
Alexander tengah mengajar di kelasku pagi ini. Tapi ada yang aneh dari tingkahnya. Ia sama sekali tidak ingin melihat ke arahku seolah-olah terganggu dengan kehadiranku di kelas sejak tadi.
“Kelas hari ini selesai,” katanya sambil membereskan barang-barangnya di atas meja.
Para mahasiswa yang mengikuti kelasnya pagi ini pun mulai membereskan meja mereka satu per satu, tidak terkecuali diriku. Aku tidak ada kelas lain setelah ini.
“Alicia!”
Suara Alexander yang memanggilku dari arah depan menghentikan pergerakanku yang sudah siap-siap akan keluar dari kelas. Aku berbalik menatap ke arahnya yang sudah ada di depan pintu dan menatap datar ke arahku.
“Kamu ikut ke ruangan saya,” katanya, lalu berlalu meninggalkan banyak tanda tanya yang mengarah ke diriku saat ini.
“Kamu habis bikin masalah apa?”
Aku menatap malas ke arah Giovano yang seperti tengah menuduhku sebagai pembuat masalah. Ucapannya memang tidak salah karena ada banyak masalah akhir-akhir ini yang cukup membuat kehebohan di kampus dan pelaku utamanya adalah aku. Tapi tetap saja aku tidak terima ia menanyaiku seperti itu.
Kudiamkan laki-laki itu dan ikut berjalan keluar dari kelas.
“Kamu marah?” tanyanya yang diikuti tawa.
Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya karena sudah jelas aku sedikit tersinggung dengan ucapannya itu.
Seolah tidak merasa bersalah sedikit pun dengan ucapannya barusan, laki-laki itu justru mengacak-acak rambutku yang sudah kutata dengan susah payah pagi ini.
“Aku ke kantin, ya. Kalau ada apa-apa kabari saja.”
Aku mendengus kesal mendengar ucapannya. Lagi pula aku juga tidak selemah itu sampai harus meminta bantuannya.
Kaca jendela yang ada di depan ruangan Alexander cukup membantuku karena warnanya yang gelap. Aku bisa merapikan kembali rambutku yang baru saja diacak-acak Giovano.
Setelah insiden keracunan yang aku alami, aku kurang mempercayai orang-orang yang bekerja di rumahku, terutama pembantu yang biasanya masuk dan keluar dari dalam kamarku. Aku bahkan menyiapkan makananku sendiri atau membeli makanan di luar karena tidak percaya dengan mereka yang bekerja di dalam rumahku saat ini.
Ceklek!
“Apa kamu harus sebegitunya karena mau bertemu dengan saya.”
Alexander membuka pintu dan tersenyum meremehkan ke arahku. Aku yang tidak terima dengan perkataannya barusan mengacak-acak kembali rambutku jadi berantakan. Ia justru terkekeh melihat apa yang baru saja kulakukan.
Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam ruangannya meninggalkan pintu tetap terbuka. Aku masuk menyusulnya dengan ragu-ragu.
__ADS_1
“Padahal kamu belum saya persilahkan untuk masuk. Benar-benar.”
Aku langsung mengumpatinya dengan segala macam kalimat umpatan yang ada di dalam kepalaku. Tentu saja aku hanya berani mengumpatinya di dalam hati mengingat dia masih dosen di kampus ini.
Karena sudah dinilai tidak sopan sejak awal, aku pun tidak begitu ambil pusing dengan apa yang akan kulakukan. Aku segera duduk di sofa yang ada di dalam ruangan laki-laki itu dan mengambil posisi yang paling nyaman.
“Kamu tidak menutup pintu?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Pak, kita cuma berdua di sini. Tidak baik kalau pintunya ditutup.”
Laki-laki itu menatap heran ke arahku. Ia terkekeh sebentar, lalu memberikan tatapan usil padaku.
“Memangnya apa yang mau saya lakukan dengan kamu yang memiliki pantat dan dada rata?”
Aku menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan laki-laki itu. Aku melirik sekilas ke arah dada dan bokongku.
Aku mengendus kesal karena tidak bisa membantah meskipun aku tersinggung dengan kata-katanya barusan. Aku segera menutup pintu.
‘Padahal kukira dia tertarik padaku. Tapi apa ini?’ batinku menggerutu.
Aku kembali duduk setelah menutup pintu. Aku mengangkat daguku dan memberikan tatapan datar kepadanya.
“Menurutmu?”
Aku menghela nafas kasar mendengarnya tidak menjawab pertanyaanku dan justru balik bertanya.
“Kalau tidak ada yang ingin Bapak katakan, saya akan keluar dari ruangan ini.”
Laki-laki itu terdiam. Ia seolah-olah tidak ingin menjawab rasa penasaranku sama sekali.
Tidak ingin lebih lama lagi diremehkan di ruangan ini. Aku pun bangkit berdiri dari posisiku dan melangkah ke arah pintu.
Ceklek!
“Kamu benar-benar mau keluar? Bukankah kamu ingin memutuskan pertunanganmu dengan Timothee?”
Aku menutup kembali pintu yang sudah kubuka. Aku berbalik menatapnya sambil menyilangkan kedua lenganku di depan dada.
“Jadi, Bapak setuju mau membantu saya?”
__ADS_1
“Tergantung. Keuntungan apa yang bisa saya dapatkan jika membantumu memutuskan pertunangan dengan Timothee?”
Aku terdiam dan berpikir sejenak. Meskipun aku sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi itu tidak akan begitu banyak membantu karena di masa depan pun karir Alexander sangat bagus. JJ Group bahkan lebih sukses setelah berada di dalam genggamannya.
Pertanyaan Alexander sewaktu aku masih dirawat di rumah sakit tiba-tiba melintas di dalam kepalaku. Aku tersenyum penuh kemenangan sambil menatap ke arahnya.
“Bukankah saya sudah lebih dari cukup untuk menjadi keuntungan dalam kesepakatan ini?”
Laki-laki itu menatap heran ke arahku. Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Maksudnya?”
“Jangan kira saya bodoh. Bukankah pertanyaan Bapak terakhir kali waktu di rumah sakit itu artinya Bapak memiliki perasaan pada saya? Apa Bapak justru tidak keberatan saya tetap melanjutkan pertunangan dengan Timothee padahal Bapak sendiri tahu kalau saya tidak menyukainya?”
Laki-laki itu menghela nafas kasar mendengar apa yang baru saja aku katakan. Ia tidak lagi menatap datar ke arahku.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya laki-laki itu pasrah.
Aku tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan buruan yang pantas untuk menjatuhkan Timothee. Aku yakin laki-laki itu akan sangat murka setelah aku memutuskan pertunangan dengannya dan justru berkencan dengan kakaknya.
Timothee memiliki inferior complex terhadap kakaknya. Orang tuanya juga lebih mengutamakan kakaknya dibandingkan dirinya karena memang pada kenyataannya kakaknya lebih unggul dibandingkan dirinya. Tapi itu bukan berarti kedua orang tuanya tidak menyayanginya.
Ia tidak pernah bisa menerima hal itu. Ia membenci kakaknya karena lebih unggul dan lebih sukses dibandingkan dirinya. Tapi ia yang ada di masa depan juga tidak pernah bisa menyaingi kakaknya.
“Bapak berkencan dengan saya,” ucapku penuh percaya diri.
“Uhuk... Uhuk...”
Alexander terbatuk-batuk. Tampaknya laki-laki itu baru saja tersedak oleh air liurnya sendiri.
Ia melongo. Ia menatap tidak percaya ke arahku. Ia tampaknya sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Menurut Bapak, bagaimana cara terbaik untuk memutuskan hubunganku dengan Timothee selain memiliki hubungan dengan orang lain?” kataku polos tanpa rasa bersalah sama sekali.
Laki-laki itu masih terdiam di tempatnya. Ia terlalu terkejut untuk membalas perkataanku.
Aku tersenyum meremehkan ke arahnya lalu kembali membuka pintu yang ada tepat di belakangku. Aku ingin keluar dari ruangan ini meskipun pembicaraan kami belum selesai baginya. Tapi bagiku sudah selesai, aku sudah mendapatkan apa yang kumau entah laki-laki itu setuju atau tidak. Lagi pula ia tidak ada pilihan lain.
__ADS_1