
Setelah mendapatkan tanda pengenal sang polisi, maka Ivanka kemudian meninggalkan rumah sakit dan perempuan itu pergi ke kantor polisi sesuai dengan yang tercatat pada kartu pengenal yang ia ambil.
"Permisi," ucap Ivanka pada salah satu petugas di kantor polisi yang saat itu tengah sendirian berjaga.
Apalagi saat itu ialah jam makan siang, jadi beberapa polisi sedang izin untuk makan siang dan hanya satu orang saja yang bertugas berjaga.
"Ya, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang polisi sembari memperhatikan Ivanka.
"Ya," ucap Ivanka sembari membuka tas kecil miliknya, lalu dia kemudian menyerahkan sebuah flashdisk pada polisi itu.
"Saya mendapat kiriman ini dari seseorang yang tidak saya kenal, dan bersamaan dengan flashdisk ini, ada sebuah pesan yang mengancam Jadi saya takut untuk membukanya sendirian dan memutuskan untuk datang kemari," ucap Ivanka dengan raut wajah yang sedih serta suara yang juga mengandung ketakutan.
Sang polisi yang melihat itu benar-benar mengerti akan perasaan Ivanka sehingga dia kemudian langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, biar aku yang memeriksanya, kau boleh duduk di situ dan menunggu," ucapkan polisi langsung dijawab anggukan kepala Ivanka sehingga Ivanka kemudian duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Sang polisi yang ada di sana kemudian menyambungkan flashdisk tersebut dengan komputernya sampai akhirnya dia melihat ada sandi untuk membukanya, lalu dia kemudian memanggil Ivanka.
"Ini memakai sandi," ucap sang polisi itu langsung membuat Ivanka mengulurkan kepalanya menatap layar komputer sang polisi.
"Ahh,, ya, dia memberitahuku di catatannya," kata Ivanka mengeluarkan catatan palsu dari tasnya lalu menyerahkannya pada sang polisi.
Polisi itu mengambil catatannya dan memasukkan nomor kode yang ada pada catatan itu lalu menekan enter.
Clek!
"Ini,, jangan-jangan flashdisk ini mengandung virus," ucap Ivanka sangat mengejutkan sang polisi hingga polisi itu kemudian berdiri dengan panik.
"Tunggulah di sini, aku akan memeriksanya ke belakang," ucapkan polisi langsung membuat Ivanka langsung duduk di depan komputer lalu dia kemudian menyalakan komputernya dan memasukkan ID pada kartu milik polisi yang ia curi dan mendapatkan beberapa informasi yang ia butuhkan.
Setelah mendapatkannya, Ivanka kemudian menyimpan informasi itu dalam satu flashdisk lain yang ia bawa lalu dia kemudian berpura-pura duduk dengan cermat sembari memperhatikan tempat itu dan tersenyum ke arah CCTV yang telah mati.
__ADS_1
"Hm, dengan bantuan banyaknya kehidupanku kau mah aku jadi lebih mudah menjalani kehidupan ini. Hah,,, masalah ini hanya perkara kecil," ucap Ivanka sembari menoleh ke arah polisi yang kini sudah datang dari dalam.
"Memang ada masalah pada flash disk yang diberikan padamu ke rumah sepertinya ada virus di sana dan disengaja diberikan padamu untuk menghancurkan sesuatu pada laptopmu. Hah,, aku benar-benar ceroboh, ini akan membuat sesuatu yang menjadi sangat buruk," ucap polisi itu langsung membuat Ivanka berdiri dan menunduk pada sang polisi.
"Saya sangat minta maaf, ini semua salah saya," ucap Ivanka langsung diangguki oleh sang polisi.
"Kami akan menyelidiki masalah informasi akan isi formulir ini dan serahkan nanti," ucap pria itu langsung membuat Ivanka menganggukkan kepalanya.
"Baik Pak, Saya minta maaf atas masalah yang saya timbulkan untuk anda," ucap Ivanka dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
"Tidak masalah, tapi pesan ini, kami akan menyimpannya untuk penyelidikan berikutnya," ucapkan polisi langsung diangkuti oleh Ivanka lalu Ivanka kemudian duduk di sebuah meja yang disiapkan untuk mengisi formulirnya.
Setelah beberapa menit, Ivanka kemudian pura-pura menerima telepon, "halo? Apa?!!" Ivanka menutup teleponnya dengan buru-buru dan mengambil kertas formulir dan berlari keluar dari kantor polisi dengan salah seorang polisi yang mengejarnya.
Tetapi polisi itu tidak berhasil mengejarnya karena melihat bahwa Ivanka terlalu cepat meninggalkan kantor polisi dan hanya bisa kembali ke dalam untuk mengurus flashdisk yang bermasalah itu.
__ADS_1