Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 12


__ADS_3

“Bagaimana jika itu bukan Timothee?” tanyanya lagi.


Aku masih terdiam dan bingung dengan tingkah laki-laki itu saat ini.


Bagaimana jika aku yang memilih dijodohkan denganmu? Apa kamu akan tetap menerimanya?”


Aku melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan Alexander. Semua itu terdengar terlalu mendadak dan membuatku kebingungan.


Ia mengatakannya seakan-akan telah memendam perasaan padaku sejak lama. Seolah-olah ia membenci perjodohanku dengan Timothee karena tidak suka aku dijodohkan dengan laki-laki lain.


“Apa maks-“


Ceklek!


Pintu kamar terbuka sebelum aku kembali mempertanyakan maksud pembicaraan laki-laki itu.


Timothee masuk dengan wajah sumringah.


“Katanya sudah boleh makan. Tapi makanannya nggak boleh dari luar, nanti pihak rumah sakit yang sediakan. Soalnya makanannya memang dibuat sesuai dengan pertimbangan kondisi pasien.”


Aku mengangguk-angguk mendengar perkataan Timothee. Aku sekali-kali curi pandang ke arah Alexander yang enggan melihat ke arahku.


Aku masih penasaran, tapi tidak mungkin aku bertanya saat Timothee ada di sini.


***


Sampai keduanya pulang, aku tidak pernah bertanya tentang maksud dari ucapan Alexander. Laki-laki itu juga hanya duduk dan tidak melirik ke arahku atau mengajakku berbicara sama sekali. Ia terus bersikap seolah-olah tidak tertarik denganku atau hubunganku dengan Timothee.


Tok..Tok...


“Siapa lagi yang datang sore-sore begini?” keluh ayahku.


Ceklek!


Kulihat Giovano muncul dari balik pintu dengan sebuket bunga yang tidak kalah indah dengan yang dibawa Timothee.


“Ah, permisi, Tuan Anderson,” ucapnya ketika menyadari keberadaan ayahku.


“Iya.”


Ayahku hanya menanggapinya seadanya, berbeda saat Timothee yang masuk sebelumnya.


“Silahkan masuk, Gio,” kataku ramah.


Ayahku biasanya ramah dengan teman-temanku, tidak terkecuali dengan Giovano. Tapi entah mengapa hari ini ia bersikap tidak seperti biasanya.


“Iya.” Laki-laki itu masuk, lalu menutup pintu.


“Aku dengar katanya kamu habis kecelakaan terus dirawat di sini.”

__ADS_1


Aku terdiam sejenak menelaah perkataan Giovano.


“Kecelakaan?” tanyaku heran.


Memang kejadian yang menimpaku bisa dikatakan kecelakaan. Tapi itu semua tidak akan terjadi jika ibu Lucy tidak mendorongku dengan keras.


“Iya.” Laki-laki itu mengangguk membenarkan pertanyaanku barusan.


“Katanya kamu kecelakaan pas pulang dari kampus, terus dirawat di sini.”


“Uhuk... Uhuk...”


Aku menatap penuh tanda tanya ke arah ayahku yang barusan terbatuk-batuk. Laki-laki itu tidak berani balas menatap ke arahku dan membuatku semakin curiga dengan keanehan dari ucapan Gio.


“Aku tidak pernah kecelakaan,” kataku membantah.


Giovano menatapku keheranan. Apa yang ia ketahui dengan apa yang sebenarnya berbeda, tentu dia akan merasa heran.


“Tapi di berita katanya kamu kecelakaan.”


“Hah?”


Aku melongo mendengarkan perkataan Giovano.


“Mana ponselku? Ayah?”


“Kamu masih sakit. Tidak boleh main hp.”


“Mana ponselku?!”


Aku menjerit mencari ponselku. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Bukan dari orang lain, tapi dari ayahku sendiri.


Laki-laki itu masih terdiam. Ia enggan untuk menyerahkan ponsel milikku.


“Gio, berikan ponselmu!”


Giovano melirik ke arah ayahku. Aku yakin ia membawa ponselnya, tapi ia tidak berani memberikannya karena ayahku.


“Jangan takut. Berikan ponselmu padaku!”


Laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku hoodie yang ia kenakan. Aku langsung merebut ponsel itu dari tangannya.


Aku masuk ke dalam akun media sosial milikku untuk mencari berita tentangku yang beredar di luar sana.


Aku kehabisan kata-kata sewaktu aku menemukan beberapa artikel tentangku.


‘Putri Tertua dari Pemilik AB Company Kecelakaan’


‘Anak Pertama dari Pemilik AB Company Kecelakaan Saat Pulang dari Kampus’

__ADS_1


“Apa-apaan ini?!” jeritku kesal.


“Putri tertua? Anak pertama? Memangnya anak ayah ada berapa?”


Aku menatap kesal dan kecewa ke arah ayahku. Perasaanku campur aduk antara kesal, sedih, kecewa, dan marah. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang diperbuat oleh ayahku di luar sana.


Meskipun artikel-artikel itu tidak dibuat berdasarkan keinginan ayahku, tapi aku cukup yakin bahwa ayahku lebih dari mampu untuk mengubah judul dan isi dari artikel-artikel yang keluar sesuai dengan keinginannya.


“Ini yang ayah bilang sudah menghukum mereka?”


Pipiku mulai terasa basah. Air mata telah membanjiri kedua pipiku.


“Apa ayah tahu kalau dengan ini ayah benar-benar menghancurkanku di luar sana?!” Suaraku semakin meninggi.


Laki-laki itu hanya terdiam. Hal yang membuatku semakin kecewa adalah ketika ia tidak menyangkal semua itu.


Aku kembali menatap layar ponsel yang ada di dalam genggamanku. Aku beralih ke kolom komentar pada artikel-artikel yang telah dirilis itu.


‘Bukannya Alicia bilang dia anak tunggal?’


‘Jadi Alicia dan Lucy memang saudara? Kenapa mereka tidak ingin mengakui satu sama lain?’


Tidak ingin lebih banyak komentar miring tentangku dan Lucy bertebaran. Aku pun memilih untuk mengunggah kabar terbaru tentang keadaanku saat ini.


‘Hai ini aku, Alica Anderson, putri tunggal dari pemilik AB Company.


Pertama-tama aku ingin meluruskan tentang kabar yang beredar di luar sana tentang kondisiku saat ini. Aku tidak kecelakaan saat pulang dari kampus. Melainkan didorong oleh ibu tiriku saat di rumah. Dorongannya sangat keras sampai bagian kepalaku menabrak sudut pintu dan terluka. Setelahnya aku dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan segera.


Aku menulis ini ketika aku baru mengetahui tentang informasi di luar yang beredar tentangku. Aku baru saja sadar hari ini dan baru mengetahui kabar yang beredar di luar sana tentangku.


Dokter mengatakan bahwa aku mengalami geger otak berat sehingga aku tidak sadarkan diri. Aku bahkan sempat muntah-muntah sebelumnya.


Kedua, aku ingin meluruskan tentang Lucy yang juga ikut menjadi bahan pembicaraan di luar sana. Aku dan Lucy memang bersaudara, tapi saudara tiri. Ibunya membawa Lucy masuk ke keluargaku setelah menikah dengan ayahku. Tapi tetap saja, Lucy dan ayahku tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Mungkin beberapa orang akan menyalahkanku setelah merilis tulisan ini. Tapi aku sudah sangat terluka dengan informasi yang beredar di luar sana dan kejadian-kejadian yang terjadi sebelum aku dilarikan ke rumah sakit. Aku harap kalian mengerti.


Sekian dan terima kasih.’


***


Seperti yang sudah kuduga, beberapa artikel baru dirilis usai aku mengunggah tulisan tersebut. Ada banyak komentar yang merasa prihatin dengan kondisiku saat ini, namun masih ada juga yang menghujatku karena menceritakan mengenai Lucy di dalam tulisanku itu.


“Masih untuk aku tidak menyebutkan tentang ibunya yang menjadi gundik atau pelacur di bar,” gumamku sambil membaca kolom komentar.


‘Bukannya Lucy pernah mengatakan bahwa dia anak kandung sedangkan Alicia hanya anak angkat?’


‘Tampaknya Lucy memang ingin menjatuhkan Alicia dengan mengatakan bahwa Alicia adalah anak angkat yang tidak tahu diri?’


‘Bukankah mereka sedang saling menjatuhkan?’

__ADS_1


‘Mereka bahkan sempat bertengkar di kampus kata kenalanku.’


__ADS_2