Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 44


__ADS_3

Wartawan yang kuhubungi sebelumnya benar-benar merilis berita tentang Lucy dan Timothee seperti yang kuinginkan. Mereka merilis berita mulai dari Lucy dan ibunya yang dibebaskan dari penjara meski sudah terbukti melakukan percobaan pembunuhan, pertunangan Lucy dan Timothee yang dilakukan tidak lama setelah Lucy keluar dari penjara, kehamilan Lucy, sampai tentang Lucy yang kedapatan minum-minum di bar meski dalam


kondisi hamil.


Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, berita itu benar-benar menghebohkan. Kasus peracunan yang dilakukan oleh Lucy dan ibunya yang sempat tenggelam dan menghilang karena kekuatan keluarga Jordan ikut terangkat lagi. Orang-orang beramai-ramai menghujat Lucy, Timothee dan JJ Group yang dimiliki oleh keluarga Jordan.


Hal yang paling membuatku senang ialah bukan hanya nama Lucy dan Timothee semakin hancur, tapi penurunan harga saham miliki JJ Group yang sangat drastis ketika berita itu dirilis. Aku senang bisa membalas apa yang keluarga jahanam itu sudah lakukan padaku sebelumnya. Aku benar-benar ingin melihat ekspresi mereka saat membaca artikel-artikel berita itu.


“Ini adalah hari yang menyenangkan,” gumamku.


Drrtt... Drrtt...


Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselku. Itu dari nomor yang tidak dikenal. Aku menatap sejenak ke arah nomor itu sebelum mengangkat panggilan teleponnya.


“Hal-“


Belum selesai aku berbicara, omonganku langsung dipotong oleh si penelepon.


“Itu ulahmu kan?!” Tanyanya dengan nada penuh penghakiman.


Aku tersenyum begitu menyadari siapa yang menelepon. Tapi aku tidak ingin ketahuan telah menyebarkan informasi itu ke wartawan. Berhadapan langsung dengan keluarga Jordan yang ada di belakangnya adalah konsekuensi yang belum bisa kutangani saat ini.


“Huh? Apa sih! Aku bahkan tidak tahu apa maksudmu,” kataku pura-pura bodoh.


“Tidak usah bohong!” Ia menaikkan nada suaranya.


“Itu jelas-jelas ulahmu kan?” tanyanya lagi.


Aku menahan tawaku. Reaksinya benar-benar memuaskanku. Itu bahkan lebih baik dari pada yang kuduga. Aku tidak pernah menyangka ia akan langsung menghubungiku.


“Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu maksud, tapi kamu terus menghakimiku seperti ini.”


Tanpa menunggu reaksi darinya, aku segera memutuskan panggilan teleponnya. Aku ingin tahu segelisah apa Lucy dan keluarga Jordan saat ini. Reaksi perempuan itu tadi membuatku yakin bahwa hadiah yang kukirimkan pada mereka sudah tepat.


***

__ADS_1


Suasana kembali menegang begitu aku melangkahkan kedua kakiku masuk ke kampus. Orang-orang terus memperhatikanku dengan tatapan menilai sejak aku datang. Meski sudah sering mengalaminya tapi sejujurnya terkadang aku merasa tidak terbiasa sama sekali.


“Kehidupannya benar-benar seperti sinetron.”


“Iya. Bayangkan saja, orang yang hampir membunuhnya ternyata merupakan selingkuhan tunangannya dan dibebaskan meski sudah terbukti bersalah. Setelahnya mereka bertunangan dan muncul seperti tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.”


“Hidupnya benar-benar menyedihkan.”


Aku memutar malas kedua bola mataku. Kuletakkan tanganku di atas meja, kemudian aku merebahkan kepalaku di atas meja dan mencoba untuk tidur.


Tuk...Tuk... Tuk...


Belum sempat aku memejamkan kedua mataku, seseorang sudah datang menggangguku dengan mengetuk mejaku. Aku menatap kesal ke arahnya, tapi yang ditatap justru terkekeh.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.


Aku mengerutkan keningku dan memberinya tatapan bingung. Bukan aku tidak mengerti maksud pertanyaannya, hanya saja aku terlalu malas untuk menanggapinya.


Giovano mengusap-usap belakang lehernya dan tersenyum canggung karena pertanyaannya barusan tidak kujawab sama sekali. Ia kemudian menggeser kursi di sebelahku dan duduk di atasnya.


“Jadi, apa itu benar?” tanyanya.


“Tentang apa?” aku balik bertanya padanya.


“Kamu benar-benar diracuni?”


“Hampir,” kataku. “Lagi pula, jika itu tidak benar, tidak mungkin Lucy dan ibunya sampai dipenjara. Ya, meskipun mereka dibebaskan. Aku juga masih penasaran kenapa mereka dibebaskan padahal mereka sudah terbukti bersalah,” kataku pura-pura bodoh dan membuat suasana makin memanas.


Orang-orang kembali berbisik-bisik, membicarakan tentang Lucy dan ibunya. Aku senang dengan keadaan saat ini. Aku yakin saham JJ Group akan semakin jatuh karena tanpa kusebutkan pun, orang-orang bisa menduga siapa dalang di balik pembebasan Lucy dan ibunya dari balik jeruji besi.


Kebisingan yang terjadi tiba-tiba menjadi hening begitu seseorang menerobos masuk ke dalam kelasku. Kami akan mengikuti kuliah pagi ini, tapi seseorang tampaknya datang dengan tidak tahu malu untuk memulai keributan.


“Itu ulahmu kan?!” bentaknya begitu ia sampai di depanku.


“Hei! Apa maksudmu tiba-tiba datang dan membuat keributan di sini!” Giovano membentak Lucy yang tengah menatapku dengan tatapan penuh permusuhan.

__ADS_1


“Kamu diam saja! Kamu tidak ada hubungannya dengan ini. Tidak usah ikut campur!” Ia mengacungkan jari telunjuknya pada Giovano.


Wajah Giovano tampak mengeras. Ia tampaknya sangat tersinggung dengan apa yang Lucy ucapkan, tapi itu tidak salah karena laki-laki itu memang tidak ada hubungannya dengan segala yang terjadi antara aku dan Lucy. Tapi aku berterima kasih karena ia sudah memasang badannya dan berdiri di pihakku.


“Apa maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh.


“Tidak usah pura-pura, dasar munafik! Kamu kan yang menyebarkan berita itu?!”


Aku tertawa hambar melihat keberaniannya saat ini. Namanya benar-benar hancur, aku yakin keluarga Jordan yang memang sejak awal tidak menyukainya kini makin tidak menyukainya karena foto-fotonya minum di bar dalam keadaan hamil diungkap oleh media.


“Aku bahkan tidak melakukan apa pun tapi kau sudah menuduhku. Bahkan setelah hampir membunuhku, kau tampaknya masih tidak tahu malu untuk muncul di hadapanku saat ini.”


Suasana semakin memanas, orang-orang yang tadinya hanya diam dan memusatkan perhatian mereka pada kami, mulai memaki-maki Lucy. Mereka terus mengatainya pembunuh dan tidak tahu malu. Tapi ia tampaknya bermuka tebal dan tidak tersinggung sama sekali.


“Akui saja kalau itu ulahmu!” katanya lagi, tidak mau mengalah.


Aku berdiri dan berhadapan dengannya, jari telunjukku kuacungkan dan mulai mendorong tubuhnya sampai ia mundur dari posisinya semula.


“Aku tidak tahu apa maksudmu sama sekali. Tapi kau benar-benar tidak tahu malu, ya? Aku awalnya masih bertanya-tanya apa alasan keluarga Jordan membebaskanmu meski tahu kamu sudah hampir membunuhku, tapi setelah berita itu dirilis, aku jadi tahu kenapa kau dan ibumu bisa keluar dari penjara meski kalian sudah terbukti bersalah. Tampaknya mereka benar-benar memperhitungkan bayi yang ada di dalam kandunganmu.” Aku melirik ke arah perutnya yang tampak masih datar.


“Tapi, apa kau benar-benar hamil?” tanyaku sambil tersenyum.


Ia tersentak, wajahnya memucat, tapi ia berusaha mengatur kembali ekspresinya. Reaksinya bahkan lebih dari cukup untuk mengonfirmasi apa yang baru saja kutanyakan padanya.


“Jaga mulutmu!” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya padaku.


Aku menepis kasar jari telunjuknya yang ia acungkan padaku.


Ia tampaknya tidak ingin lebih lama lagi berhadapan denganku setelah ucapanku yang meragukan kehamilannya. Ia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa diikuti oleh sorakan orang-orang yang tidak menyukai keberadaannya saat ini.


Drrrtt... Drrrtt...


Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku. Itu dari Matthew, wartawan yang dulu kuhubungi untuk merilis berita tentang Lucy dan Timothee.


Aku membukanya dan tersenyum puas. Reaksi keluarga Jordan pun tidak jauh beda dengan apa yang sudah kuperkirakan.

__ADS_1


“Dari Matthew:


Kau benar. Keluarga Jordan menghubungiku untuk menghapus semua artikel yang sudah dirilis tentang Lucy dan Timothee. Mereka menawarkan uang dengan jumlah yang sangat banyak, tapi tentu saja sudah kutolak. Lagi pula, uang yang kau berikan sudah lebih dari cukup.”


__ADS_2