Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 8


__ADS_3

“Dia juga baru-baru ini meminta untuk dijodohkan dengan putra kedua dari keluarga Jordan.”


Aku melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis j4l4ng itu katakan.


“Astaga! Dia benar-benar tidak tahu diri.”


“Bisa-bisanya dia minta dijodohkan dengan putra dari keluarga Jordan!”


“Kalau itu putra kedua dari keluarga Jordan, itu berarti adiknya Pak Alexander.”


Lucy menampakkan wajah sedih pada teman-teman sepergosipannya itu. Aku menatap mereka tidak percaya.


Segera kuhentikan aksi merekam video yang tengah kulakukan. Aku mengirimkannya kepada Ayahku dengan segera dan meminta bantuannya karena gadis tidak tahu diri itu tengah menyebarkan rumor buruk tentangku.


Aku menambahkan bahwa aku telah dirundung dengan sangat parah di kampus karena rumor buruk itu. Meskipun aku belum merasakan dampaknya saat ini, tapi di kehidupanku yang ketiga, aku sampai dirundung karena rumor itu.


Tidak tahan dengan omong kosong yang ia sebarkan sejak tadi. Aku masuk dengan mendobrak pintu ruang kelas yang tengah mereka gunakan saat ini.


BRUKKK!


“Omong kosong apa yang tengah kamu bicarakan!”


Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi terkejut mereka, terutama Lucy. Tapi mereka langsung mengubah ekspresi mereka seakan-akan berpikir seluruh kekuasaan ada di dalam genggaman mereka saat ini. Padahal mereka sudah berpegang pada tali yang salah.


“Omong kosong apa? Bukannya kamu memang anak angkat, kan Lucy?”


Lucy terdiam tidak menjawab. Ia menampilkan ekspresi penuh permohonan padaku untuk tidak melanjutkan keributan itu lagi.


‘Ah, bodoh sekali aku yang dulu sangat percaya dan menyayangi ular satu ini.’


Ekspresi memelasnya itu sayangnya sudah tidak memberikan efek apa-apa untukku. Aku sadar bahwa jika terjadi pertengkaran antara aku dan dia di depan Ayahku sekali pun, Ayahku akan tetap membelaku karena aku adalah darah dagingnya. Meskipun itu tidak berlaku jika hal itu menyangkut bisnis miliknya.


“AHHHH!!”


“Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu tidak takut dia akan melaporkannya pada Ayahnya?”


Aku menarik rambut Lucy dengan sekuat tenaga. Tidak apa citraku hancur di mata semua orang. Toh, pada akhirnya aku akan dirundung dan tidak ada seorang pun yang merasa kasihan dengan nasibku.

__ADS_1


“Siapa yang kamu maksud Ayah gadis tidak tahu diri ini?”


Kutinggikan nada suaraku menantang mereka yang ada di situ.


Orang-orang dari luar bisa mendengar suara keributan yang kami buat. Beberapa bahkan sudah mulai berkumpul untuk menyaksikan pertengkaran kami.


“Tentu saja Tuan Anderson, pemilik dari AB Company. Kamu yang hanya anak pungut pasti akan ditendang setelah ia mengetahui hal ini.”


Mereka mencoba menolong Lucy yang semakin kesakitan karena genggaman tanganku di rambutnya makin menguat. Aku tidak membiarkan mereka begitu saja, aku menendang mereka sampai mereka terjatuh.


“Wah, parah sekali. Ternyata dia hanya anak angkat tapi kelakuannya seperti ini!”


“Jadi, Lucy anak kandung keluarga Anderson dan Alicia hanya anak angkat?”


“Kupikir dia adalah anak kandung karena ia bisa berjalan ke mana pun dengan menggunakan nama keluarga Anderson.”


Tidak tahan mendengar ocehan tidak masuk akal dari orang-orang di sekitarku. Aku mendorong Lucy hingga ia jatuh tersungkur di atas lantai.


PLAK!


Pipi kirinya memerah karena tamparanku.


Orang-orang yang sejak tadi terus mencemoohku terdiam begitu mendengar nada suaraku semakin meninggi. Apalagi aku telah mengatakan fakta yang selama ini selalu disembunyikan Lucy, bahwa ibunya dulu hanyalah gundik Ayahku.


“Tidak tahu diri sekali kau yang sudah menumpang di dalam rumahku mengatakan bahwa aku bukan anak kandung Ayahku!” Jari telunjukku kuacungkan pada Lucy yang hanya diam membatu tidak bisa berucap apa-apa sejak kemunculanku.


“Asal kalian tahu ya, dia itu tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Ayahku meskipun ibunya dulu adalah gundik Ayahku. Ibunya dulu sempat menjadi pelacur di bar sebelum masuk ke rumahku. Siapa Ayahnya? Memangnya pelacur hanya tidur dengan satu atau dua laki-laki?”


Suasana semakin memanas. Kebenaran tentang ibunya adalah seorang pelacur tidak bisa kupastikan. Aku hanya pernah tidak sengaja mendengarnya dulu saat para pembantu di dalam rumahku tengah bergosip.


“Wah! Parah sekali.”


“Ternyata kamu itu...”


Orang-orang yang sejak tadi memihak Lucy berbalik menyerang gadis itu. Aku hanya tersenyum miris melihatnya yang sangat haus akan validasi sampai mengorbankan diriku.


“Ah, satu lagi,” kataku.

__ADS_1


“Aku sudah mengirimkan bukti bahwa kamu telah menyebarkan rumor buruk tentangku di kampus ke Ayahku.”


Wajah Lucy semakin memucat. Ia yang sajak tadi jatuh terduduk, tidak kunjung bangun dari posisinya di atas lantai.


“Kita lihat saja, setelah ini kau masih akan berada di dalam rumahku atau tidak.”


Setelah berbicara seperti itu, aku berjalan membelah kerumunan dan pergi dari sana. Aku tidak tahan berada dalam kerumunan orang-orang munafik itu lebih lama lagi.


Drrtt.... Drrtt....


Ponsel di dalam genggamanku bergetar. Aku menyalakannya dan tersenyum melihat pesan balasan yang kuterima.


“Lancang sekali dia berbuat seperti itu pada putriku. Tenang saja, Sayang, Ayah akan membalasnya setelah ini.”


Bruk!


Aku hampir saja terjatuh karena menabrak seseorang ketika asyik membaca pesan yang dikirimkan oleh Ayahku barusan.


Kuangkat wajahku untuk menatap sosok yang baru saja kutabrak. Aku ingin sekali menampilkan wajah permusuhan dengan sosok di depanku saat ini saat aku tahu siapa yang baru saja kutabrak, tapi aku tidak bisa melakukannya mengingat ia masih berstatus dosen di fakultasku dan aku adalah mahasiswa.


Alexander menatap datar wajahku. Seakan-akan menunggu sesuatu, ia belum kunjung beranjak dari posisinya di depanku dan terus menatap datar ke arahku.


“Maaf, Pak.”


Setelah aku meminta maaf, barulah laki-laki itu melanjutkan perjalanannya. Aku menatap kesal ke arah punggungnya yang mulai menjauh dariku.


‘Apa benar aku harus memutuskan hubunganku dengan Timothee dan memilih berpegang pada laki-laki seperti dia? Keberadaannya saja sudah cukup menyebalkan. Tapi apa aku punya jalan lain?’ batinku.


“Kamu lihat apa?”


Suara Giovano dari arah berlawanan dengan Alexander mengejutkanku. Aku berbalik dan menatap datar laki-laki itu. Dia hanya cengengesan setelah kutatap seperti itu.


“Ini tasmu.”


Aku tersenyum sambil menerima tasku yang dibawakan olehnya dari ruang kelas. Entah dari mana ia tahu kalau aku ada di sini. Padahal jarak kelas yang kami tempati untuk kuliah siang ini cukup jauh dan berada di lantai yang berbeda dengan koridor kelas yang saat ini kutempati.


“Kamu tahu dari mana aku di sini?”

__ADS_1


Ia hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Laki-laki itu tidak menjawab dan memilih berlalu dari hadapanku.


Aku juga tidak ambil pusing dan ikut berjalan di belakangnya. Lagi pula aku juga tidak memiliki tujuan lain hari ini.


__ADS_2