Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 26


__ADS_3

Aku dan Timothee melangkah memasuki taman hiburan. Aku berbinar menatap semua wahana yang ada di sepanjang lapang penglihatanku.


“Ayo kita naik itu!” Aku menunjuk ke arah wahana roller coaster.


Timothee tidak menolak. Ia mengikuti keinginanku untuk menaiki wahana itu. Kami pun berjalan menuju wahana roller coaster dan mengantre untuk menaiki wahana itu.


“Setelah ini, mau coba wahana yang mana?” tanya Timothee.


Kami masih dalam antrean menuju wahana roller coaster, tapi ia sudah menanyakan akan menuju wahana yang mana setelah ini. Aku terdiam sejenak sambil berpikir.


“Aku mau coba masuk rumah hantu, tapi ini masih siang. Pasti kurang seru.”


“Di dalam akan tetap gelap meski masih siang.” Ia terkekeh.


“Benar juga,” gumamku.


Timothee tampaknya bisa mendengar perkataanku barusan. Suara tawanya makin besar dan menarik perhatian orang-orang di sekitar kami saat ini. Itu adalah kali pertama aku melihatnya tertawa dengan lepas di kehidupan kali ini.


“Sudah giliran kita,” katanya sambil menghentikan tawanya.


***


Kami benar-benar berjalan ke arah wahana rumah hantu setelah menaiki roller coaster. Ini masih siang hari, tapi antrean di depan wahana itu sudah mengular seperti wahana roller coaster. Tidak. Antrean ke wahana rumah hantu bahkan lebih panjang.


“Kau yakin benar-benar akan mencoba ini?”


Aku melirik ke arah Timothee yang tampak ragu ketika kami sudah memasuki antrean menuju wahana itu.


“Iya,” aku tersenyum.


“Apa kau takut?” Aku melirik Timothee dengan tatapan mengejek.


Bukannya menjawab pertanyaanku, laki-laki itu malah kembali tertawa. Ia tampaknya banyak tertawa hari ini. Aku bahkan sempat melongo dibuatnya.


Timothee memang tampan. Ia memiliki rambut bergelombang berwarna cokelat tua dan matanya yang memiliki warna senada. Itu sangat cocok dengannya. Tubuhnya yang kekar dan tinggi membuat ia semakin tampan.


“Kenapa? Apa kau jatuh cinta denganku?” godanya.

__ADS_1


Aku tidak menjawabnya dan hanya tertawa. Aku sudah pernah jatuh cinta padanya sampai mati dengan menyedihkan. Tidak mungkin aku kembali jatuh cinta padanya yang sudah mengkhianati dan membunuhku. Bahkan di kehidupanku yang ketiga, ia hanya melihatku mati keracunan tanpa menolong atau meminta bantuan.


‘Bukankah aku sudah gila jika kembali jatuh cinta pada orang sepertimu?’ batinku.


***


Setelah antrean yang panjang, akhirnya giliran kami untuk memasuki wahana rumah hantu tiba.


“Kau benar-benar yakin akan masuk ke dalam sana?”


“Iya,” kataku dengan sedikit ragu.


Sejujurnya aku bukanlah orang pemberani seperti yang kuharapkan. Tapi aku tidak ingin menunjukkan rasa takutku di depan Timothee. Aku yakin bahwa laki-laki itu menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali karena ia takut untuk masuk ke dalam.


Aku melirik ke arahnya. Dia yang bertubuh kekar pun takut dengan hal semacam hantu. Itu membuatku tertawa di dalam hati.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya sambil menatapku dan mengernyitkan alisnya.


“Bukan apa-apa,” kataku.


***


Aku merasakan kengerian dan keraguan bahkan sebelum memasuki wahana rumah hantu. Aku melirik ke arah Timothee. Aku cukup tercengang melihat ekspresinya yang tampak baik-baik saja. Rasanya memalukan jika aku tampak ketakutan sedangkan aku sempat mengejeknya tadi.


“Apa kau takut?” tanyanya.


“Tentu saja tidak,” jawabku sambil menguatkan tekadku untuk masuk ke dalam sana dan menyembunyikan semua keraguan dan rasa takut yang sedang kurasakan saat ini.


Kami pun berjalan memasuki wahana rumah hantu. Suasana di dalamnya benar-benar suram dan gelap. Hal yang membuatnya semakin terasa menakutkan ialah kami harus berjalan kaki menelusuri lorong dengan pencahayaan yang sangat minim.


Bulu kudukku merinding ketika ada suara tawa mengerikan yang menyapa telingaku. Kami bahkan belum satu menit berjalan memasuki wahana ini, tapi sambutan di dalamnya tampaknya benar-benar di luar ekspektasiku.


“Pegang saja tanganku kalau kau takut,” kata Timothee.


Meskipun gelap dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, aku sangat yakin laki-laki itu sedang menahan tawanya saat ini. Aku mengabaikan ucapannya dan tetap berjalan bersisian dengannya tanpa saling menyentuh.


Srek... Srek...

__ADS_1


Suara dari semak-semak buatan yang ada di dekat kami benar-benar membuat bulu kudukku merinding.


Srek... Srek...


Aku benar-benar takut, tapi aku masih tidak ingin terlihat takut di depan Timothee. Laki-laki itu sejak tadi hanya terdiam di tempatnya seolah-olah menungguku, yang berhenti, untuk lanjut melangkahkan kedua kakiku.


“Apa kamu takut?” tanyanya lagi.


Nada suaranya terdengar biasa saja. Tidak bergetar sedikit pun. Aku bahkan meragukan kesimpulan yang sudah kubuat sebelumnya yang mengatai laki-laki ini penakut secara tidak langsung.


“Genggam saja tanganku kalau kau takut. Atau bersembunyi di belakangku. Aku tidak takut dengan hal-hal seperti ini.”


Aku melongo mendengar ucapannya.


Srek... Srek...


Tidak ada lagi gengsi. Aku memilih untuk bersembunyi di balik tubuh laki-laki itu. Aku bahkan memegang erat bajunya saking takutnya. Samar-samar aku bisa mendengar suaranya yang sedang terkekeh.


Srek... Srek...


Sesosok wanita berambut panjang dan bergaun putih lusuh sampai ke tanah tiba-tiba muncul dari balik semak-semak yang sejak tadi terus bersuara.


“AHHH!” Aku menjerit ketakutan.


Aku bersembunyi di balik tubuh Timothee dan menjadikan tubuh laki-laki itu sebagai tameng agar aku tidak harus melihat atau berhadapan dengan sosok itu.


Seolah-olah mengerti bahwa aku tidak ingin melihat sosok itu sama sekali, Timothee menutupiku dan berjalan perlahan. Aku pun mengikuti langkah kaki laki-laki itu.


“Apa kamu takut?” tanya sosok itu.


Ia terus mendekat ke arahku yang sudah menjerit berulang kali dan bergetar ketakutan. Timothee yang sadar akan hal itu segera membawa wajahku ke dalam pelukannya agar aku tidak melihat sosok itu. Tapi sosok itu malah semakin mendekat ke arahku dan menyentuhku dengan usil.


Aku menjerit sejadi-jadinya. Aku bahkan bisa merasakan air mataku sudah tumpah dan membasahi kaos yang sedang dikenakan oleh Timothee.


“Ayo kita main!” katanya sambil terus berusaha menyentuhku.


Timothee bersikap seolah-olah pahlawan dengan menghalau sentuhan sosok itu. Ia mempercepat langkah kakinya agar kami bisa segera menjauh dari sosok itu. Tapi sebelum sosok itu benar-benar menghilang, sosok lain yang tidak kalah mengerikan muncul dan mengganggu kami.

__ADS_1


Entah berapa kali aku menjerit dan menangis karena ketakutan. Aku bahkan sampai memohon ampun agar tidak lagi dipertemukan dengan mereka.


Timothee tidak menertawaiku. Dia terus memelukku dan menghalau sosok-sosok hantu jadi-jadian yang muncul dan mengganggu kami. Langkahnya pun ia percepat dan tetap memperhatikan langkah kakiku agar aku tidak terjatuh saat mengikuti langkahnya.


__ADS_2