ivanka melihat sebuah nomor telepon yang diletakkan di buku tersebut lalu dia kemudian menghubungi pemilik nomor telepon itu.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ini aku Ariana, Aku ingin menanyakan tentang seorang pasien yang dirawat di rumah sakit, namanya Gea. Bisakah mengirim informasinya ke nomor ponsel ini?" Ucap Ivanka pada orang sedih seberang telepon yang mana orang itu ialah salah satu petugas di rumah sakit yang menangani seluruh data-data pasien.


Sementara Ariana ialah seorang perempuan yang menjadi nama samaran Ivanka ketika dia beberapa kali menolong pria itu hingga membuat pria itu selalu mengabulkan apapun yang ia inginkan asalkan dia menyebut nama Ariana.

__ADS_1


"Tentu saja, Nona adalah penyelamat saya, kalau begitu saya akan segera mengirimkannya," jawab orang dari seberang telepon lalu panggilan itu kemudian diakhiri dengan Ivanka yang kemudian keluar dari kamar.


Begitu keluar dari kamar, ponsel Ivanka langsung bergetar menandakan sebuah pesan yang masuk yang ternyata berasal dari Elsa.


*Aku sudah mendapatkan informasinya, sudah kukirimkan ke email-mu. Ah,, beberapa hari ke depan aku mungkin tidak akan aktif Jadi jangan mengharapkanku.* Isi pesan itu langsung membuat Ivanka tersenyum lalu dia membalas terima kasih pada perempuan itu sebelum membuka emailnya.


"Apa ini?" Ucap Ivanka memperhatikan informasi yang dikirim oleh Elsa.


Dia mengerutkan keningnya beberapa saat sampai akhirnya dia menutup ponselnya dan perempuan itu cepat-cepat meninggalkan klinik kecantikan lalu mengendarai sebuah mobil untuk pergi ke rumah sakit.


'Jadi kecelakaan yang menimpanya juga bukan kecelakaan biasa, kalau begitu apa yang terjadi?' ucap Ivanka dalam hati yang merasa begitu aneh bahwa satu persatu orang yang berhubungan dengan Ivanka kini telah mengalami kecelakaan yang mana kecelakaan itu ialah kecelakaan yang diatur oleh seseorang.


Lebih buruknya lagi bahwa kecelakaan itu bahkan disembunyikan oleh pihak kepolisian sehingga membuat Adela merasa yakin bahwa orang yang berada Di balik semua itu memiliki kekuasaan yang cukup tinggi untuk melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2