
Aku duduk di ruang tamu bersama ayahku. Suasana rumah begitu hening dan sesak. Udara benar-benar terasa berat.
“Maaf,” kata ayahku memecah keheningan.
“Maaf karena ayah tidak mempercayaimu sebelumnya.”
Tidak ada yang keluar dari mulutku. Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa di situasi seperti ini.
Laki-laki paruh baya itu melepaskan kacamata yang ia kenakan sejak tadi. Ia memijat pangkal hidungnya. Ekspresinya tapak sangat frustasi.
“Tapi ayah tidak tahu harus bagaimana,” katanya frustasi.
Raut wajah laki-laki yang telah membesarkanku hampir separuh usianya itu menatap lurus ke depan. Ia enggan untuk menatap wajahku saat ini.
“Memutuskan pertunangan kalian mungkin merupakan hal terbaik untukmu.”
Aku merasa lega karena ia mempertimbangkan perasaan dan masa depanku saat ini. Bersama dengan laki-laki seperti Timothee seperti mendatangkan neraka ke dalam hidupku.
“Tapi itu bukanlah hal yang diputuskan semudah itu. Bagaimana pun juga, nasib perusahaan ayah masih ada di tangan keluarga Jordan. Tanpa mereka kita akan jatuh ke dalam kesengsaraan.”
Angin lega yang tadi kurasakan lenyap. Tidak ada solusi yang pasti untuk permasalahan ini. Ayahku mungkin ragu untuk melanjutkan pertunanganku dengan Timothee, tapi ia juga tampak enggan untuk memutuskannya.
Lagi dan lagi, aku berada di urutan kedua setelah perusahaan miliknya. Aku memang tidak akan pernah menjadi prioritas utamanya. Sekalipun aku adalah anak kandungnya, aku tetap bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan perusahaan miliknya.
Bukannya egois dan tidak ingin mengerti tentang posisinya saat ini atau tentang keadaan dan nasib perusahaan ayahku. Aku yang telah berulang kali memutar waktu tentu sangat sadar dan tahu bahwa tidak ada hal yang baik jika pertunanganku dan Timothee tetap dilanjutkan. Pada akhirnya kematian akan kembali menemuiku jika aku tetap bersama laki-laki itu.
“Bagaimana jika orang yang tunangan denganku diganti?” gumamku.
Nama Alexander terlintas sejenak di dalam pikiranku. Ada satu bagian di dalam benakku yang ingin mencoba melakukan penggantian antara posisi Alexander dan Timothee saat ini. Tapi aku tidak seberani itu untuk mengungkapkannya.
“Hah?”
Ayahku menatapku dengan ekspresi sangat terkejut. Tampaknya ia mendengar apa yang baru saja kukatakan.
“Apa kamu berselingkuh juga?” tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.
“Tidak!” bantahku cepat.
Laki-laki paruh baya itu tidak lanjut bertanya, tapi tatapannya sudah lebih dari cukup untuk mengisyaratkan bahwa ia butuh penjelasan dariku.
“Aku hanya bertanya. Lagi pula Alexander, kakaknya, tidak memiliki tunangan saat ini.”
Bukannya membaik, ekspresinya justru tampak makin tercengang dengan apa yang baru saja kukatakan. Beberapa detik kemudian, ia mengubah sorot matanya menjadi sorot yang penuh dengan penghakiman.
__ADS_1
“Apa yang telah kamu lakukan dengan Alexander?” tanyanya.
“Tidak ada. Dia adalah dosen muda di fakultasku yang cukup terkenal. Lagi pula, tidak ada salahnya untuk mengganti Timothee dengannya.”
Kening laki-laki itu semakin mengerut. Aku sangat sadar bahwa perkataanku barusan tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
“Dia menyatakan perasaannya padaku beberapa hari yang lalu,” ucapku tidak sepenuhnya bohong.
“Jadi, kupikir-“
“Apa?!”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ayahku berteriak. Ia kembali menatapku dengan sorot tidak percaya.
“Dia menyatakan perasaannya pada tunangan adiknya? Benar-benar tidak bermartabat sama sekali.”
“Bukankah itu lebih baik dari pada Timothee yang selingkuh dengan Lucy?!”
Aku menaikkan nada suaraku. Entah mengapa aku kesal mendengar ayahku menghakimi Alexander seperti itu di saat ia sendiri sempat membela Timothee mati-matian sebelumnya.
Laki-laki itu terdiam. Ia memijat pangkal hidungnya. Tampaknya terlalu banyak informasi yang mengejutkannya hari ini.
“Akan ayah coba diskusikan dengan keluarga Jordan.”
Usai berkata demikian, ayahku bangkit dari posisi duduknya dan melangkahkan kakinya pergi dari ruang tamu.
Aku hanya terdiam di tempatku. Aku bahkan tidak memperhatikan ke mana ayahku pergi. Aku sibuk dengan pikiran-pikiran tentang apa yang terjadi jika posisi Timothee benar-benar digantikan oleh Alexander.
***
Drrtt... Drrtt...
“Kebetulan sekali!” kataku setelah melihat Alexander di layar ponselku.
Aku mengangkat panggilan telepon laki-laki itu.
“Halo. Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Aku hanya merasa perlu meneleponmu saat ini.”
Aku tertawa mendengar ucapannya. Ia tidak salah sama sekali. Aku baru saja akan menghubunginya sebelum ia meneleponku.
“Kamu benar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu saat ini.”
__ADS_1
“Hahahaha... Kamu itu aneh.”
Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya.
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Kadang kamu berbicara formal dan memanggilku dengan sebutan ‘Bapak’. Kadang juga tidak formal dan menggunakan aku-kamu seperti saat ini.”
Aku memutar malas kedua bola mataku sambil mendengus kasar.
“Lagi pula, kamu kan dosen. Tidak ada salahnya menyapamu dengan sebutan ‘Bapak’.”
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Aku bahkan tidak merasa ada yang lucu dari ucapanku barusan. Aku hanya bisa menggeleng mendengarnya tertawa.
“Ada yang ingin kubicarakan,” kataku.
Alexander mencoba menghentikan tawanya. Aku masih mendengar suara kekehannya saat ini.
“Membicarakan tentang apa?” tanyanya.
“Tentang pertunanganku dengan Timothee.”
Suara tawanya benar-benar menghilang sepenuhnya.
“Aku mengusulkan pada ayahku untuk mengganti Timothee denganmu untuk menjadi tunanganku.”
Hening sejenak. Aku dan Alexander sama-sama terdiam.
“Lalu bagaimana tanggapannya?” tanyanya memecah keheningan.
“Katanya ia akan membicarakannya dengan keluargamu.”
Aku menutupi fakta tentang ucapanku yang mengatakan bahwa Alexander telah menyatakan perasaannya padaku. Entah mengapa aku merasa malu untuk mengatakannya.
“Baiklah. Aku akan menunggu kesempatan itu. Lagi pula Timothee memang tidak pantas untuk berada di sampingmu setelah apa yang ia lakukan dengan Lucy.”
Aku teringat tentang foto Timothee dan Lucy yang baru saja menghebohkan orang-orang beberapa waktu yang lalu. Ada sedikit keanehan dari foto itu, tapi aku tidak ingin begitu peduli karena itu tidak akan bisa menghapus fakta bahwa laki-laki itu pergi menemui Lucy dan menghabiskan waktu dengan perempuan itu.
“Ini adalah kesempatan yang bagus untuk memutuskan pertunanganku dengan Timothee. Lagi pula itu juga menguntungkanmu karena aku tahu perasaanmu padaku. Aku harap kamu tidak mengecewakanku sama sekali,” kataku sambil menatap langit-langit kamarku.
“Tenang saja. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan membuatmu menjadi milikku sepenuhnya.”
Aku tersenyum miris. Entah mengapa aku tidak merasakan kelegaan sama sekali. Tapi ini lebih baik dibandingkan aku tetap mempertahankan hubunganku dengan Timothee di saat aku tahu laki-laki itu akan tetap menduakanku. Lebih dari itu, bukan hanya sekali dua kali aku mengalami nasib naas saat bersama dengan laki-laki itu.
__ADS_1
“Mungkin ini adalah pilihan terbaik yang bisa kuambil,” gumamku.