Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 34


__ADS_3

Aku duduk di ruang tamu sambil menunggu ayahku datang. Ponselku terus bergetar sejak tadi. Timothee tampaknya sangat gelisah sampai terus menghubungiku berulang kali. Tapi aku mengabaikannya.


Tentang masalah yang menghebohkan semua orang hari ini, aku belum tahu pasti. Aku hanya tahu tentang kasus percobaan pembunuhan dengan racun yang dilakukan oleh pembantu rumahku. Pembantu yang disetir oleh Lucy dan ibunya.


“Apa aku harusnya mencari tahu saja?” gumamku bimbang.


Di dalam hatiku, aku benar-benar penasaran. Tapi ada sebagian di dalam hatiku yang ragu. Aku tampaknya belum terlalu mengikhlaskan semuanya termasuk perasaanku pada Timothee di kehidupan sebelumnya.


“Ini adalah hal yang memang harus kuhadapi.”


Aku menggulirkan layar ponselku mencari berita tentang Lucy dan Timothee. Tapi yang kudapatkan pertama kali adalah berita penangkapan Lucy dan ibunya oleh pihak kepolisian karena percobaan pembunuhan terhadapku.


Aku kembali menggulirkan layar ponselku untuk mencari berita tentang keduanya. Tampaknya hidup Lucy benar-benar hancur kali ini.


Kedua mataku membelalak begitu aku menemukan berita keduanya. Mulutku menganga tanpa ada suara yang keluar. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lakukan.


“Apa-apaan ini?!” teriakku.


Kubuka situs berita yang menampilkan gambar Lucy yang tengah melakukan swafoto sambil memegang selimut untuk menutupi tubuhnya yang mungkin telanjang. Di sebelahnya ada Timothee yang sedang tertidur pulas dengan bertelanjang dada. Bagian bawah laki-laki itu ditutupi oleh selimut.


Aku tertawa hambar dengan sangat keras ketika membaca berita dari situs itu. Lucunya, foto itu justru diunggah oleh Lucy di akun media sosialnya sendiri. Tampaknya keduanya telah sangat dekat bahkan berhubungan seperti di kehidupan sebelumnya. Mereka bahkan telah menghabiskan malam bersama.


“Ternyata aku tidak perlu mencari-cari kesalahan kalian untuk memutuskan pertunangan ini. Kalian pun tidak ingin menyembunyikannya dari siapa pun.”


Drrrtt.... Drrrtt...


Ponselku kembali bergetar. Amarah di dalam benakku rasanya tengah mendidih dan menunggu untuk kumuntahkan begitu melihat nama Timothee pada layar ponselku.


“Untuk apa lagi kamu menghubungiku? Belum puas dengan apa yang telah kau lakukan dengan Lucy?!” Aku membentak laki-laki itu.


“Itu salah paham.”

__ADS_1


Aku kembali tertawa miris. Bahkan di kehidupanku yang ke sekian kalinya, laki-laki itu tetap mengkhianatiku. Ia tetap berhubungan dengan Lucy sama seperti di kehidupan sebelumnya, meskipun gadis itu telah hidup melarat.


“Salah paham apanya?! Pantas saja kamu selalu membela Lucy saat berbicara denganku, rupanya...”


Tidak ingin mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya lebih lama lagi, aku pun mengakhiri panggilan teleponnya. Tidak hanya itu, aku juga memblokir nomor ponsel dan semua akun sosial media miliknya agar aku bahkan tidak akan pernah melihat wajahnya melintas di beranda sosial mediaku, sekaligus memperkecil kemungkinan ia akan menghubungiku.


“Seharusnya aku melakukan ini sejak awal. Benar-benar menjijikkan! Bahkan setalah waktu terus diputar kembali berulang kali, kalian tetap sama busuknya.”


***


Cukup lama aku menunggu ayahku. Laki-laki itu tampaknya cukup sibuk hari ini. Perutku bahkan sampai keroncongan.


Aku bisa saja meminta dibuatkan makan siang oleh pembantu yang bekerja di rumahku. Tapi semenjak kasus percobaan pembunuhan tempo hari, aku jadi meragukan semua makanan dan minuman yang disajikan pembantu di rumahku.


Kuambil ponselku yang sebelumnya kuletakkan dengan kasar di atas meja. Aku menggulirkan layarnya mencari makanan yang bisa kupesan secara online. Tidak mempercayai pembantu di rumahku bukan berarti aku tidak bisa makan apa pun. Masih banyak pilihan yang disajikan di dunia modern saat ini.


“Mau makan apa ya?” gumamku sambil terus menggulirkan layar ponselku.


***


Ding... Dong...


Bel rumahku berbunyi. Tanpa pikir panjang, aku segera keluar dari dalam rumahku untuk mengambil pesananku.


Senyuman yang tadinya mengembang di wajahku karena mengira makananku telah sampai, langsung sirna begitu aku melihat Timothee berdiri di depan rumahku. Laki-laki itu tampaknya tidak kehabisan akal untuk berkomunikasi denganku.


“Iyuh!”


Aku berekspresi jijik begitu melihatnya. Segera kututup kembali pintu rumahku. Aku tidak ingin melihatnya lebih lama lagi.


Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Timothee segera menarik gagang pintu dan menghalangi pintu dengan kakinya agar tidak tertutup. Tenaganya yang lebih besar dibandingkan denganku membuat pintu terbuka lebih lebar dengan cepat meskipun aku sudah berusaha untuk menutupnya.

__ADS_1


Aku menatap nyalang ke arahnya yang tampak tidak tahu malu sama sekali.


“Mau apa kamu ke sini?! Kamu itu tidak diterima di sini!” kataku membentak sambil mendorong tubuhnya dan kembali berusaha menutup pintu.


“Kita harus bicara,” katanya sambil mencoba membuka pintu selebar mungkin.


Tidak kehilangan akal, aku pun berteriak memanggil satpam yang bekerja di rumahku. Aku menyuruh mereka untuk mengusirnya. Tentu saja mereka mengikuti perintahku yang merupakan putri dari orang yang selalu menggaji mereka setiap bulan.


Laki-laki itu diseret dengan paksa keluar dari pekarangan rumahku. Aku bahkan melihatnya didorong oleh satpam ketika sudah berada di luar pagar.


Kasihan? Tidak sama sekali. Lagi pula ia juga tidak pernah memikirkan perasaanku ketika ia berselingkuh. Parahnya lagi, ia berselingkuh dengan orang yang baru saja menyuap pembantu di rumahku untuk meracuniku.


“Jangan biarkan dia masuk ke sini satu langkah pun!” bentakku.


Aku pun kembali menutup pintu dengan kasar. Perasaanku menjadi sangat buruk karena bertemu dengannya. Aku bahkan melupakan rasa lapar yang terus menggerogotiku sejak tadi.


Ding... Dong...


Belum jauh aku melangkah dari pintu, bel rumahku kembali berbunyi. Tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang, aku pun memeriksa orang yang ada di balik pintu melalui jendela.


Meskipun aku sudah menyuruh satpam untuk tidak membiarkan laki-laki itu masuk ke rumahku, tapi tetap saja masih ada rasa khawatir di benakku. Aku baru bisa bernapas lega ketika melihat sosok yang berada di balik pintu rumahku mengenakan seragam dari restoran pizza yang sebelumnya kupesan. Tampaknya ia datang membawa makan siangku.


Ceklek!


“Wahh!” Wajahku berbinar menyambut sekotak pizza yang berada tepat di depan pintu rumahku.


Aku menerimanya dengan penuh rasa sukacita. Perutku yang tadi seolah berhenti berbunyi karena kehadiran Timothee, kini kembali bergemuruh. Aku mengucapkan terima kasih dan kembali menutup pintu rumahku. Tentu saja setelah aku membayar makanan yang kupesan sebelumnya.


“Dalam keadaan apa pun, memang harus tetap makan,” gumamku sambil membawa pizza tersebut menuju ruang makan.


Pembantu di rumahku datang dengan segera ingin membantuku, tapi aku kurang mempercayai mereka. Aku pun lebih memilih untuk menyajikan makananku sendiri dibandingkan dengan bantuan mereka. Aku takut akan kembali diracuni seperti terakhir kali. Lagi pula tidak ada salahnya untuk selalu bersikap waspada, meskipun aku sudah melihat berita penangkapan Lucy dan ibunya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya, meskipun dua orang itu sudah ditahan dan mendekap di dalam penjara.

__ADS_1


__ADS_2