Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 37


__ADS_3

“Aku mungkin memilihmu sebagai pilihan terbaik yang kupunya saat ini. Tapi melihat apa yang keluargamu baru saja lakukan, aku butuh sesuatu yang bisa melindungiku di masa depan.”


Alexander menatapku lekat-lekat. Cukup lama keheningan tercipta di antara kami berdua. Ia tampak terlalu terkejut untuk sekedar berbicara.


“Apa di matamu perasaanku seremeh itu?” tanya Alexander.


Ia seolah-olah berkata bahwa aku tengah meremehkan perasaannya padaku. Jujur saja, aku bukan ingin meremehkan perasaannya itu. Tapi perkataan tentang perasaan yang katanya ‘tulus’ juga pernah kudengar dari laki-laki lain sebelumnya. Laki-laki yang pada akhirnya berselingkuh dengan saudari tiriku dan membunuhku.


Pengalaman membuatku lebih waspada. Apalagi jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan dengan Timothee. Bukan hal mustahil ia tengah memanipulasiku dan kemudian mengkhianatiku seperti yang dilakukan oleh Timothee sebelumnya.


“Apa ada alasan mengapa kau bersikap seperti ini?” tanya Alexander penuh rasa curiga.


“Hanya berjaga-jaga saja,” kataku tidak sepenuhnya bohong.


“Timothee yang sampai sekarang menolak memutuskan pertunangan denganku dan terus mencoba meyakinkanku sampai sekarang bahkan sudah tidur dengan wanita lain. Parahnya lagi, wanita itu mengunggah foto keduanya seolah ingin mempermalukanku.”


Keheningan kembali menyapa kami. Laki-laki itu tampak berkutat dengan pikirannya sendiri.


Tingkahnya yang seperti ini membuatku semakin yakin tentang keputusan yang telah kubuat.  Ia membuatku semakin meragukan perasaannya padaku, apalagi kesetiaannya.


“Apa permintaan itu terasa sangat berat bagimu?” tanyaku.


Aku tidak begitu mengerti mengapa ia sulit untuk memenuhi keinginanku ini. Bukankah ia mengaku bahwa ia mencintaiku? Tapi tingkahnya saat ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa ia berencana mengkhianatiku di kemudian hari.


“Mungkin kamu butuh waktu untuk berpikir.”


Aku berbalik hendak meninggalkan Alexander yang masih tampak kurang setuju dengan keinginanku.


“Tunggu!”


Laki-laki itu berjalan dengan cepat ke arahku dan menggenggam tangan kiriku. Ia mencegahku pergi meninggalkannya.


Aku berbalik dan menatap tajam ke kedua manik miliknya. Kulepaskan genggaman tangannya. Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada. Ia terus membuatku merasa bingung dan meragukannya.


“Apa kamu berencana meninggalkanku nantinya?” tanya laki-laki itu.


Aku mengerutkan kedua alisku sambil menatap bingung ke arahnya.


“Maksudnya?” tanyaku.

__ADS_1


“Kamu baru saja meminta kita membuat perjanjian,” katanya dengan nada ragu.


Terkadang aku mempertanyakan: ‘ke mana perginya sosok galak yang selalu ditakuti para mahasiswa di fakultasku selama ini?’ atau: ‘benarkah dia adalah dosen killer yang kukenal selama ini?’


Sikap Alexander saat berhadapan denganku seolah-olah berbeda jauh saat ia tengah menjadi dosen yang sedang memberikan kuliah di kelasku. Aku bahkan curiga laki-laki ini memiliki kepribadian ganda.


“Iya,” jawabku.


“Aku memang ingin membuat perjanjian denganmu. Jaga-jaga saja kalau nantinya kau berselingkuh seperti adikmu.”


Laki-laki itu menatap ke sembarang arah dengan tatapan gelisah. Kecurigaanku tentang kebusukannya semakin membesar.


“Apa kamu memang berencana seperti Timothee?” tanyaku dengan nada menghakimi.


“Tidak!” katanya dengan nada setengah berteriak.


“Tentu saja tidak. Sudah sesusah ini kudapatkan, tidak mungkin akan kubiarkan pergi begitu saja,” lanjutnya.


Kedua alisku kembali kukerutkan. Aku merasa sangat aneh dengan tingkahnya saat ini.


“Lalu mengapa kau ragu?” tanyaku lagi.


“Huh?”


Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Kami bahkan belum bertunangan tapi ia sudah berpikir aku akan meninggalkannya.


“Apa kau menganggapku sama busuknya dengan adikmu?” tanyaku.


Laki-laki itu terdiam tidak menjawab. Itu membuatku tertawa hambar.


“Ternyata aku semurahan itu di matamu.”


Alexander mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak menyangkal apa yang baru saja kukatakan. Itu membuatku kembali tertawa hambar. Aku tidak percaya orang yang mengaku mencintaiku ternyata menilaiku dengan sangat rendah.


“Itu karena kau memintaku berkencan denganku di saat kamu masih bertunangan dengan orang lain. Kau bahkan enggan untuk memberi tahuku alasannya.”


Bukannya aku tidak mengerti bagaimana pemikiran Alexander saat ini tentangku. Egoku benar-benar terluka dengan penilaiannya tentangku selama ini.


“Jadi, kamu mau menghentikan semuanya?” tanyaku.

__ADS_1


“Rencana pertunangan kita dibatalkan?” tanyaku lagi dengan nada menghakimi.


Pandanganku mulai memburam karena air mata. Aku tidak ingin menaruh banyak harapan padanya. Tapi tetap saja aku merasa kecewa dengannya.


“Tentu saja tidak.”


“Lalu kenapa kamu terus menilaiku serendah itu?”


“Itu karena kamu tidak mengatakan alasannya padaku. Itu membuatku menjadi bingung. Atau memang sejak awal kamu sudah tahu tentang hubungan Timothee dan Lucy?”


Aku terdiam. Aku belum memercayainya sepenuhnya. Ditambah lagi penilaiannya tentangku barusan. Itu membuatku semakin enggan untuk menceritakan semua yang telah kualami termasuk pemutaran kembali waktu padanya.


Laki-laki itu menatapku dengan sorot tajam. Udara terasa sangat berat saat ini.


Ia menghembuskan nafas kasar seolah-olah membuang semua emosi yang memenuhinya saat ini. Ia menjadi lebih tenang setelahnya.


“Mungkin kamu belum bisa menceritakan semuanya padaku. Aku akan menunggu, tapi tolong jangan terlalu lama,” katanya sambil memegang kedua bahuku dan menatap kedua manikku lekat-lekat.


“Mengenai perjanjian yang kamu katakan sebelumnya, aku mengerti alasannya karena apa yang sudah Timothee lakukan sebelumnya. Aku tidak menolak untuk membuatnya karena aku juga punya syarat untuk kuajukan.”


Ia menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku dengan erat seakan takut aku akan segera pergi jika ia melepaskan pelukannya sekarang.


Aku hanya terdiam di posisiku saat ini. Aku tidak mendorongnya atau membalas pelukannya. Aku hanya berdiam diri dan membiarkannya memelukku.


“Meskipun kamu sudah mengetahuinya, aku tetap ingin mengatakannya. Aku benar-benar mencintaimu,” katanya.


Aku hanya terdiam, tidak membalas ucapannya itu sama sekali. Aku yakin ia tahu bahwa aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Mungkin terdengar sangat jahat, tapi sejak awal aku memang hanya ingin memanfaatkannya karena ia adalah sosok yang selalu membuat Timothee merasa rendah diri.


Ini semua adalah bagian dari rencana balas dendam yang telah kususun di awal. Mencintainya bukanlah bagian dari rencanaku. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin membencinya. Meskipun ia sudah bersikap sangat menyebalkan di kehidupanku sebelumnya.


Hanya ada keheningan di antara kami saat ini. Suasana tidak lagi tenang dan terasa lebih damai.


“Mungkin terdengar egois,” katanya memecah keheningan.


“Bohong kalau aku tidak berharap kamu akan membalas perasaanku ini. Aku benar-benar mengharapkannya,” lanjutnya.


Tidak ada suara yang keluar dari mulutku untuk menanggapi ucapannya itu. Sejak tadi aku hanya terus berdiam diri dengan posisi yang sama di dalam pelukannya.


“Kuharap hari di mana kamu akan jatuh cinta padaku akan segera tiba.”

__ADS_1


__ADS_2