Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 38


__ADS_3

Aku dan Alexander duduk berseberangan. Kami menulis persyaratan perjanjian yang akan ditetapkan sebelum pertunangan kami.


“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan terkait perjanjian ini.”


Aku menatap Alexander yang baru saja berbicara. Ia tampak sangat serius dan tidak balas melihat ke arahku sama sekali.


“Apa?” tanyaku.


Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.


“Kamu tidak berencana meninggalkanku setelah ini bukan?” tanyanya.


“Huh?”


Aku melongo mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Tidak lama kemudian aku tertawa. Kami bahkan belum bertunangan secara resmi, tapi ia sudah bertanya apa aku berencana meninggalkannya.


“Dari mana pemikiran bodoh itu berasal?” tanyaku dengan nada bercanda.


“Entahlah. Kupikir itu adalah tujuan membuat perjanjian seperti ini.”


Tawaku semakin keras. Aku tidak pernah menyangka ia akan berbicara seperti ini.


“Serius. Dari mana pemikiran seperti itu berasal?”


Alexander mengangkat wajahnya dan menatapku lekat-lekat. Ia tampak sangat serius dengan apa yang baru saja ia katakan. Itu membuatku semakin merasa geli.


“Baguslah kalau bukan itu alasannya. Di drama yang ditonton ibuku ada adegan seperti ini.”


“Adegan seperti ini?” tanyaku bingung.


“Iya. Pemeran utama wanita dan pemeran utama pria sedang membuat perjanjian sebelum menikah. Perjanjian itu juga berisi tentang kesepakatan perceraian mereka.”


Aku tertawa geli mendengar penuturannya. Ia sejak tadi berpikiran aneh dan ragu hanya karena salah satu adegan dalam drama yang biasa ibunya tonton.


“Memangnya apa judul dramanya? Aku baru tahu kalau kamu juga suka nonton drama,” kataku dengan nada mengejek.


“Judulnya: Pernikahan Kontrak dengan CEO. Ibuku yang menontonnya, bukan aku.”

__ADS_1


Nada suaranya yang tampak serius itu semakin membuatku merasa geli. Aku tidak bisa menahan tawaku saat mendengarnya.


“Lalu apa kamu juga ingin membuat pertunangan kita nanti menjadi pertunangan kontrak?” kataku terus menggodanya.


Ia mengerutkan keningnya. Ia kembali menatapku lekat-lekat.


“Tentu saja tidak. Itu artinya kita sudah menentukan akhir dari hubungan kita sejak awal sedangkan aku tidak ada niat sama sekali untuk mengakhirinya.”


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku sambil tersenyum geli. Tiap kata yang keluar dari mulutnya terus membuatku merasa geli sejak tadi.


***


Saat ini aku sedang berada di rumah keluarga Jordan. Ini adalah hari di mana pembicaraan pertunanganku dan Alexander dijadwalkan.


Aku dan ayahku datang sesuai janji untuk mengikuti acara makan malam di rumah ini. Tapi aku tidak pernah menyangka akan menyaksikan pemandangan menjijikkan seperti ini seumur hidupku. Apalagi ini adalah salah satu hari pentingku.


“Kenapa kamu menatap kami seperti itu?” tanya Lucy sambil yang sejak tadi duduk di sebelah Timothee sambil sesekali menyentuh tangan laki-laki itu.


Ia terus menyentuhnya tanpa tahu malu meski ditepis berulang kali oleh sang empunya. Kedua orang tua Timothee dan Alexander bahkan terus berdehem sejak tadi karena terganggu oleh tingkah keduanya. Mereka bahkan tidak menyembunyikan sama sekali rasa tidak suka mereka terhadap Lucy. Tapi mereka tidak mengusir gadis itu meski mereka tidak suka.


“Kurasa kau terlalu tidak tahu malu sampai bisa datang di sini,” kata Alexander tanpa menatap ke arah Lucy.


Selain Lucy, tatapan Timothee juga terus menggangguku sejak tadi. Ia terus menatap ke arahku seakan-akan ingin mengatakan sesuatu tapi ia tidak bisa menyampaikannya sedari tadi.


Suasana malam ini terlalu tidak nyaman. Aku bahkan tidak bisa menelan makanan yang masuk ke dalam mulutku dengan benar. Aku takut akan mengalami masalah pencernaan setelah ini.


“Jangan menatap tunanganku seperti itu Timothee!” kata Jordan.


Ia tampaknya sadar bahwa tatapan Timothee terus menggangguku sejak tadi.


“Bahkan dengan adanya wanita yang kau pilih berada di sampingmu saat ini, kau tampaknya masih menginginkan tunanganku.”


Alexander menatap Timothee dengan tatapan tajam seakan-akan ingin melayang sebuah hantaman pada wajah laki-lak itu. Menyadari suasana yang cukup buruk, Tuan Jordan berdehem untuk memberi kode pada keduanya agar lebih tenang.


***


“Ada yang ingin kubicarakan,” kata Timothee menghampiriku saat aku baru saja keluar dari toilet.

__ADS_1


Aku tidak tahu sejak kapan ia ada di sana. Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengikuti atau menungguku di dekat toilet.


“Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Aku berjalan mengabaikannya.


Seakan tidak menyerah, laki-laki itu menggenggam tanganku untuk menghentikan langkahku yang berusaha pergi.


“Kita perlu bicara,” katanya lagi.


Aku berusaha menepis kasar genggamannya, tapi tidak bisa. Ia menggenggam tanganku dengan sangat erat sampai aku berasa kesakitan.


“Timothee! Kamu di mana?”


Suara Lucy terdengar mendekat ke arahku dan Timothee. Aku pun semakin memberontak ingin melepaskan genggaman tangan Timothee. Tapi genggaman tangan laki-laki itu tidak kunjung lepas sejak tadi.


“Tim-“


Ucapan Lucy menggantung di udara. Ia menatap tidak suka ke arahku yang tengah berdiri tepat di sebelah Timothee saat ini. Tatapannya makin menajam begitu ia melihat tanganku digenggam oleh Timothee.


“Belum lama pembicaraan pertunanganmu dengan Pak Alexander selesai, tapi kamu masih berniat menggoda adiknya? Apa kamu sungguh tidak punya malu?!” katanya dengan nada menghina.


“Heh, J4l4ng!” aku balas mengatai Lucy.


Timothee bahkan terkejut dengan apa yang baru saja ku ucapkan.


“Kalian ini benar-benar menggelikan. Belum puas dengan apa yang sudah kalian lakukan di belakangku, sekarang kalian malah bertingkah seperti ini?”


Aku mengalihkan tatapanku pada Timothee yang masih belum melepaskan genggaman tangannya sejak tadi.


“Lepaskan! Kau tidak lihat wanita sialanmu ini mengira aku sedang menggodamu? Dia benar-benar buta sampai tidak bisa melihat bahwa kau yang tidak ingin melepaskanku sejak tadi.”


“Itu tidak akan terjadi kalau kau tidak menggodanya!” kata Lucy tidak terima.


“Menggoda? Kau j4l4ng sialan yang tidur dengan tunangan orang lain berani menuduhku menggoda laki-laki ini?” Aku menunjuk ke arah Timothee.


Aku menepis kasar genggaman Timothee. Genggaman itu masih tidak kunjung lepas. Aku akhirnya menggigit tangan laki-laki itu agar berhenti menggenggam tanganku yang benar-benar terasa sakit saat ini.


“ARRGHHH!!” Timothee berteriak kesakitan dan membuat orang-orang datang berkerumun.

__ADS_1


“Ini benar-benar menyebalkan!” kataku begitu melihat orang-orang mulai mendatangi kami.


Aku segera melangkahkan kedua kakiku pergi sebelum mereka mengerubungi kami. Aku tidak ingin terlibat dengan Lucy atau pun Timothee malam ini. Tenagaku benar-benar terkuras meski hanya duduk diam dalam satu ruangan yang sama dengan kedua orang itu. Dua orang paling tidak tahu diri dan paling tidak tahu malu yang pernah ku temui seumur hidupku.


__ADS_2