
Aku samar-samar bisa melihat cahaya terang di ujung lorong. Timothee benar-benar melindungiku sampai akhir. Ia bahkan tidak melepaskan atau mengendurkan pelukannya padaku sampai kami benar-benar mencapai ujung lorong yang mengerikan ini.
Suasana terasa sedikit canggung di antara kami begitu laki-laki itu melepaskan pelukannya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
Mungkin kecanggungan itu hanya aku yang merasakannya. Ia tampak biasa saja. Tidak. Raut wajahnya benar-benar tampak khawatir kali ini.
“Kamu tampak pucat,” katanya sambil memperhatikan wajahku dengan seksama.
Aku tertawa canggung. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya yang seperti ini. Di kehidupanku sebelumnya, aku hanya melihatnya tampak khawatir ketika ia hanya berdiam diri melihatku yang tengah keracunan.
Pikiranku seolah-olah kembali terjernihkan. Rasa dendam yang berkecamuk di dalam hatiku kembali membara. Kutepis tangannya yang mencoba menyentuh wajahku.
“Aku tidak apa-apa,” kataku sambil melirik ke arah lain.
Timothee menarik tangannya yang sudah kutepis. Ia terdiam sejenak.
“Baguslah kalau kamu tidak apa-apa. Apa kita sudahi saja permainan kita hari ini? Lagi pula, hari juga sudah sore,” katanya sambil menatap langit yang sudah tampak menjingga.
Aku ingin mengiyakan perkataannya itu. Tapi aku belum puas bermain. Aku tidak selalu bisa keluar dan bermain seperti ini.
Aku kembali mengingat hari-hari di mana aku harus bekerja keras demi mempertahankan perusahaan milik ayahku yang berada di ambang kebangkrutan setelah kematiannya. Lucy dan ibunya sama sekali tidak bisa membantu. Mereka justru terus menguras isi kantong yang susah payah kukumpulkan demi kesenangan mereka semata.
Timothee yang kukira akan membantuku karena telah lebih dulu berkecimpung di pekerjaan yang mirip, ternyata sama sekali tidak membantu. Tapi bodohnya, aku masih mempercayainya bahwa suatu saat ia bisa membantuku menyelesaikan masalah keuangan perusahaan yang diwariskan ayahku padaku. Kepercayaan yang membawaku kepada kematian begitu aku berhasil menyelamatkan perusahaan itu dengan susah payah.
“Apa kamu belum mau pulang?” tanyanya.
Pertanyaannya membuyarkan lamuanku yang teringat akan masa lalu. Aku sadar bahwa aku tidak boleh lebih dekat lagi dengan laki-laki yang berdiri di depanku saat ini.
“Tidak. Ayo kita pulang saja,” kataku sambil berbalik dan berjalan meninggalkannya.
***
Hanya ada keheningan di antara kami sampai aku tiba di rumahku. Tidak ada ucapan terima kasih yang terlontar dari bibirku ketika aku turun dari mobil laki-laki itu. Aku hanya terus diam sampai laki-laki itu mengendarai mobilnya pergi menjauh dari rumahku.
Hari sudah gelap ketika aku tiba di rumahku. Aku bahkan tidak mengabari ayahku sama sekali tentang ke mana aku pergi dan dengan siapa.
“Kau habis dari mana?”
Pertanyaan yang dilontarkan ayahku dengan tatapan tajam adalah sambutan yang kuterima begitu aku membuka pintu rumahku. Sudah kuduga ia akan menginterogasiku seperti ini.
__ADS_1
“Dari taman hiburan dengan Timothee,” kataku dengan nada datar.
Ekspresinya perlahan mulai melunak. Aku menertawainya di dalam hatiku. Meskipun ia memang ayahku, tapi aku tidak akan pernah menjadi prioritas utamanya. Tempat pertama adalah bisnisnya dan tidak akan ada yang bisa menggeser itu.
Aku tahu bahwa ia menyayangiku. Hanya saja, aku tetap tidak bisa menerima bahwa laki-laki paruh baya yang sudah membesarkanku itu begitu menomor satukan perusahaannya di atas segalanya.
“Baguslah kalian semakin dekat. Kalian nanti akan menjadi suami istri.”
Setelah berujar demikian, ia meninggalkanku dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Aku hanya bisa tertawa hambar. Aku menertawai nasibku sendiri.
Drrrtt.... Drrtt....
Ponsel dalam sakuku bergetar. Aku mengeluarkannya dari dalam sakuku. Di sana tampak ada satu pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponselku.
‘Dari Alexander:
Kamu tampaknya bersenang-senang hari ini.’
Aku terdiam sejenak dan berpikir. Aku tersenyum meremehkan ketika aku sadar bahwa mungkin ia mengikutiku dan Timothee ke taman hiburan hari ini.
Drrrrtt... Drrrtt....
Satu pesan singkat masuk lagi ke dalam ponselku. Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh orang yang sama seperti sebelumnya.
Apa kamu benar-benar serius ingin memutuskan pertunanganmu dengan Timothee. Kalian tampaknya baik-baik saja.’
Aku hanya membaca pesannya tanpa membalasnya sama sekali. Aku ingin membuatnya merasa kesulitan setelah menolak tawaran kesepakatanku terakhir kali.
Drrrtt.... Drrrtt...
Laki-laki itu kembali mengirimkan pesan singkat padaku untuk yang ketiga kalinya.
‘Dari Alexander:
Kamu mempermainkanku?’
Aku tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar puas dengan reaksinya itu. Aku tidak menyangka laki-laki itu akan mengikutiku dan Timothee ke taman hiburan, lalu mengirimiku pesan singkat seperti ini.
‘Siapa suruh tawaranku kamu tolak?’ batinku.
Perasaanku menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku melangkahkan kedua kakiku masuk ke dalam kamarku. Aku ingin membersihkan diriku, lalu beristirahat.
__ADS_1
***
“Apa yang sedang kamu lakukan?!”
Nada suaraku meninggi begitu melihat salah satu pembantu di rumahku baru saja mengaduk air putih yang ada di atas nakas di samping tempat tidurku. Kejadian ketika aku keracunan setelah meminum segelas air yang kutemukan di atas nakas di samping tempat tidurku kembali melintas di dalam pikiranku.
Wajah pembantu itu memucat. Ia gelagapan seperti telah kedapatan melakukan sesuatu yang salah.
“Tidak, Nona. Ini bukan seperti yang Anda pikirkan,” katanya berusaha menenangkanku dengan suara bergetar.
Tapi itu justru membuat rasa kecurigaanku semakin besar. Rasa takut menghampiriku ketika ia berjalan mendekat ke arahku.
“Tolong!” aku berteriak keras tanpa pikir panjang.
Dia semakin cemas dan mempercepat langkahnya mendekat ke arahku. Aku memundurkan langkahku menjauh darinya.
“Tolong!” teriakku lagi.
Rasa lega sedikit menyusup ke dalam rongga dadaku begitu aku mendengar derap langkah beberapa orang mendekat ke arahku. Pembantu yang tadinya ingin mendekat ke arahku itu, memutar balik arahnya dan segera berlari keluar dari kamarku.
BUKKK!!
Ia bertabrakan dengan orang-orang yang muncul dari balik pintu kamarku. Meski sempat terjatuh, ia segera berdiri dan bergegas berlari keluar dari dalam kamarku.
“Tangkap dia!” perintah ayahku.
Meski ayahku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi ia bisa mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari tingkah pembantu itu. Orang-orang yang masuk bersama ayahku, terutama laki-laki, segera berlari menyusul untuk menangkapnya.
Aku bisa merasakan tubuhku bergetar dengan hebat. Aku bahkan jatuh terduduk di atas lantai kamarku.
“Alicia!”
Ayahku segera berlari menghampiriku. Ia memegang kedua bahuku dan bertanya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan tatapan penuh rasa khawatir.
Aku tidak berbicara. Aku hanya menunjuk segelas air yang ada di atas nakas di samping tempat tidurku. Aku terlalu terkejut untuk menjelaskan semuanya pada ayahku.
“Kenapa?” Ayahku mengambil segelas air yang tadi aku tunjuk.
“Ini minum dulu.” Ia menyodorkan segelas air yang tadi aku tunjuk itu.
__ADS_1
Aku melongo menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa ia menyuruhku meminum air yang membuatku menjerit ketakutan?