Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 9


__ADS_3

Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lucy. Ayahku menamparnya dengan sangat keras sampai ia terjatuh ke lantai..


“Lucy! Apa-apaan ini?”


Ibu Lucy menghampiri Lucy yang tersungkur di atas lantai sambil memegang pipinya yang bengkak dan memerah. Gadis itu benar-benar terkejut dengan sambutan yang ia terima dari Ayahku ketika ia menginjakkan kakinya di dalam rumah.


“Kalian yang apa-apaan?!!”


Suara ayahku menggelegar di dalam rumah. Wajah laki-laki itu memerah karena kemarahan yang ia rasakan.


Aku menyaksikan semuanya dengan tatapan datar. Gadis licik itu memang sudah sepantasnya menerima perlakuan seperti itu sejak awal.


“Memangnya apa yang telah ia lakukan sampai harus diperlakukan seperti ini?” tanya ibu Lucy pada ayahku dengan tatapan memelas.


Sial! Aku benar-benar membenci wanita rubah dan putrinya itu.


“Setelah aku dengan berbaik hati membiarkan putrimu tinggal di dalam rumahku, begitu caranya dia berterima kasih atas semua kebaikanku selama ini?! Benar-benar tidak tahu diri.”


Lucy tidak membela dirinya sama sekali. Ia hanya terdiam dengan tatapan kosong, tangannya masih memegang pipinya yang memerah dan bengkak. Aku bahkan bisa melihat sekilas ada luka di sudut bibirnya.


Tamparan ayahku memang sangat menyakitkan. Aku pernah merasakannya sekali dan kuharap tidak akan pernah lagi dikemudian hari.


Tapi aku tidak yakin harapanku itu akan terkabul karena aku benar-benar ingin membatalkan pertunanganku dengan Timothee. Laki-laki itu akan berselingkuh dengan Lucy dan membunuhku di masa depan. Itu adalah takdir mengerikan yang harus kuhindari.


“Kamu tidak apa-apa?”


Wanita bodoh itu seperti tidak tahu situasi saat ini. Bahkan di saat kemarahan ayahku tengah memuncak karena ulah putrinya yang tidak tahu diri, ia masih sempat menanyakan keadaan putrinya saat ini tepat di depan kedua mata ayahku yang baru saja menamparnya.


“Bawa dia keluar dari rumah ini! Aku tidak sudi melihat wajahnya. Orang tidak tahu diri yang berani menyakiti putriku.”

__ADS_1


Ibu  Lucy berbalik meninggalkan Lucy yang masih terduduk di atas lantai. Wanita itu mendekat ke arah ayahku.


“Aku mohon biarkan dia tetap di dalam rumah ini. Aku tidak bisa tanpa dia.”


“Kamu gila?! Berani-beraninya kamu menentangku di rumahku sendiri.  Pokoknya aku tidak ingin melihat dia ada di rumah ini. Tidak ada bantahan untuk itu.”


Tidak menyerah dengan keputusan akhir yang dibuat oleh ayahku. Wanita itu memilih bersujud di depan kedua kaki ayahku sambil memohon-mohon agar Lucy tetap dibiarkan tinggal di dalam rumah ini.


“Aku bahkan rela untuk mencium kakimu sekalipun asalkan ia tetap tinggal di rumah ini. Aku mohon.”


Mata wanita itu mulai berderai air mata. Tapi tindakannya itu tidak membuatku merasa iba sama sekali. Aku justru merasa muak melihat tingkahnya.


Ayahku menatap ke atas langit-langit, kemudian menarik nafas panjang untuk menurunkan amarahnya. Perasaanku sangat tidak baik untuk ini.


“Baiklah.  Aku akan membiarkannya tetap di dalam rumah ini,” kata ayahku ketika ibu Lucy hampir mencium kakinya.


Aku melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku tidak percaya ia membiarkan gadis licik itu tetap tinggal di rumahku setelah apa yang ia lakukan terhadapku. Rasanya ikatan darah itu hanya sekedar omong kosong semata.


“Tapi jika ia kembali melakukan hal yang sama, aku-“


Aku memotong omongan ayahku karena tidak terima dengan keputusan yang baru saja ia buat. Kuberikan tatapan penuh luka pada laki-laki yang sudah kupercayai untuk memberikan hukuman hari ini pada orang yang paling menyakitiku selama ini.


“Kali ini saja. Kali ini saja mungkin kita harus memberinya kesempatan kedua.”


Aku bisa melihat tatapan penuh intimidasi yang dilemparkan ibu Lucy padaku seakan-akan ingin menelanku saat ini juga. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka begitu saja hari ini.


Tetesan air mata mulai turun membasahi pipiku. Ayahku cukup panik melihat aku yang selalu menuruti semua kemauannya, saat ini justru memberontak dan memasang ekspresi penuh luka padanya.


“Kalau lain kali ia masih melakukannya dan aku masih dirundung di kampus bagaimana?”


Lucy melongo mendengarkan apa yang baru saja kukatakan. Ia tentu terkejut karena ia belum pernah mendengar bahwa aku dirundung di kampus karena ulahnya. Tapi itulah yang akan terjadi jika aku tetap membiarkannya menyebarkan rumor-rumor aneh tentangku.

__ADS_1


“Tidak, sayang. Tidak.”


Ayahku mulai mendekat ke arahku untuk menenangkanku. Tapi aku tidak bisa tenang sama sekali karena laki-laki itu tetap ingin aku memberikan kesempatan kedua pada gadis licik itu.


Bagaimana mungkin aku memberikannya kesempatan kedua sedangkan ia sendiri telah membuatku terbunuh dua kali? Meskipun aku tidak tahu siapa pelaku yang meracuniku di kehidupanku sebelumnya, tapi ia adalah kandidat nomor satu bersama ibunya di dalam rumahku.


“Alicia, tolong maafkan Lucy sekali ini saja.”


Ibu Lucy mulai mendekat ke arahku untuk ikut membujukku. Tindakannya itu justru membuatku makin merasa kesal.


“Usir dia!” Suaraku melengking saking kesalnya.


Aku menatap ayahku dengan tatapan penuh luka dan memelas. Aku harap ia mendengarkan permohonanku ini.


“Usir dia, ayah! Kalau tidak, aku yang akan meninggalkan rumah ini.”


Kutepis kedua tangan ayahku yang sejak tadi terus mencoba menenangkanku. Aku berjalan lurus ke arah kamarku, mengabaikan ibu Lucy yang terus memohon padaku dan ayahku agar tetap membiarkan gadis itu tinggal di dalam rumah ini.


Ancaman yang baru saja kulontarkan bukan sekedar ancaman semata. Begitu sampai di dalam kamarku, aku langsung mengemasi pakaianku.


Mengeluarkan setan-setan dari dalam rumahku butuh keberanian dan konsekuensi yang besar. Lagi pula aku juga tidak yakin akan tetap hidup jika ayahku benar-benar memaafkannya dan membiarkannya tetap tinggal di dalam rumah ini setelah apa yang dia lakukan padaku.


***


“Apa ini?!”


Suasana semakin tegang ketika aku keluar dari dalam kamarku sambil membawa sebuah koper. Ayahku benar-benar panik melihatku yang benar-benar berencana meninggalkan rumah ini.


Kulirik sekilas Lucy yang sudah tidak duduk di atas lantai. Ia kini duduk di atas sofa dengan ibunya yang sedang menenangkannya.


“Aku benar-benar akan meninggalkan rumah ini jika ayah tidak mengusirnya hari ini juga. Aku akan menganggap ayah memilih untuk membuangku.”

__ADS_1


Ayahku mengusap kasar wajahnya. Ia tampaknya kesulitan memilih antara aku dan Lucy yang harus tetap tinggal di dalam rumah ini.


Rasa sakit terasa di dalam rongga dadaku melihat bagaimana ekspresi kebingungan dan frustasi yang ditampakkan ayahku saat ini. Aku merasa semua yang kukatakan padanya sia-sia semata. Nyatanya ia bahkan kesulitan membuat pilihan antara aku, yang merupakan anak kandungnya, dan Lucy, gadis yang tidak ada hubungan darah dengannya dan berusaha menghancurkanku.


__ADS_2