Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 10


__ADS_3

Aku melangkahkan kedua kakiku mendekat ke arah pintu rumah. Aku sudah membulatkan tekadku untuk meninggalkan rumah ini jika ayahku masih membiarkan gadis itu tinggal di rumah ini.


Bahkan ia tidak mendapatkan hukuman apa pun setelah apa yang telah ia lakukan. Hatiku benar-benar terasa sakit.


“Kamu benar-benar tidak bisa memaafkannya?” tanya ayahku lagi.


Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutku. Aku menarik koperku semakin menjauh dari mereka. Memang lebih baik aku keluar dari rumah ini dari pada aku tetap tinggal bersama mereka dan kembali diracuni.


Rasa perih pada perut, dada dan tenggorokanku masih bisa kuingat dengan jelas. Tinggal serumah dengan dua ular beludak itu tentu adalah cara tercepat menuju kematian.


“Sayang! Tidak kamu tidak bisa meninggalkan rumah ini!” Suara ayahku menggelegar begitu aku benar-benar keluar dari pintu dan belum berhenti berjalan sambil menyeret koperku.


“Keluar kalian!”


Aku yakin ayahku membentak dua perempuan yang bahkan rela bersujud di bawah kakinya itu untuk keluar dari rumahku. Lagi pula sejak awal mereka tidak akan pernah masuk ke dalam rumah itu jika aku tidak mengizinkan mereka masuk.


“Putriku sayang.” Ayahku mengejarku dan berjalan tepat di belakangku.


“Ayah sudah mengusir mereka, jadi jangan pergi, ya. Kamu tetap di rumah ini.”


Kuhentikan langkah kakiku dan berbalik menatap ayahku. Ia tersenyum menatapku, aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Koperku kuserahkan pada pembantu di rumahku untuk dibawa kembali ke dalam kamarku.


“Tolong jangan usir kami.” Ibu Lucy datang ke ayahku untuk memohon-mohon.


Wanita itu kembali bersujud, tidak peduli gaun indah yang ia gunakan kotor oleh tanah. Ia bahkan hampir mencium sepatu ayahku, tapi ayahku langsung mendorongnya mundur.


“Tidak! Aku harus memberikan kalian pelajaran dengan benar supaya kalian tahu mana langit mana bumi. Kalian sudah berani mengusik putriku, jadi kalian harusnya siap menerima konsekuensinya.”


Ayahku memegang tanganku dan berjalan tanpa memedulikan ibu Lucy yang terduduk di atas tanah sambil terus menerus memohon agar tetap dibiarkan tinggal.


Berbeda dengan ibunya yang memohon-mohon untuk tidak diusir dari rumah ini, Lucy justru tidak melakukan apa pun. Ia masih di dalam rumah, duduk di atas sofa ruang tamu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Apa yang kau tunggu? Kenapa masih di sini?” kata ayahku sinis.


Lucy menatap datar ke arahku dan ayahku, setelahnya ia berjalan ke kamarnya. Aku hanya bisa menatapnya heran.


Kembali kutatap ayahku yang wajahnya semakin mengeras setelah melihat sikap tidak sopan Lucy barusan.


“Berhenti kau di sana!” teriak ayahku.


“Kalian keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun kecuali pakaian yang kalian kenakan saat ini.”


Tidak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ayahku, Lucy tetap melanjutkan perjalanannya ke kamar.


Tentu saja ayahku tidak membiarkan gadis itu melakukan apa pun semaunya. Ia menyuruh pembantu-pembantu yang bekerja di rumahku untuk menyeret Lucy dan ibunya keluar dari rumah ini.


“Tidak! Tidak!”


Gadis itu baru bersuara ketika para pembantu di rumah ini menyeretnya keluar.


“Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Kalian tidak bisa mengeluarkanku dari rumah ini!”

__ADS_1


Ia menatapku penuh permusuhan ketika ia melewatiku dan ayahku. Ia tidak menyembunyikan kebenciannya padaku.


“Kau akan membayar untuk semua ini, Alicia!”


Seolah tidak tahu situasinya saat ini, Lucy justru memaki-makiku yang membuatnya diusir hari ini. Ayahku yang kesal karena ulahnya, hanya bisa memijat pangkal hidungnya.


Kulepaskan pegangan tangan ayahku. Aku berjalan mengikutinya yang diseret keluar dari rumah ini.


Plak!


Sebuah tamparan lagi-lagi melayang di pipinya. Pipinya yang memang sudah memerah dan bengkak, kini pasti terasa makin perih karena tamparanku barusan.


“Apa yang baru saja kau lakukan!”


Ibu Lucy datang dengan gaun kotor penuh dengan debu dan tanah. Ia mendorongku yang baru saja menampar Lucy.


Brukk!!


Aku terjatuh dengan bagian bokongku lebih dulu menyentuh lantai. Bagian belakang kepalaku tidak sengaja menabrak sudut pintu yang ada di belakangku.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya ibu Lucy sambil memeriksa keadaan Lucy yang baru saja kutampar.


“Apa kau sudah gila?” suara ayahku menggelegar di dalam rumah. Suaranya bahkan lebih besar dari sebelumnya.


Ia terdengar sangat marah dengan apa yang baru saja ibu Lucy lakukan padaku.


“Alicia! Kamu tidak apa-apa? Cepat panggil ambul-. Tidak. Cepat siapkan mobil sekarang.”


Aku merasakan bagian belakang kepalaku terasa nyeri.


Sesuatu tampaknya menetes membasahi bagian belakang kemeja yang sedang kukenakan saat ini.


“Cepat!”


Ayahku mengangkat tubuhku. Ia menggendongku keluar dari rumah.


Ia berhenti sebentar untuk melihat Lucy dan ibunya.


“Aku tidak ingin melihat wajah kalian di rumah ini lagi.”


Seolah sadar dengan apa yang baru saja terjadi, ibu Lucy segera mendekati ayahku untuk kembali memohon.


“Aku tidak sengaja. Itu kecelakaan.”


Ayahku menendang tubuh wanita itu agar tidak mendekatinya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sopir.


“Kamu harus tetap sadar sayang.”


Pandanganku mulai memburam, tampaknya sesuatu yang buruk baru saja terjadi padaku.


“Cepat jalan!” kata ayahku begitu kami telah berada di dalam mobil.

__ADS_1


“Pergi ke rumah sakit terdekat.”


Aku kini sadar bahwa cairan yang menetes sejak tadi membasahi kemeja bagian belakangku adalah darahku. Tampaknya bagian belakang kepalaku telah terluka setelah menghantam sudut pintu.


“Apa aku akan mati, ayah?”


“Tidak, sayang. Tidak. Kamu akan baik-baik saja setelah kita tiba di rumah sakit.”


Ekspresi panik dari ayahku membuatku yakin bahwa kondisiku saat ini benar-benar tidak baik-baik saja. Meskipun buram, aku tetap bisa mengetahui bahwa ayahku sangat cemas dengan keadaanku saat ini.


“Aku mengantuk.”


“Kamu harus tetap sadar. Kita sebentar lagi sampai.”


***


Kami tiba di rumah sakit tidak lama kemudian. Ayahku segera membawaku turun dan membaringkanku di atas brangkar dibantu oleh beberapa petugas di IGD.


“Huekkk!”


Aku muntah. Semua isi lambungku menyemprot keluar.


Aku bisa melihat orang-orang di sekitarku mulai memberikan pertolongan pertama padaku.


“Bagaimana ini? Alicia-“


Ayahku yang terus mendampingiku sejak tadi, semakin panik begitu tubuhku semakin melemas.


Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang ia katakan. Kesadaranku semakin menurun. Tidak lama kemudian, aku tidak sadarkan diri. Satu-satunya yang kuingat sebelum aku tidak sadarkan diri adalah ketika ayahku diarahkan untuk mundur, lalu beberapa petugas di IGD mengerumuniku.


***


“Alicia Anderson, kau benar-benar bodoh, ya?”


Aku menatap ke arah Lucy yang tengah tersenyum sambil menggandeng lengan Timothee.


Di depan mereka ada aku yang tengah menatap keduanya dengan ekspresi sangat terluka. Air mata telah membasahi kedua pipiku.


‘Ini adalah kehidupan pertamaku sebelum waktu diputar kembali,’ batinku.


“Maaf, ya, kak.”


Dor! Dor!


Dua timah panas menembus dadaku. Darah menguncur deras dari tempat kedua timah itu bersarang.


Aku menatap ke tubuhku saat ini, bukan pada tubuhku yang telah tersungkur di depan mereka dengan tubuh bersimbah darah. Dadaku terasa sangat nyeri, darah menguncur deras dari dadaku. Aku ingat dengan jelas bahwa ini adalah rasa sakit yang kurasakan ketika kedua timah panas itu sudah bersarang di dadaku.


“Uhuk... Uhuk.. Hoekk..”


Aku memuntahkan darah. Pandanganku mulai memburam. Aku pun jatuh tersungkur, sama seperti terakhir kali ketika Timothee selesai menembakkan dua timah panas ke dadaku.

__ADS_1


“Alicia sayang, kamu masih belum mengerti situasi saat ini? Apa kamu terlalu naif atau terlalu bodoh? Sejak awal kami tidak pernah menyukaimu. Aku hanya memanfaatkanmu selama ini.”


Suara Lucy terdengar sebelum aku kehilangan kesadaranku. Semua perkataan dan ekspresinya sama persis dengan yang kuingat terakhir kali sebelum kematianku.


__ADS_2