
Aku merilis pernyataan terkait dengan unggahan Lucy. Aku benar-benar merasa aneh. Aku bahkan bukan selebriti tapi terus terlibat kehebohan seperti ini berulang kali.
“Hai. Ini Alicia Anderson.
Pertama-tama aku ingin mengucapkan maaf karena sudah membuat kehebohan hari ini. Aku dan Alexander memang tengah berkencan. Itu terjadi cukup lama setelah Timothee, mantan tunanganku, berselingkuh dengan Lucy, mantan saudari tiriku. Lucy bahkan sempat mengunggah foto keduanya saat tidur bersama.
Aku cukup terkejut dengan unggahan yang dibuatnya tentangku dan Alexander. Aku dan Alexander dijodohkan, setelah Lucy dan Timothee resmi bertunangan. Ada alasan khusus yang tidak bisa kuceritakan yang membuat aku harus dijodohkan dengannya.
Aku juga ingin membantah tuduhan yang menyudutkanku dengan Alexander sebagai pelaku perselingkuhan sedangkan hubungan kami baru saja terjalin beberapa hari ini. Tidak seperti yang dituduhkan kepada kami.
Hubunganku dengan Lucy memang cukup buruk. Aku tidak akan menyangkalnya. Tapi tetap saja, aku merasa tidak benar dengan apa yang telah ia lakukan padaku. Aku harap kalian akan mengerti dan menghargai apa yang terjadi di antara aku dan Alexander.
Sekian. Terima kasih.”
Setelah tulisan panjang yang kuunggah di akun media sosial milikku. Aku benar-benar merasa kehidupan kali ini terasa sulit. Tapi tetap saja ini lebih baik dibandingkan menjadi tidak tahu apa-apa dan mati dengan menyedihkan.
Drrtt... Drrtt...
Ponsel Alexander bergetar. Laki-laki itu mengerutkan keningnya sebelum menjawab panggilan telepon di ponselnya.
“Halo,” sapanya pada orang yang berada di seberang telepon.
Entah apa yang orang itu bicarakan. Alexander menatap ke arahku. Aku tidak tahu arti dari tatapan itu.
“Baiklah. Nanti aku akan bicara dengannya.”
Aku sedang menerka-nerka pembicaraan mereka saat ini. Aku yakin itu pasti tidak jauh-jauh dengan keributan yang baru saja terjadi, termasuk dengan pernyataan panjang yang kubuat lewat akun media sosial milikku.
“Kamu baru saja merilis sesuatu?” tanyanya sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Selera makan kami sudah menguap entah ke mana. Tidak ada yang masih ingin melanjutkan makan malam ini.
“Iya,” kataku santai.
__ADS_1
“Ubah pernyataanmu itu!” perintahnya.
Aku melongo mendengar apa yang baru saja ia katakan. Aku memang tidak berharap mereka akan berada di pihakku atau berharap mereka akan membelaku. Tapi aku juga tidak mengharapkan ia akan berterus terang berbicara seperti ini.
Aku tertawa hambar. Tidak perlu dibicarakan lagi, jelas aku akan menolak permintaannya itu.
Kumasukkan ponselku ke dalam tasku. Tidak perlu berpamitan sama sekali. Aku langsung bangkit berdiri dari posisiku semula dan berjalan keluar dari restoran ini. Aku benar-benar merasa kesal dan muak dengan semua ini.
“Benar-benar menyebalkan,” gumamku.
Aku mempercepat langkahku, khawatir Alexander akan mengejarku dan membuatku mengubah pernyataanku sebelumnya. Itu sama saja membuat pernyataanku sebelumnya itu seperti kebohongan belaka.
Meski aku belum tahu akan diubah seperti apa, tapi aku sudah bisa menduganya. Mereka benar-benar tidak segan-segan menjadikanku tumbal kali ini.
“Lihat saja kalian!” gumamku.
Aku menghentikan taksi yang melintas di depan restoran. Aku membalikkan tubuhku sejenak ke dalam restoran dan melihat Alexander yang masih duduk di tempatnya sambil menatap layar ponselnya. Ia tidak mengejarku sama sekali.
“Ah! Apa sih yang kuharapkan?” kataku sambil merutuki kebodohanku sendiri.
***
Bahkan menyewa orang untuk membunuhnya pun aku masih sanggup. Hanya saja aku pasti akan berhadapan dengan keluarga Jordan karena Lucy tengah mengandung saat ini.
Aku membutuhkan bukti yang bisa membuat ia dan keluarga Jordan tidak berkutik ketika aku menyebarkan tentang kehamilan Lucy pada publik. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka ketika berita itu dirilis. Membayangkannya saja membuatku tersenyum senang.
Drrtt.... Drrtt...
“Masih saja...”
Aku menatap ke layar ponselku yang menampilkan nama Alexander yang tengah melakukan panggilan telepon. Aku menolak panggilan teleponnya. Hubungan kami sudah memburuk sejak makan malam hari itu.
“Tidak ada satu pun dari kalian yang layak untuk kupercaya. Kukira kau berbeda, ternyata sama saja.”
__ADS_1
Aku memblokir nomor telepon Alexander, sama seperti yang sebelumnya kulakukan pada Timothee agar ia berhenti menghubungiku.
Pemikiran mengenai JJ Group kembali melintas di dalam kepalaku. Aku masih ingat dengan jelas kalau mereka memiliki kendali penuh atas keberlangsungan perusahaan ayahku saat ini. Jika mereka menarik dana yang sudah mereka suntikkan pada perusahaan ayahku, maka perusahaan ayahku benar-benar akan hancur.
Aku tertawa, menertawakan nasibku yang benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu jalan apa yang harus kutempuh sekarang. Seolah-olah tidak ada jalan keluar bagiku sama sekali.
“Benar-benar menyedihkan,” gumamku.
Aku membuka kembali blokiran nomor telepon Alexander. Aku bahkan tidak memiliki hak untuk memblokir nomor teleponnya. Tapi aku juga enggan untuk mengangkat panggilan teleponnya atau membalas pesan singkat yang ia kirimkan padaku.
“Cinta? Huh? Omong kosong!”
***
Aku duduk di dalam kafe, berseberangan dengan dua orang yang kusewa untuk membuntuti Lucy selama beberapa hari ini. Berbagai foto-foto yang berisikan keseharian perempuan itu, mereka serahkan padaku.
Aku terdiam sejenak menatapi lembar-lembar foto tersebut. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan kartu yang bagus untuk menghancurkan Lucy saat ini.
“Tingkahnya terlalu bebas dan terlalu sembrono untuk perempuan yang sedang hamil,” kataku sambil memandangi foto Lucy dengan pakaian minim di salah satu bar. Ia tengah menenggak minuman beralkohol.
“Tunggu. Apa dia benar-benar hamil?” tanyaku pada dua orang yang duduk di seberang mejaku.
“Ia mengaku pada Timothee tengah hamil enam belas minggu. Tapi perutnya masih datar,” katanya.
Aku mengangguk-angguk. Aku tahu Lucy memang sebusuk itu, tapi aku tidak menyangka ia akan nekat menipu keluarga Jordan, meskipun itu masih belum dipastikan. Tapi aku yakin ada sesuatu yang aneh dengan kehamilannya saat ini.
“Dia juga masih minum-minum di bar. Aneh sekali,” gumamku.
“Kalian terus awasi dia. Sepertinya ada sesuatu yang menarik yang bisa didapatkan jika mengikutinya lebih lama lagi,” kataku.
Dua orang itu hanya mengangguk mengiyakan perintahku. Lagi pula untuk orang-orang seperti mereka, selama mendapat bayaran yang sesuai, apa pun akan mereka lakukan. Termasuk menyakiti bahkan membunuh orang lain.
Aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksi keluarga Jordan jika ternyata kehamilan Lucy hanyalah kebohongan semata. Membayangkannya saja membuatku tersenyum puas.
__ADS_1
“Inilah akibatnya jika kalian berani mengusikku. Meskipun kalian sangat kaya, ternyata kalian masih bisa dibohongi oleh manusia semacam Lucy ini,” kataku sambil memperhatikan foto-foto yang diberikan dua orang itu padaku.