Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 28


__ADS_3

“Ini minum dulu.” Ia menyodorkan segelas air yang tadi aku tunjuk itu.


Aku melongo menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa ia menyuruhku meminum air yang membuatku menjerit ketakutan?


Tentu saja aku tidak menerima atau bahkan meminum segelas air yang disodorkan ayahku. Aku malah mundur dengan ekspresi penuh ketakutan.


Ayahku yang menyadari ekspresi ketakutan yang kubuat segera menarik tangannya yang menawarkan segelas air padaku tadi. Ia memperhatikan gelas yang berisi air tersebut sambil sesekali melirik ke arahku.


“Ada apa dengan air ini?” tanyanya penasaran.


“I-itu diracun,” kataku terbata-bata.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut mendengar apa yang baru saja kukatakan. Tidak lama setelahnya, tukang kebun dan satpam yang tadi berlari mengejar pembantu yang tadi kabur dari kamarku datang. Mereka membawa serta pembantu yang berusaha kabur tadi.


“Apa yang sudah kau lakukan pada air ini?!” tanya ayahku dengan ekspresi penuh amarah.


Pembantu itu terdiam dan menunduk. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan ayahku padanya. Tapi kediamannya itu sebenarnya sudah mengiyakan pertanyaan ayahku secara tidak langsung.


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pembantu itu. Wajah ayahku memerah karena amarah yang meluap-luap.


“Benar-benar tidak disangka. Membunuhmu bahkan tidak cukup untuk ini! Laporkan dia ke polisi supaya kita bisa tahu apakah dia melakukannya untuk tujuannya sendiri atau dia disetir oleh orang lain!”


“Tidak! Tidak!”


Pembantu itu mencoba untuk bersujud di depan kaki ayahku meskipun kedua tangannya dipegang dengan kuat oleh dua orang laki-laki yang tinggi besar. Ayahku yang melihatnya meronta-ronta agar bisa bersujud meminta maaf padanya, kembali melayangkan sebuah tamparan untuk menyadarkan orang tersebut.


Aku bisa melihat darah di sudut bibirnya. Aku kembali mengingat ketika ayahku menamparku di kehidupanku dulu saat menolak pertunangan dengan Timothee.


“Jangan pernah lepaskan dia sampai polisi tiba!”


“Kamu tenang saja! Ayah akan mengurus semuanya,” kata ayahku menenangkanku.


Gelas berisi air yang kuduga telah diracun masih berada di dalam genggamannya. Ia membawanya untuk diserahkan sebagai barang bukti.


***


“Alicia!” teriak Timothee begitu ia sampai di depan kamarku.

__ADS_1


Penampilannya tampak berantakan. Sendal yang ia kenakan bahkan tidak berpasangan. Ia tampak sangat panik dan khawatir sampai tidak memerhatikan penampilannya sendiri.


“Apa kamu tidak apa?” tanyanya sambil memegang kedua pipiku.


Ia memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa keadaanku. Ini adalah hal yang tidak pernah terjadi di kehidupanku sebelumnya dan aku tidak ingin tersentuh oleh tindakannya yang seperti ini. Aku terus mematrikan dalam pikiranku bahwa dia adalah laki-laki yang sama yang berselingkuh dengan Lucy dan menembakkan dua timah panas pada dadaku dan dia juga orang yang sama yang melihatku mati keracunan tanpa meminta bantuan pada siapa pun.


Aku menepis kedua tangannya yang ada di bahuku. Ia tampak terkejut ketika aku melakukannya.


“Aku tidak apa-apa,” kataku.


“Syukurlah.”


‘Kamu tidak boleh jadi baik. Akan lebih baik  kamu menunjukkan kebusukanmu seperti Lucy dan ibunya agar aku bisa semakin membencimu,’ batinku.


***


Aku dan Timothee keluar dari dalam kamarku. Ayahku tersenyum melihat keberadaan Timothee di rumah kami. Aku sadar bahwa kemungkinan besar ayahku yang menghubunginya sampai ia bisa mengetahui situasi yang terjadi di dalam rumahku saat ini.


“Keadaan Alicia tampaknya sudah membaik. Saya mau pamit pulang, Tuan Anderson,” kata Timothee.


“Tidak. Tinggallah sebentar bersama kami untuk makan malam!”


“Iya," katanya.


Aku hanya bisa tertawa di dalam hatiku.  Aku melirik ke arah Timothee. Aku bahkan sempat ragu dan mengira bahwa ia sudah berubah menjadi lebih baik. Tapi aku yang sudah mengalaminya berulang kali jelas sadar bahwa itu hanyalah kamuflasenya agar ia bisa memiliki kepercayaan ayahku.


***


Makan malam berlangsung tenang dan sesekali diselingi oleh percakapan antara ayahku dan Timothee. Beberapa kali ayahku mencoba untuk membawaku dalam percakapan yang akrab dengan Timothee, tapi aku tidak begitu tertarik. Aku hanya menjawab seadanya sambil tersenyum.


Usai makan malam, Timothee berpamitan pulang. Aku baru bisa menghirup udara dengan lebih tenang setelah kepergian laki-laki itu. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamarku.


“Alexander?” gumamku begitu membuka ponselku dan menjumpai beberapa pesan masuk dari Alexander yang mengisyaratkan kekhawatirannya dengan kondisiku saat ini.


Drrrtt.... Drrrtt...


Ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan singkat kembali dikirimkan oleh laki-laki itu.


‘Dari Alexander:

__ADS_1


Aku ada di depan rumahmu sekarang.’


“Gila!” kataku ketika aku membaca pesan dari laki-laki itu.


Aku bergegas keluar dari rumahku dengan terburu-buru sambil merapal doa agar ia tidak sempat bertemu dengan Timothee yang belum lama pergi.


Aku benar-benar terkejut begitu keluar dari gerbang rumahku dan mendapati laki-laki itu bersandar di depan mobilnya. Ia bertingkah keren sedangkan keselamatanku sendiri nyaris dalam bahaya kalau ia berjumpa dengan Timothee dan Timothee semakin curiga pada kami. Hal yang lebih mengerikan ialah ia akan memutuskan pertunangan kami dan membuatku melarat sebelum aku sempat membuatnya menderita.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya sambil berjalan mendekat ke arahku.


Bukannya menjawab pertanyaannya, aku justru menarik laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak ingin orang lain melihat kami dan menghancurkan rencana balas dendamku.


“Ada apa?” tanyanya heran.


“Kau ini!” aku menahan teriakan frustasiku.


“Bagaimana kalau ada yang melihatmu? Terlebih kalau orang itu adalah Timothee.”


Laki-laki itu mengerutkan keningnya sambil menatapku.


“Bukannya itu justru bagus? Kamu kan memang mau memutuskan pertunanganmu dengan Timothee? Atau kamu sudah berubah pikiran?”


“Tidak. Aku tidak berubah pikiran sama sekali,” kataku.


Aku menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha meredakan emosi dan rasa panikku.


“Memang aku ingin memutuskan pertunanganku dengan Timothee. Tapi bukan begini. Bukankah Bapak sendiri yang mengatakan kalau orang tua Bapak tidak akan merestui jika aku menjadi pihak bersalah yang memutuskan pertunanganku dengan Timothee? Apalagi kesalahannya adalah berselingkuh dengan kakaknya sendiri.”


Alexander tidak membalas perkataanku. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya, menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menatap ke arahku dengan serius.


“Jadi, apa rencanamu?” tanyanya.


“Aku belum tahu. Ada banyak hal yang berubah sekarang.”


“Apa maksudmu?”


Aku tidak menjawab pertanyaan Alexander. Aku memikirkan kembali tentang Timothee dan Lucy. Di kehidupanku sebelumnya, mereka berselingkuh. Tapi aku tidak begitu yakin di kehidupan kali ini. Apalagi setelah Lucy dan ibunya diusir dari rumahku dan perceraian yang terjadi antara ibunya dan ayahku.


Laki-laki itu tentu memikirkan untung rugi yang akan ia dapatkan. Kecuali ia memang dibuat tergila-gila oleh Lucy meskipun gadis itu sudah dalam kondisi melarat.

__ADS_1


__ADS_2