Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 25


__ADS_3

Alexander menatapku dengan sorot penuh kebingungan.


“Apa maksudmu?” tanyanya.


“Apa saya tampak seperti penipu di mata kamu?” Ia terkekeh.


Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutku. Aku hanya terdiam sambil menatap langit-langit ruangannya. Tampaknya aku terlalu emosional hari ini.


“Bukan apa-apa. Lagi pula, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya dari hubungan bisnis.”


Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Setelahnya menatap tajam ke arahku.


“Apa maksudmu? Kamu benar-benar tidak percaya sama saya?” tanyanya dengan nada penuh penekanan.


Langit-langit ruangan itu tidak lagi menarik bagiku. Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya yang sendang menatapku menuntut penjelasan atas apa yang baru saja kuucapkan.


“Menurut Bapak sendiri bagaimana? Kalau Bapak berada di posisi saya, apa Bapak bisa percaya pada orang yang sudah menolak mentah-mentah tawaran kesepakatan yang sudah Bapak tawarkan padahal orang itu sudah dengan sangat jelas memperlihatkan perasaannya pada Bapak? Atau apa Bapak bisa percaya pada orang yang sudah menunjukkan perasaannya pada Bapak secara terang-terangan tapi hanya diam saja ketika Bapak terkena masalah?”


Aku tertawa hambar. Kualihkan pandanganku dari Alexander. Aku menatap ke sembarang arah. Ke mana pun, asal bukan ke arah laki-laki itu.


“Lucunya, Bapak tidak bisa membantah ucapan saya tentang Bapak yang memang ingin memiliki saya. Tapi kenapa Bapak membiarkan Timothee bertunangan dengan saya?”


Laki-laki itu terdiam Ia menatapku dengan sesekali membuka mulutnya seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


“Hubungan yang ingin saya tawarkan pun adalah hubungan bisnis karena didasarkan atas kesepakatan. Lagi pula kita sama-sama diuntungkan. Bapak menginginkan saya, dan saya butuh orang untuk memutuskan pertunangan saya dan Timothee. Tapi setelah saya mendengar ucapan Bapak dan merefleksikan diri, mungkin tawaran saya itu memang sedikit tidak masuk akal.”


Alexander terbelalak menatapku.


“Jadi, maksudmu kamu ingin membatalkan ucapanmu tentang berkencan dengan saya?” tanya Alexander dengan ekspresi tidak percaya.


“Iya,” jawabku tanpa ragu.


Aku meninggalkan ruangan laki-laki itu setelah menjawab pertanyaannya. Senyuman puas terukir di wajahku ketika aku meninggalkan ruangan laki-laki itu. Tapi masih ada hal yang membuatku merasa sedikit penasaran.


‘Apa alasan pertunangannya dibatalkan?’ batinku.


Pertanyaan yang memang membuatku sedikit penasaran. Tapi aku tidak sepenasaran itu untuk mencari tahu atau menanyakan hal itu pada Alexander.

__ADS_1


‘Setidaknya aku sudah memberikan pelajaran pada laki-laki angkuh itu,’ batinku.


***


Aku terperanjat melihat Timothee yang tiba-tiba muncul di depanku. Aku dan dia nyaris bertabrakan. Ia pun sama terkejutnya denganku.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Tangan kananku kuletakkan di dada untuk menenangkanku dari rasa terkejut. Aku mengerutkan kening dan menjawab pertanyaannya yang terasa aneh itu.


“Aku kuliah di sini. Bukan hal yang aneh bagiku berada di sini.”


Laki-laki itu memicingkan kedua matanya sambil menatap ke arahku dengan sorot penuh curiga.


“Dari ruangan kakakku?” tanyanya lagi.


DEG!


Aku baru ingat kalau dari arah yang baru saja kulalui, hanya ada ruangan Alexander di sana. Aku cukup terkejut dan gugup karena pertanyaannya, tapi aku berusaha mengatur ekspresiku sebisa mungkin agar dia tidak mengetahui keterkejutan atau kegugupanku saat ini.


“Lalu, kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?”


Sorot penuh kecurigaan itu melembut. Tapi aku yakin ia masih menyimpan sedikit rasa keraguan padaku. Ini semua berkat perkataan Lucy tempo hari.


“Aku datang ingin menemui kakakku.”


“Bukan menemuiku?” tanyaku dengan nada usil.


Ceklek!


Pintu ruangan Alexander yang berada tidak jauh dari kami terbuka. Laki-laki itu keluar dari ruangannya dan tampak terkejut melihat keberadaanku dan Timothee yang sedang berbincang saat ini. Tapi ia dengan segera mengubah ekspresinya.


Timothee menatapku dan Alexander bergantian dengan tatapan curiga. Perkataan Lucy hari itu tampaknya sangat membekas di benaknya sampai ia tidak bisa menyembunyikan rasa curiga dan gelisahnya saat ini.


“Kau sudah datang?” tanya Alexander.


“Iya. Aku datang hanya untuk mengantarkan ini, Kak.” Timothee menyerahkan amplop cokelat yang sejak tadi digenggamnya pada Alexander.

__ADS_1


Laki-laki itu menerimanya, lalu kembali masuk ke dalam ruangannya tanpa mengucapkan terima kasih. Aku bisa mendengar suara gemeletuk gigi Timothee dan geraman laki-laki itu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesal dan bencinya pada Alexander saat ini.


Aku menggenggam tangan laki-laki itu untuk menenangkannya. Bukan karena aku memang berniat menenangkannya, hanya saja aku perlu sedikit meredakan rasa curiganya sambil berpura-pura berada di pihaknya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku dengan suara yang kubuat selembut mungkin. Jujur saja, aku bahkan merasa jijik mendengar suara yang kukeluarkan dari dalam mulutku barusan.


“Tidak,” katanya. Ia langsung mengubah ekspresinya dan menggenggam tanganku.


Laki-laki itu membawaku pergi meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Sekilas, aku bisa merasakan tatapan yang diarahkan pada kami dari arah ruangan Alexander. Meskipun kaca jendela ruangan laki-laki itu dibuat buram, tapi itu tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan keberadaan seseorang di dalam ruangan itu. Aku masih bisa melihat siluetnya yang berdiri tepat di balik kaca jendela ruangannya.


Aku tersenyum puas karena pembalasan yang kubuat pada laki-laki itu hari ini, lebih sukses dibandingkan yang telah kurencanakan sebelumnya. Aku sedikit bersyukur dengan keberadaan Timothee saat ini. Meskipun rasa benciku padanya tetap mengalahkan rasa syukur itu.


Genggaman tangan Timothee terasa menguat. Tampaknya ia masih kesal dengan perlakuan Alexander padanya barusan. Aku bisa mengerti karena ia tampak diperlakukan sebagai asisten di depanku alih-alih sebagai adik, meskipun ia sudah menyapa laki-laki itu dengan sebutan ‘Kak’.


“Kita mau ke mana?” tanyaku.


Timothee menghentikan langkah kakinya yang sebelumnya terburu-buru, lalu menatap ke arahku.


“Aku tidak tahu,” katanya dengan nada frustasi.


“Kamu masih ada kelas setelah ini?” tanyanya.


Aku menggeleng menjawab pertanyaan laki-laki itu.


“Ayo kita pergi ke taman hiburan!” ajakku.


Timothee menyetujuinya dan kembali berjalan. Genggaman tangannya tidak ia lepaskan sejak tadi. Itu membuat kami kembali menjadi pusat perhatian saat ini.


Langkah kakinya tidak lagi terburu-buru. Ia tampak lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Aku bahkan melihatnya mengulas senyuman tipis. Itu justru membuatku menertawakannya di dalam benakku.


‘Kita akan sedikit bersenang-senang dulu, sebelum aku membuatmu merasa seperti di neraka,’ batinku.


Kami berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil porsche milik Timothee. Laki-laki itu segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan kampusku menuju taman hiburan.


Suasana hati laki-laki itu benar-benar membaik. Ia bahkan sesekali bersenandung. Aku berusaha menahan semua makian yang terlontar dari dalam benakku tentang suara sumbangnya itu.


‘Aku terlalu bodoh dan dibutakan dulu sampai tahan dengan suara sumbangnya saat sedang menyanyi,’ batinku.

__ADS_1


__ADS_2