
Pembantu yang kuduga ingin meracuniku telah dibawa oleh pihak berwajib. Segelas air yang merupakan barang bukti telah diamankan. Beberapa media pun merilis berita mengenaiku yang hampir diracuni oleh pembantu di rumahku.
Berita tentang pembantu yang ingin meracuniku tersebar sampai ke kampusku. Hal itu membuat kehebohan dan aku kembali menjadi buah bibir di kampusku.
Saat ini aku sedang dalam perjalanan ke kampusku. Tentu saja diantar oleh Timothee yang tampaknya betah menjadi sopir pribadiku.
Drrttt... Drrttt...
“Lucy?” Aku bergumam ketika melihat layar ponsel Timothee yang menyala dan nama Lucy tertera di sana sedang melakukan panggilan.
Aku tertawa hambar. Aku benar-benar menyesal sudah menganggapnya berubah menjadi lebih baik kemarin. Ternyata dia masih sama busuknya.
“Tampaknya kau begitu dekat dengan mantan saudari tiriku ya?” kataku.
Timothee hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku. Ekspresinya tampak biasa saja. Tidak ada ekspresi takut atau cemas di sana. Tampaknya ia tidak berniat menyembunyikannya sama sekali.
“Berhenti! Turunkan aku di sini!” kataku.
Laki-laki itu melirik sejenak ke arahku.
“Kampusmu masih cukup jauh,” katanya.
Aku kembali tertawa hambar. Aku menatapnya dengan sorot tajam.
“Tampaknya kamu memiliki urusan lain yang lebih penting. Aku tidak ingin terlibat dalam hubungan kalian,” kataku.
“Itu tidak seperti yang kamu bayangkan,” katanya membela diri.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel laki-laki itu kembali bergetar. Lucy menelepon laki-laki itu untuk ke sekian kalinya.
“Dia tampaknya lebih membutuhkanmu dari pada aku. Aku tidak menyangka kalian masih berhubungan baik bahkan ketika kamu tahu aku membencinya,” kataku.
Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut Timothee. Ia menepikan mobilnya. Aku pun keluar dari mobil laki-laki itu.
Ia melajukan kembali mobilnya begitu aku selesai menutup pintu mobilnya. Itu membuatku sadar dan dendam di dalam rongga dadaku kembali membara. Aku yang sempat ragu akan kebaikannya menjadi lebih yakin bahwa ia tidak akan pernah layak untuk kuperhitungkan.
__ADS_1
“Memang ya. Sekali pengkhianat akan selalu menjadi pengkhianat,” gumamku sambil menatap mobilnya yang menjauh.
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. Hanya ada satu orang di dalam pikiranku saat ini yang bisa membalas penghinaan yang baru saja kudapatkan.
“Halo. Tolong jemput aku sekarang. Adikmu menurunkanku di tengah jalan dan pergi dengan wanita lain.”
***
Alexander tiba sekitar lima belas menit kemudian. Aku hanya terdiam sambil menatap kosong terus menerus ke aspal sebelum laki-laki itu tiba. Sesuatu di dalam rongga dadaku terasa membara tapi juga terasa kosong seakan akan hanya ada dendam yang berkecamuk di dalam tapi entah mengapa ada bagian yang terasa kosong di dalamnya.
“Apa aku begitu lama?” tanyanya.
Aku menatap ke arahnya, lalu menggeleng.
“Tidak,” jawabku.
Laki-laki itu menuntunku dengan ramah masuk ke dalam mobilnya. Ia mengantarku ke kampus.
***
Aku memperhatikan Timothee yang tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya sama sekali. Ia menatap tajam ke arahku dan Alexander.
“Jadi, memang kamu menemui Lucy setelah meninggalkanku tadi?” kataku sambil memberi padangan jijik pada keduanya.
Suara riuh terdengar. Lucy kembali menjadi target hujatan.
“Alicia!” teriak Timothee.
“Apa? Kamu ingin membelanya?” Aku tertawa hambar.
“Aku bukan tidak tahu bagaimana kedekatan kalian selama ini di belakangku,” kataku penuh drama.
Sebenarnya aku tidak begitu tahu bagaimana kedekatan keduanya ataupun sejak kapan keduanya mulai dekat. Tapi aku tidak terima mereka tetap melakukan hal yang sama pada kehidupanku kali ini. Aku ingin mereka merasakan bagaimana karma datang menghampiri mereka. Bahkan jika karma itu belum kunjung datang kepada mereka, akulah yang akan menjadi karma untuk mereka.
“Kalian bahkan saling menghubungi secara terang-terangan di depanku,” kataku dengan pandangan berkaca-kaca seolah-olah aku sangat terpuruk dengan kelakuan keduanya.
“Apa maksudmu?!” tanya Timothee tidak terima dengan apa yang baru saja kukatakan.
__ADS_1
Tapi aku tidak peduli. Mereka sendiri yang mendatangkan kesempatan untukku menghancurkan keduanya saat ini.
“Kau meninggalkanku di tengah jalan demi menemui dia bukan?” tunjukku ke arah Lucy yang hanya diam mematung sejak tadi.
“Untuknya ada Pak Alexander yang tadi memberiku tumpangan sampai aku bisa tiba di kampus saat ini. Kalau beliau tidak ada, entah bagaimana jadinya aku tadi.”
Aku semakin memanas-manasi suasana dengan perkataanku yang tengah mengaduk fakta dan kebohongan menjadi satu. Aku benar-benar puas melihat kesempatan untuk mempermalukan keduanya bisa datang dengan sendirinya seperti saat ini tanpa perlu bersusah payah mencarinya.
Hujatan demi hujatan terus diarahkan orang-orang kepadanya. Orang yang berselingkuh memang sehina itu di mata masyarakat. Tidak ada pembelaan untuk mereka. Meskipun pada dasarnya pendekatan yang kulakukan dengan Alexander tidak begitu jauh berbeda.
“Wah. Meskipun Lucy sudah diusir dan ibunya diceraikan, tampaknya ia masih bermimpi untuk menjadi tuan putri.”
“Timothee juga salah. Biar bagaimana pun dia sudah memiliki tunangan.”
“Kalau aku menjadi Timothee, aku tidak akan mau disandingkan dengan Lucy. Jelas Alicia lebih unggul dalam segala hal dibandingkan dengan dirinya.”
Lucy menunduk dan menggenggam erat ujung baju Timothee. Ia tampaknya sudah mengalami hari-hari berat akhir akhir ini sampai tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali saat ini. Atau mungkin itu hanyalah bagian dari triknya.
“Lihat!” Aku menunjuk ke arah Lucy yang tengah menggenggam erat ujung baju Timothee.
“Kalian bahkan tidak ingin menyembunyikan kedekatan kalian berdua di depanku dan semua orang yang ada di sini.”
Timothee menepis kasar tangan Lucy yang tengah menggenggam ujung bajunya. Ia maju dengan wajah memerah menahan emosi yang telah memuncak. Gigi-giginya bergemeletuk.
“Apa kau sengaja?” tanyanya dengan penuh penekanan.
“Kau dan aku sama-sama tahu bahwa apa yang baru saja kau ucapkan itu tidaklah benar.”
Aku mengangkat daguku menantangnya. Aku membalas sorot matanya yang begitu tajam ke arahku.
“Apa memangnya yang kutahu? Kau bahkan tidak memberikanku penjelasan apa-apa tentang kedekatan kalian \ dan mengapa ia terus menghubungimu bahkan di saat kita sendang berdua.” Aku menunjuk Lucy yang terus diam dan menunduk sejak tadi.
“Bagaimana kalau yang berada di posisiku saat ini? Apa kau bisa menerima kedekatan intens antara tunanganmu dengan orang yang paling kau benci?”
Laki-laki itu terdiam tidak menjawab. Aku berjalan melewati keduanya. Aku bahkan dengan sengaja menabrak bahu Lucy ketika melewatinya.
Aku masih memasang ekspresi penuh kekecewaan dan amarah ketika aku berjalan ke arah kelasku, meski di dalam hati aku bersorak penuh kemenangan. Aku tidak mungkin membiarkan orang-orang tahu bahwa aku sedang melebih-lebihkan hal yang sebenarnya terjadi antara aku dan Timothee.
__ADS_1