
Drrrt... Drrrt...
Getaran dari ponsel di dalam sakuku membuatku yang sedang tertidur merasa tidak nyaman dan terbangun.
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku. Kufokuskan pandanganku yang masih belum terbangun sepenuhnya dan masih mengantuk.
Dari Timothee:
‘Kamu di mana?’
Aku menelengkan kepalaku membaca pesan yang dikirimkan oleh laki-laki itu. Aku kemudian mematikan ponselku tanpa membalas pesan singkat yang dikirimkan laki-laki itu.
Drrtt... Drrrt...
Ponselku kembali bergetar. Timothee kembali mengirimkan pesan singkat padaku.
Dari Timothee:
‘Mau jalan?’
Aku ingin kembali mengabaikan pesan singkat yang dikirimkan laki-laki itu. Tapi sebelum aku melakukannya, laki-laki itu meneleponku.
“Halo.”
“Kamu tidak membalas pesanku sama sekali. Kamu di mana?”
“Di rumah.”
“Aku ke sana.”
Aku tidak menanggapi laki-laki itu sampai ia memutuskan panggilan teleponnya.
***
“Alicia! Alicia!”
Tepukan ringan di pipiku membuatku tersadar dari tidurku. Pemandangan pertama yang kulihat ketika pandanganku mulai fokus adalah Timothee yang tengah duduk di tepi tempat tidurku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Membangunkan tukang tidur,” katanya sambil melirik nakal ke arahku.
__ADS_1
Aku memutar malas kelopak mataku mendengar ucapannya.
Tenggorokanku terasa haus. Aku bersyukur pembantu-pembantu di rumahku cukup peka untuk mengisi gelas kosong yang ada di atas nakas di samping tempat tidurku dengan air.
Kuraih gelas itu, lalu meminum air yang ada di dalamnya. Belum selesai aku menghabiskan isi dari gelas itu, perut dan tenggorokanku terasa sangat perih. Tenggorokanku bahkan terasa terbakar.
“Uhuk.... Uhukk... Hoekk...”
Aku sangat terkejut ketika darah segar membasahi selimut dan kasurku. Aku baru saja memuntahkan cukup banyak darah. Pandanganku bahkan mulai memburam karena kehilangan cukup banyak darah.
Kulirik Timothee yang tidak kalah terkejutnya denganku. Tapi laki-laki itu tidak berteriak sama sekali memanggil pertolongan untukku yang dalam keadaan sekarat.
‘Apa yang salah di sini?’ batinku.
Ini bahkan belum sampai satu minggu setelah aku kembali untuk mewujudkan aksi balas dendam yang sudah kurencanakan. Aku belum melihat orang-orang yang menyakitiku merasakan kesakitan yang lebih parah dariku. Tapi aku harus kembali merenggang nyawa karena racun yang tidak kutahu siapa pelakunya.
Tubuhku mulai ambruk di atas tempat tidur. Timothee masih di tempatnya dan belum kunjung memanggil seorang pun untuk membantuku. Lagi pula memangnya apa yang bisa kuharapkan dari laki-laki yang berselingkuh dengan adik tiriku dan membunuhku di masa depan?
Aku tersenyum miris meratapi nasibku yang terasa sangat menyedihkan. ‘Apa benar-benar harus berakhir seperti ini?’ tanyaku dalam hati.
‘Aku bahkan belum sempat membalaskan dendamku. Aku benar-benar berharap bisa mewujudkannya. Tapi mengapa semua seolah-olah tidak berpihak padaku?'
***
Kupegang dada, tenggorokan dan perutku. Nyeri hebat yang kurasakan tadi sudah tidak ada. Lenyap entah ke mana.
Tempat tidurku bahkan bersih. Selimut yang kugunakan juga bersih dan wangi seolah-olah tidak pernah ada darah yang menetes di sana.
“Alicia, apa kamu sudah bangun?”
Suara ibu Lucy yang sedang menuju kamarku membuatku sadar bahwa aku kembali lagi ke titik awal. Titik di mana aku harus memulai semuanya kembali.
“Alicia!”
Tanpa mengetuk dan tanpa izin, wanita itu masuk seenaknya ke dalam kamarku. Tatapan permusuhan yang dilemparkan wanita itu padaku masih sama.
“Cepat mandi dan berdandan yang cantik. Kamu bahkan terlalu beruntung sampai bisa dijodohkan dengan putra kedua dari keluarga Jordan. Meskipun bukan pewaris, tapi ia masih diberikan kekayaan yang melimpah oleh keluarganya. Andai saja Lucy bisa seberuntung kamu. Benar-benar tidak adil.”
Suara wanita itu dan semua perkataannya, kini terdengar seperti suara radio rusak yang terus mengulang hal-hal yang sama terus menerus. Tapi aku tidak ada pilihan lain selain melewati semuanya.
***
__ADS_1
Sepanjang hari ini, aku seperti diperdengarkan suara radio rusak berulang-ulang. Aku bahkan hampir mengira bahwa orang-orang yang ada di sekitarku saat ini bukanlah manusia melainkan hanya boneka yang sejak tadi terus memainkan peran yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Hal-hal yang kujalani hari ini sama persis dengan apa yang kulakukan sebelumnya. Aku bahkan sudah siap-siap untuk berangkat ke kampus setelah menerima telepon dari Giovano.
Pemandangan pertama yang kulihat ketika aku keluar dari dalam rumahku adalah Timothee yang tengah duduk di dalam mobilnya. Ia akan mengantarku ke kampus hari ini sama persis dengan yang sebelumnya terjadi.
‘Aku muak harus terus berhadapan dengannya. Tapi aku tidak punya pilihan lain.’
Perutku terasa mual ketika aku melihatnya lebih lama. Aku masih ingat bagaimana ia tidak ada niat sedikit pun untuk menolongku ketika aku berada di ambang kematian.
Ia tampaknya tidak terlalu ingin menyembunyikan isi hatinya. Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi malas yang ia tampakkan ketika ia tengah menungguku masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu tidak sedang sibuk kan?” tanyaku.
“Aku bisa pergi sendiri kalau kamu sibuk.”
Di dalam hati aku benar-benar berharap agar ia setidaknya memiliki kesibukan hari ini agar aku bisa pergi tanpa harus melihat apalagi bersama dengannya lebih lama lagi.
“Tidak. Aku tidak sibuk hari ini.”
Bantahan itu menghancurkan harapanku dalam sekejap. Aku sudah tahu akan tetap pergi dengannya, tapi aku masih berharap tidak akan bersamanya seharian ini.
***
“Terima kasih sudah mengantarku.”
“Iya. Kalau sudah selesai kabarin ya! Kamu nggak ada rencana apa-apa kan hari ini?”
Aku hampir saja mengulang kembali kesalahan yang sama dengan membiarkan Timothee menjemputku saat pulang. Aku seharusnya tidak memberinya lebih banyak kesempatan, mengingat ia benar-benar brengsek.
“Aku ada kegiatan hari ini. Mungkin selesainya agak malam. Kamu tidak perlu repot-repot jemput aku. Aku-“
“Tidak apa-apa. Aku masih bisa menjemputmu. Aku cukup luang hari ini.”
Aku benar-benar tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang mungkin sudah dua kali membunuhku dengan sengaja. Berlama-lama dengannya benar-benar memuakkan.
“Aku ada tugas kelompok hari ini. Aku juga akan menginap di rumah temanku jadi aku akan pulang dengannya nanti.”
Melihat Timothee yang tampak sedang berpikir untuk membalas alibiku agar ia tidak menjemputku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Sebelum laki-laki itu berbicara, aku memotongnya terlebih dahulu dengan berpamitan.
Aku bahkan tidak menunggu laki-laki itu menjawab salamku. Aku langsung meninggalkannya dan berlari menuju gedung fakultasku.
__ADS_1
Rasa senang meluap-luap di dalam benakku karena aku tidak harus berhadapan dengan laki-laki itu lebih lama lagi. Kulangkahkan kedua kakiku dengan penuh semangat menuju ruang kelas yang akan kami gunakan hari ini.
Tapi senyuman itu langsung sirna ketika di sudut mataku aku melihat Alexander Jordan baru saja turun dari atas Pajero sport hitam miliknya. Aku masih menyimpan rasa sakit hati dan dendam dengan laki-laki itu.