
Lucy dan ibunya dibebaskan. Aku menatap nanar ke arah layar ponselku yang menampilkan berita pembebasan keduanya dan keputusan tidak bersalah yang dikeluarkan atas keduanya.
Aku tahu bahwa Lucy dan ibunya tidak bisa mengeluarkan diri mereka sendiri dari permasalahan ini. Apalagi ayahku adalah orang yang cukup berpengaruh.
“Jadi, ini keputusan kalian?” gumamku.
Ayahku mungkin kaya raya, tapi itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang keluarga Jordan miliki. Menutup kasus seperti ini bukanlah hal sulit bagi mereka.
Drrtt... Drrtt...
Ponselku berdering. Nama Alexander terpampang di sana. Laki-laki itu meneleponku.
Aku mengabaikan panggilan teleponnya. Suasana hatiku terlalu buruk untuk sekedar berbicara dengannya. Aku tidak bisa melupakan fakta bahwa ia juga adalah bagian dari keluarga Jordan.
“Hidupku benar-benar menyedihkan,” gumamku sambil menatap ke arah lantai kamarku.
Drrtt... Drrtt...
Alexander kembali meneleponku meski panggilan teleponnya tidak kuangkat sedari tadi. Setelah panggilan teleponnya mati tanpa kuangkat, laki-laki itu mengirimkan sebuah pesan singkat.
‘Dari Alexander:
Orang tuaku menyetujui pembatalan pertunanganmu dengan Timothee. Pembicaraan pertunangan kita akan dilaksanakan beberapa hari lagi.’
Aku hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh laki-laki itu tanpa membalasnya.
‘Dari Alexander:
Orang tuaku tidak begitu menyukai Lucy, tapi entah mengapa mereka justru membantu Lucy dan ibunya bebas dari jeratan hukum karena mencoba meracunimu.’
Aku tertawa hambar begitu mengetahui bahwa dugaanku ternyata benar. Aku tidak berharap keluarga Jordan akan membelaku, tapi aku tidak berpikir mereka justru akan memihak Lucy dibandingkan denganku.
Drrtt... Drrtt...
Sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponselku. Itu dari nomor yang tidak dikenal. Aku tidak mengangkatnya sama sekali. Suasana hatiku yang buruk membuatku enggan untuk berbicara dengan siapa pun saat ini.
Drrtt... Drrtt...
Sebuah pesan singkat masuk beberapa saat setelah panggilan telepon itu mati dengan sendirinya.
‘Dari Nomor Tidak Dikenal:
Kita harus bicara. Aku tidak mau pertunangan kita dibatalkan. Apa pula maksudnya Alexander yang akan menggantikanku bertunangan denganmu?’
__ADS_1
Tanpa perlu bertanya aku sudah tahu siapa yang menelepon dan mengirimkan pesan singkat itu padaku.
Drrtt... Drrtt...
Panggilan telepon dari nomor yang sama kembali masuk. Suasana hatiku semakin buruk dibuatnya.
“Benar-benar menjijikkan. Bahkan di saat seperti ini pun kau masih tidak tahu kesalahanmu di mana? Bahkan kau tidak meminta maaf sama sekali.”
Aku menolak panggilan telepon itu. Setelahnya aku mematikan ponselku agar tidak ada seorang pun yang menggangguku hari ini.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur, lalu beristirahat.
“Ini benar-benar hari yang melelahkan. Aku bahkan tidak melakukan banyak aktivitas fisik atau berolahraga, tapi seluruh tenagaku seolah-olah dikuras habis sampai tak bersisa sama sekali.”
Perlahan kupejamkan kedua mataku. Aku berharap setelah aku tertidur dan terbangun nanti, ini semua hanyalah mimpi semata. Aku tidak pernah dikhianati atau meninggal karena tertembak dan tidak pernah mengulang waktu sama sekali.
Terlalu lelah rasanya untuk melanjutkan semua ini. Rasanya semakin jauh aku melangkah, semakin sakit yang kurasakan.
Aku tidak pernah melupakan dendamku sama sekali. Tapi tetap saja, aku selalu merasa sakit saat melangkah ketika menuntut bayaran atas apa yang telah mereka lakukan padaku.
“Apa ini adalah langkah yang benar?” gumamku ragu.
***
Aku melangkahkan kedua kakiku di koridor gedung fakultasku. Lagi dan lagi, aku kembali menjadi pusat perhatian di kampus saat ini.
Orang-orang di sekitarku terus berbisik-bisik membicarakan tentangku dan segala hal yang terjadi di sekitarku saat ini.
“Tapi bukankah itu keterlaluan? Meskipun dia membencinya, tapi menuduh orang lain mencoba membunuh itu benar-benar keterlaluan.”
“Entahlah. Tapi bukankah ada artikel yang menyebutkan bahwa ada barang bukti yang ditemukan saat itu?”
“Benarkah?”
Aku mencoba mengabaikan semua tatapan yang tertuju padaku saat ini.
“Tidak ada. Bahkan artikel tentang penangkapan Lucy dan ibunya tidak ada lagi.”
“Apa mungkin ini ada kaitannya dengan foto Lucy tidur dengan putra kedua keluarga Jordan?”
Pembicaraan itu tidak ada habisnya sama sekali meski aku sudah masuk ke dalam ruang kelas. Lucunya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani untuk bertanya langsung padaku. Mereka lebih memilih untuk berbisik-bisik di belakangku dan membicarakan tentangku ketimbang harus bertanya secara langsung padaku.
“Benar-benar pengecut.”
__ADS_1
Aku tidak mengecilkan sama sekali nada suaraku. Aku bahkan tidak peduli jika ada yang tersinggung dengan ucapanku. Lagi pula tidak ada di antara mereka yang benar-benar peduli padaku.
“Wahhh... Apa yang baru saja dia katakan?”
Suara riuh terdengar. Mereka tidak lagi berhati-hati dan mengecilkan suara mereka.
“Alicia!”
Suara bariton dari arah depan kelas membuat suara yang tadinya bising menjadi hening. Aku tahu betul siapa sosok yang baru saja memanggil namaku, tapi aku tidak ingin menghiraukannya.
“Alicia!” panggilnya lagi.
Aku memilih duduk dan menyandarkan kepalaku di atas meja. Aku terlalu malas untuk menanggapi orang-orang yang ada di sekitarku saat ini.
“Aku tahu kamu dengar!”
Alexander datang dan berdiri tepat di sebelahku. Ia memegang tanganku tanpa izin sama sekali, menariknya dan membuatku yang tadinya duduk menjadi berdiri.
Suara riuh kembali terdengar. Mahasiswa-mahasiswa yang melihat apa yang baru saja laki-laki itu lakukan, tidak tahan untuk mengeluarkan suara mereka dan mengobrol tentang suasana yang terjadi saat ini.
Tidak terima dijadikan bahan obrolan, Alexander berbalik menatap mereka satu persatu. Keheningan kembali terasa.
“Kamu ikut aku!”
Laki-laki itu menarik tanganku, membawaku meninggalkan ruang kelas. Kami sudah menjadi bahan tontonan saat ini. Tidak. Aku sudah menjadi bahan tontonan sejak aku melangkahkan kedua kakiku di kampus hari ini.
Perlakuan Alexander terhadapku hari ini tentu akan membuat gosip yang tengah menyebar tentangku di kampus semakin panas. Entah bagaimana jika orang-orang tahu bahwa pertunanganku dan Timothee sudah dibatalkan dan Alexander akan bertunangan denganku menggantikan Timothee.
Aku hanya bisa tersenyum miris meratapi nasibku. Aku bahkan ragu langkah yang kuambil ini sudah benar atau tidak. Ada perasaan takut di dalam benakku tentang semua ini. Aku takut dan khawatir laki-laki ini akan mengkhianatiku seperti yang adiknya lakukan, bahkan mungkin lebih parah lagi.
***
“Aku ingin membuat perjanjian sebelum kita menikah nanti, bahkan sebelum kita bertunangan,” kataku.
“Kenapa?” tanya Alexander heran.
“Aku butuh bukti hitam di atas putih.”
Laki-laki itu memicingkan matanya menatap ke arahku. Ia tampaknya tidak terima dengan apa yang baru saja kuusulkan.
“Apa perasaanku tidak cukup untukmu sama sekali?” tanyanya.
“Timothee juga pernah menekankan tentang perasaannya padaku, tapi ia malah tidur dengan Lucy,” kataku.
__ADS_1
Aku menatap lurus ke arah laki-laki itu. Kedua tanganku kusilangkan di depan dadaku.
“Aku mungkin memilihmu sebagai pilihan terbaik yang kupunya saat ini. Tapi melihat apa yang keluargamu baru saja lakukan, aku butuh sesuatu yang bisa melindungiku di masa depan.”