
Rasa kesal kembali menghampiriku ketika aku bisa melihat dengan kedua mataku sendiri bagaimana Lucy masih saja berusaha menggoda Timothee meskipun sering dicemooh di kampus. Ia tampaknya terlalu tebal muka sampai masih berani datang ke kampus ini meskipun tidak ada seorang pun yang berada di pihaknya lagi.
Semua orang sudah tahu bahwa ia dan ibunya telah diusir dari rumahku. Bahkan mungkin semua orang sudah tahu kalau ibunya baru saja diceraikan ayahku.
“Astaga! Bukannya itu tunanganmu?”
Aku menatap ke arah dua orang yang sok kenal denganku. Aku tidak mengenal keduanya, tapi tampaknya mereka mengenaliku, Lucy dan Timothee.
“Kamu tidak merasa terganggu dengan Lucy yang selalu mendekati tunanganmu?”
Aku hanya tertawa mendengar ucapan dua orang yang entah dari mana munculnya itu. Mereka seperti ingin memanas-manasiku. Tapi aku tidak begitu peduli dengan kedekatan Lucy dan Timothee, karena memang keduanya sudah berselingkuh di belakangku di kehidupan sebelumnya.
“Lucy tidak akan pernah bisa mendapatkannya,” kataku penuh percaya diri.
Aku tahu benar bahwa Timothee bertunangan denganku demi AB Company yang nantinya akan diwariskan kepadaku. Itu juga alasan ia bersekongkol dengan Lucy dan ibunya untuk membunuhku dulu.
Tapi kali ini berbeda, Lucy tidak seberharga itu lagi. Ia dan ibunya tidak lebih dari sekedar gelandangan.
Laki-laki itu sebelumnya memperlakukan Lucy dengan baik, bahkan membelanya agar bisa berdamai denganku karena gadis itu masih saudari tiriku. Tapi sekarang setelah ibu Lucy dan ayahku bercerai, tidak ada lagi keuntungan yang bisa ia dapatkan dari mereka.
‘Lihat saja bagaimana Timothee tampak tidak tertarik meskipun Lucy terus berceloteh di sampingnya,’ batinku.
“Alice!”
Timothee tersenyum dan memanggil namaku begitu ia menyadari keberadaanku yang tidak begitu jauh darinya.
Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi tidak suka yang ditampakkan Lucy begitu Timothee memanggilku. Aku tertawa geli melihatnya seperti itu. Lagi pula memang tidak ada hal baik yang bisa kulihat dari makhluk paling tidak tahu diri seperti dia.
Bruk!
Sesuatu tiba-tiba menghantam bahu kananku dengan keras sampai aku terjatuh. Bahu kananku terasa nyeri. Kedua telapak tanganku yang kujadikan tumpuan untuk menahan tubuhku yang jatuh ke atas tanah tampak kotor dan lecet.
“Alicia!”
Aku bisa mendengar derap langkah Timothee ke arahku. Suara laki-laki itu tampak khawatir.
Dua kaki dengan sepatu berhak tinggi dan berwarna merah menyala berdiri tepat di depanku. Itu membuatku tahu siapa pelaku yang baru saja menabrak dengan sengaja.
__ADS_1
“Apa yang baru saja kamu lakukan, Vanya!”
Timothee yang sudah dekat denganku segera mendorong wanita itu mundur. Ia bahkan sampai oleng dan hampir terjatuh karena dorongan Timothee.
“Hah? Kamu baru saja membelanya? Gadis gatal ini?!”
Laki-laki itu membantuku berdiri. Ia mengecek keadaanku, termasuk keadaaan kedua telapak tanganku yang kotor dan lecet.
“Jaga ucapanmu, Vanya!” Timothee mengacungkan telunjuknya pada wanita dengan pakaian kekurangan bahan itu.
Ia tampaknya cukup kaya, tapi tampaknya uangnya itu tidak cukup untuk membeli pakaian yang lebih baik. Ia lebih seperti pelacur sekarang dibandingkan dengan wanita dari keluarga terhormat.
“Apa yang salah dari ucapanku?” tanya wanita bernama Vanya itu seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa pun.
Timothee mengangkat tinggi-tinggi tangannya hendak menampar Vanya. Wanita memalingkan wajahnya dan menutup kedua matanya. Ia tampaknya takut dengan ekspresi penuh amarah yang dilemparkan Timothee dan tangan yang sudah diangkat laki-laki itu untuk menamparnya.
“Hah!” teriak Timothee frustasi.
“Seandainya kamu bukan tunangan kakakku, aku sudah menamparmu di sini. Lebih dari itu, kau pasti sudah berakhir di balik jeruji besi karena tindakan kekerasan yang baru saja kau lakukan. Aku sangat yakin AB Company tidak akan tinggal diam melihat pewaris satu-satunya diperlakukan seperti tadi.”
Vanya melongo, ia tampaknya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menatapku dari atas hingga ke bawah seolah-olah aku tidak pantas menjadi penerus AB Company.
Timothee menepis tangan wanita itu. Ia membawaku pergi dari sana.
“Ada hubungan apa kau dengannya Timothee?!” teriak Vanya menuntut penjelasan dengan tidak tahu malu.
Aku memperhatikan ekspresi Timothee yang masih mengeras. Laki-laki itu menuntunku sampai di depan mobilnya.
Lucy masih ada di samping mobil laki-laki itu. Tapi Timothee seolah-olah tidak menyadari keberadaan gadis itu.
“Kak. Kakak baik-baik saja?” tanya Lucy dengan nada polos dan lugu yang dibuat-buat.
Aku memutar malas kedua bola mataku. Aku tidak ingat pernah mengizinkan gadis itu tetap memanggilku kakak setelah ayahku dan ibunya bercerai.
“Minggir!”
Timothee mendorong tubuh Lucy menjauh agar ia bisa membuka pintu mobilnya. Laki-laki itu menuntunku dengan lembut masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan Lucy di belakangnya. Gadis itu tampak sangat kesal dengan perlakuan yang baru saja ia terima.
__ADS_1
Usai aku duduk dengan nyaman di kursi penumpang paling depan, laki-laki itu menutup pintu mobil dan mengitari mobilnya. Ia masuk ke kursi pengemudi yang berada tepat di sebelahku.
Lucy masih ada di sebelah mobil Timothee ketika laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya. Timothee melajukan mobilnya tanpa peduli pada Lucy yang sejak tadi tampaknya menunggu untuk diajak ikut bersama kami.
***
“Hahahahahahaha....” aku tertawa sampai air mataku keluar.
Aku menyeka air mata yang keluar dari pelupuk mataku sambil mencoba meredakan tawa yang membuat perutku terasa sakit.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Timothee penasaran.
Aku hanya menggeleng. Aku tidak pernah membayangkan akan datang hari di mana aku bisa melihat Lucy diperlakukan dengan buruk oleh Timothee.
Laki-laki itu bahkan tidak memedulikan keberadaannya sama sekali. Aku benar-benar merasa sangat puas dengan pertunjukan murahan yang baru saja kulihat.
Aku bisa melihat sekilas Timothee tersenyum. Tapi aku tidak tahu apa yang membuat laki-laki itu tiba-tiba tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum?”
Laki-laki itu menggeleng.
“Bukan apa-apa,” katanya.
Aku mengendikan kedua bahuku tidak peduli. Lagi pula aku tidak begitu penasaran dengan alasan di balik senyuman laki-laki itu. Aku sudah menguatkan diriku sendiri agar tidak pernah terpengaruh atau pun tertarik dengan laki-laki di sebelahku itu.
“Kita mau ke mana?” tanyaku penasaran.
Aku tidak sempat menanyakannya ketika laki-laki itu tiba-tiba membawaku pergi dari kampus. Aku terlalu terkejut dan hanya mengikuti laki-laki itu sampai ke dalam mobilnya.
“Ke rumah sakit.”
Aku melongo mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Aku menganga tidak percaya sambil menatap ke arahnya. Aku bahkan takut kedua bola mataku akan keluar dari tempatnya saking terkejutnya.
“Ke rumah sakit?” tanyaku memastikan.
Aku tidak terluka separah itu sampai harus dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
“Iya.” Laki-laki itu mengangguk.