
Cukup lama aku duduk menunggu teman-teman satu kelompokku yang lain. Aku sesekali melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Tapi tidak kunjung ada yang datang. Seorang pun dari mereka tidak ada yang datang.
Hanya ada aku dan Giovano di ruang tamu. Laki-laki itu tengah sibuk dengan ponselnya sedari tadi.
“Yang lain kok belum datang?” tanyaku.
Giovano yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya melirik ke arahku. Ia menghentikan kegiatannya bermain ponsel.
“Coba tanya sama mereka,” katanya.
“Aku tidak punya kontak mereka.”
Laki-laki itu melongo. Ia menatapku tidak percaya, seakan-akan apa yang kukatakan adalah sesuatu yang aneh.
“Kok bisa kamu tidak punya kontak teman seangkatan sendiri? Jangan bilang kamu bahkan tidak bergabung di grup obrolan angkatan?”
Aku hanya terdiam menatapnya. Aku mengambil ponselku yang sebelumnya kuletakkan di atas meja. Aku mencari grup obralan angkatan yang dimaksud Giovano.
“Ada ternyata,” kataku ketika menemukan grup obrolan yang berisi teman-teman seangkatanku.
Laki-laki itu terbahak-bahak.
“Seapatis itu kamu sampai tidak tahu kalau ada grup angkatan? Jangan bilang kamu bahkan tidak pernah mengeceknya?!”
Aku mengabaikan pertanyaan Giovano dan mengirimkan pesan pada teman-teman satu kelompokku. Tapi kudapatkan hanyalah ketidakpastian. Pada akhirnya kegiatan kerja kelompok yang telah kami rencanakan sebelumnya harus dibatalkan.
Aku segera merapikan barang bawaanku dan bersiap-siap untuk pulang. Tidak lupa, aku juga menghubungi Timothee agar dia menjemputku sesuai janjinya.
“Sudah mau pulang?” tanya Giovano.
“Iya.”
“Mau kuantar?” tawar laki-laki itu.
“Tidak usah. Tunanganku akan menjemputku.”
Laki-laki itu tertawa hambar. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
__ADS_1
“Kamu sudah jarang main sama aku semenjak kamu bertunangan.”
Aku mengerutkan keningku menatap laki-laki itu. Aku memberinya sorot heran. Aku dan dia memang berteman, cukup dekat, tapi laki-laki itu tidak pernah masuk dalam urutan prioritasku. Aku pun tidak memiliki kewajiban untuk selalu menemaninya bermain tiap saat.
“Kamu kayaknya jadi aneh setelah putus sama pacarmu yang kemarin. Cari pacar baru lagi sana! Katamu kan banyak yang mau sama kamu.”
Aku hendak berjalan keluar dari rumah laki-laki itu, tapi Giovano justru menghalangiku. Aku ingin melewatinya, tapi ia terus mengikuti arah pergerakanku. Hal itu benar-benar menyusahkanku yang ingin segera pulang.
“Bagaimana denganmu? Kamu tidak mau?” tanyanya.
Reaksi yang pertama kukeluarkan adalah ekspresi tidak percaya dan geli dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Aku bahkan tidak peduli ia tersinggung atau tidak dengan reaksiku barusan.
“Kau sudah gila? Aku tidak mungkin mau. Aku tidak tertarik denganmu dan leluconmu. Lagi pula, aku juga sudah memiliki tunangan.”
“Bagaimana kalau kamu tidak memiliki tunangan?” tanyanya lagi.
Aku tertawa hambar mendengar pertanyaannya. Itu adalah pertanyaan tergila yang pernah ia lontarkan padaku. Aku bahkan tidak pernah membayangkan laki-laki itu akan melontarkan pertanyaan seperti itu padaku.
“Tidak. Tetap tidak. Aku tidak tertarik denganmu. Bahkan jika hanya tinggal kamu satu-satunya laki-laki yang tersisa di muka bumi ini, aku tidak akan mau. Sudahi saja leluconmu ini!”
Aku menggeser tubuhnya sekuat tenaga, lalu berjalan melewatinya. Aku tidak begitu memperhatikan ekspresi apa yang dia tunjukkan ketika aku mengatakan hal itu.
Berhadapan dengan pria seperti Timothee saja sudah cukup merepotkanku. Apalagi aku harus berhadapan dengan pria sepertinya.
“Dia tampaknya benar-benar sakit sekarang,” gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
***
“Kamu benar-benar ingin langsung pulang setelah ini?” tanya Timothee tanpa melirik ke arahku sama sekali.
Laki-laki itu tengah mengemudikan mobilnya untuk mengantarku pulang dari rumah Giovano.
“Iya,” jawabku.
“Kamu tidak ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganku? Mungkin sekedar berkeliling atau berbelanja? Atau menonton mungkin?” tawarnya.
Tidak perlu banyak pertimbangan, bahkan tidak perlu mempertimbangkan tawarannya itu sama sekali. Aku langsung menolaknya. Sebisa mungkin aku membatasi pertemuanku dengannya selain ketika ia ingin mengantarku pergi atau menjemputku.
__ADS_1
“Tidak. Aku terlalu lelah hari ini. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari. Aku ingin segera bertemu dengan tempat tidurku dan beristirahat.”
Laki-laki itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
“Ini bukan karena kamu tidak ingin lebih dekat denganku bukan? Selama ini, selain mengantarmu pergi dan pulang, kita tidak pernah bertemu dan pergi bersama.”
Aku hanya tertawa, tapi tidak ingin menjawabnya. Aku ingin membiarkannya lebih gelisah lagi saat ini. Tapi aku tidak ingin terang-terangan menyinggungnya seperti terakhir kali. Aku sadar bahwa meskipun ia bukanlah pewaris dari JJ Group, statusnya sebagai anak dari keluarga Jordan membuat keinginannya menjadi salah satu bahan pertimbangan keputusan orang tuanya. Tidak heran mereka menarik semua investasi yang telah mereka tanam di perusahaan ayahku saat aku menyinggungnya.
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut antara aku dan Timothee setelahnya. Aku hanya terdiam menatap keluar jendela, sementara Timothee terdiam sambil memperhatikan jalan di depannya sekaligus sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri.
Sesekali ia memperlihatkan gerak gerik gelisah. Aku hanya tersenyum tipis melihat kegelisahannya itu.
‘Aku bahkan belum memulainya, tapi kau sudah seperti ini,’ batinku.
Drrrt... Drrrt...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Tertera nama Alexander di sana. Aku segera membukanya.
‘Dari Alexander:
Kau benar. Bagaimana pun, aku akan tetap kembali padamu.’
Aku tersenyum membaca pesan singkat yang dikirimkan laki-laki itu padaku. Tampaknya sesuatu yang buruk telah terjadi antara dia dan tunangannya. Sesuatu yang benar-benar tidak termaafkan dan memutus pertunangan mereka.
‘Kan sudah kukatakan padamu sebelumnya. Tapi tentu sekarang tidak akan mudah bagimu,’ batinku.
“Siapa?” tanya Timothee penasaran.
“Hanya operator seluler,” jawabku bohong.
Laki-laki itu melirikku dengan tatapan tajam penuh rasa curiga. Tapi aku mengabaikannya. Aku lebih memilih memperhatikan jalan yang kami lalui dibandingkan harus meluruskan kesalahpahaman yang berada dalam kepalanya saat ini.
Aku menunduk menahan tawa sekuat tenaga ketika aku mendengar helaan nafas penuh rasa frustasi darinya. Aku kembali mengangkat wajahku ketika aku selesai mengatur ekspresiku agar ia tidak tersinggung.
Hanya ada kesunyian di antara kami sampai aku tiba di rumahku. Aku mengucapkan terima kasih dan turun dari mobilnya. Ia benar-benar tampak sebatas sopir yang mengantarku pergi ke mana pun saat ini. Tidak ada keromantisan yang terjalin antara kami karena aku berusaha untuk menolak semuanya.
“Aku tidak dengan bodohnya akan jatuh cinta lagi padamu seperti sebelumnya,” kataku sambil menatap mobil Timothee yang menjauh dari rumahku dan hilang di sudut jalan.
__ADS_1
Laki-laki itu pergi dengan banyak kegelisahan yang tergambar jelas pada raut wajahnya.