Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 16


__ADS_3

“Sudah aku duga akan berakhir seperti ini,” kata Timothee.


Laki-laki itu tengah duduk di balik kemudi mobilnya.


Aku terdiam heran menatap ke arahnya. Aku ingat betul ini adalah waktu sebelum kejadian di mana aku menunjukkan kekesalanku pada Timothee.  Ini adalah waktu sebelum pertunanganku dan Timothee diputuskan dan membuat perusahaan ayahku berada di ambang kebangkrutan.


“Bagaimana perasaanmu setelah ayahmu menceraikannya?” tanyanya penasaran.


“Menurutmu?”


Laki-laki itu terkekeh. Aku tidak begitu ambil pusing. Aku hanya harus menahan diri sampai tiba di kampus.


Aku yakin bahwa waktu telah diputar kembali. Tapi aku tidak tahu pasti apa penyebabnya dan seberapa jauh waktu diputar balik.


“Apa ini karena permohonanku?” gumamku.


“Hmmm....?”


Timothee menatap heran ke arahku. Mungkin ia mendengarku bergumam tadi.


“Kamu tadi bilang apa?” tanyanya memastikan.


“Bukan apa-apa. Aku hanya berharap waktu bisa diputar balik.”


Aku ingin menguji kebenaran di balik dugaanku barusan. Meskipun aku tidak tahu di waktu mana aku akan kembali, tapi aku masih ingin mencobanya.


***


Aku menatap ke arah Timothee yang duduk di balik kemudi. Aku merasa tidak ada apa pun yang terjadi.


‘Mungkin itu hanyalah dugaan omong kosongku. Lagi pula siapa yang akan percaya jika aku memiliki kekuatan seperti itu. Aku benar-benar konyol,’ batinku.


“Sudah aku duga akan berakhir seperti ini.”


Aku melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan Timothee. Aku menatap heran ke arahnya yang seperti robot yang mengulang-ulang pembicaraannya.


“Bagaimana perasaanmu setelah ayahmu menceraikannya?”


Aku tersenyum lebar menyadari bahwa semua itu bukanlah sekedar dugaan semata. Sebuah ide gila melintas di kepalaku.


“Aku benar-benar ingin menamparmu.”


“Apa?!”


Timothee menaikkan nada suaranya karena terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan.


Kuangkat tanganku tinggi-tinggi, lalu kuarahkan telapak tanganku ke pipinya. Aku menampar pipinya dengan sekuat tenaga.


“AAAH! Apa kamu sudah gila?!”

__ADS_1


Mobil yang kami tumpangi kehilangan keseimbangan setelah aku menampar laki-laki itu. Timothee tampak kesal sekaligus panik karena mobil yang kami kendarai terus berputar di tengah jalan.


PIP!! PIP!!


Sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi ke arah mobil yang sedang kami tumpangi. Mobil itu tampaknya tidak akan bisa menghentikan lajunya sebelum menabrak mobil ini.


“Aku harap waktu bisa diputar balik!” kataku sambil memegang sabuk pengaman yang sedang aku gunakan saking ketakutannya dan memejamkan mata.


***


Suara klakson dari truk yang mendekat ke arah kami tiba-tiba menghilang. Aku masih menggenggam sabuk pengamanku dengan erat. Kedua mataku juga masih terpejam.


“Sudah aku duga akan berakhir seperti ini.”


Aku bernapas lega ketika mendengar suara Timothee yang tampak seperti kaset rusak yang terus menerus mengulang-ulang bagian yang sama.


Peganganku pada sabuk pengaman mengendur. Kedua mataku perlahan kubuka.


Kondisinya sama persis seperti sebelum aku menampar wajah laki-laki itu. Mobil yang kami kendarai sedang menuju ke kampusku dengan Timothee yang duduk di balik bangku kemudi.


“Ada apa denganmu?” Laki-laki itu terkekeh.


“Kenapa kamu tampak ketakutan? Ini bukan pertama kalinya aku mengantarmu ke kampusmu. Tapi kau bertingkah seolah-olah aku adalah pengemudi yang buruk.”


Perkataannya terdengar berbeda dengan sebelumnya. Kali ini ia tidak menanyakan tentang perasaanku setelah ayahku dan ibu Lucy bercerai.


“Kamu tenang saja. Aku akan mengantarmu dengan selamat sampai ke kampusmu.” Laki-laki itu kembali terkekeh.


Aku tidak menanggapi laki-laki yang terus terkekeh di sebelahku itu. Aku malah ngeri otak tertawanya akan rusak nantinya.


***


“Terima kasih.”


Aku turun dari mobil Timothee dan berjalan masuk ke dalam gedung fakultasku untuk mengikuti kuliah hari ini.


Tidak lama setelah aku memasuki gedung fakultasku, aku melihat Alexander baru saja tiba.


Melihat mobil Timothee tidak lagi ada di parkiran, aku segera berbalik dan menghampiri Alexander yang tampaknya akan turun dari mobilnya.


“Selamat pagi, Pak,” sapaku ramah.


“Hmm...”


Aku merasa kesal melihat dia tidak pernah membalas sapaanku. Tapi aku ingin menyingkirkan perasaanku itu hari ini. Ada hal yang cukup menggangguku beberapa hari ini tapi tidak pernah aku tanyakan padanya.


“Saya mau tanya maksud Bapak waktu di rumah sakit itu apa, ya?”


Laki-laki itu tersentak. Tubuhnya sempat menegang, tapi ia berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” katanya pura-pura tidak tahu, tapi aku bisa melihat dia menghindari tatapan mataku.


“Bapak yakin saya harus mengulang ucapan Bapak waktu itu di sini?”


Alexander memijat pangkal hidungnya dan menghela napas.


“Kamu ikut ke ruangan saya.”


Aku tersenyum penuh kemenangan karena seperti menemukan titik kelemahan laki-laki itu. Aku pun mengikutinya berjalan di belakangnya.


***


“Sekarang Bapak bisa jelaskan maksud ucapan Bapak terakhir kali waktu saya masih di rumah sakit itu apa?”


Alexander kembali menghela napas. Ia menatap datar ke arahku.


“Anggap saja ucapan saya itu tidak pernah ada. Sekarang kamu boleh keluar.”


Aku melongo mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Mulutku menganga ingin mengatakan sesuatu tapi aku benar-benar kehabisan kata-kata. Hanya ada ekspresi terkejut dan tidak percaya yang bisa kutunjukkan padanya.


Ia masih menatap datar ke arahku yang bahkan belum berhenti menganga saking terkejutnya. Aku tidak percaya ia adalah orang yang sama yang protes mengenai pertunanganku dan Timothee dengan menanyakan ‘apakah aku akan tetap menerima pertunangan itu jika itu adalah dirinya, bukan Timothee’.


“Bapak serius?” tanyaku memastikan.


“Iya. Menurutmu? Lagi pula kau tampaknya menikmati hubunganmu dengan Timothee saat ini.”


“Bapak benar-benar serius?” ulangku.


Laki-laki itu memicingkan matanya menatapku penuh selidik. Ia tidak menjawab lagi pertanyaanku dan hanya terdiam.


Aku tertawa hambar. Aku menertawakan kebodohanku yang mengira bahwa aku bisa menggunakannya sebagai tameng untuk membalas dendam pada Timothee. Tapi laki-laki itu tampaknya tidak menganggapku sepenting itu.


“Saya sebenarnya tidak menyukai Timothee dan ingin membuat kesepakatan dengan Bapak. Tapi melihat bagaimana tanggapan Bapak atas pertanyaan saya sebelumnya, saya mengurungkan niat saya.”


“Apa maksudmu?”


Laki-laki itu tampak terkejut. Ia mendekatkan dirinya ke arahku.


“Tidak. Bukan apa-apa. Sebaiknya kita lupakan pembicaraan hari ini.”


Aku mencoba membuka pintu yang ada tepat di belakangku dan keluar dari ruangannya. Tapi sebelum aku keluar, laki-laki itu menggenggam tanganku dan menutup kembali pintu itu.


“Coba katakan sekali lagi. Apa aku salah dengar?” tanyanya memastikan.


Aku menghela napas melihat bagaimana tingkahnya saat ini. Aku mengangkat daguku dan menatap kedua matanya menantang.


“Lupakan saja yang sudah saya katakan. Saya merasa bodoh sudah mengatakan hal seperti itu.”


Aku menepis kasar tangannya, membuka kembali pintu yang telah ia tutup sebelumnya dan melangkah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Sebuah senyum tipis kusunggingkan. Aku yakin bahwa laki-laki itu akan kembali mendekatiku. Aku akan memanfaatkannya untuk balas dendam pada Timothee.


__ADS_2