
Timothee menyeret Lucy menjauh. Ia melirik sekelilingnya untuk memastikan tidak ada siapa pun yang mendengar pembicaraan keduanya saat ini.
“Kamu kenapa sih? Cepat atau lambat semua orang juga akan tahu tentang hal ini,” kata Lucy santai sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
“Bayi itu belum tentu anakku. Jangan gila kau!”
Lucy tertawa mengejek. Ia tampak merasa di puncak segalanya saat ini.
Aku merasa bersyukur keduanya selalu busuk seperti dahulu. Jika mereka tetap sebusuk ini, aku tidak akan merasa bersalah untuk membuat keduanya jatuh ke dalam jurang kesakitan. Rasa sakit yang seharusnya lebih dibandingkan apa yang kurasakan dulu.
Timothee tampak frustasi dengan tingkah Lucy saat ini. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan gadis itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.
***
“Lucy hamil?” tanyaku pada Alexander yang tengah menyetir mobilnya saat ini.
Ia tampak terkejut dengan pertanyaanku. Ia menatapku sejenak kemudian meluruskan pandangannya lagi ke arah depan.
“Ternyata kau sudah tahu.”
Aku tertawa hambar. Ia menyembunyikan hal ini dariku. Mungkin memang sebaiknya aku tidak menaruh kepercayaanku pada laki-laki ini. Dia tidak sebaik itu untuk menjadi tempat sandaranku.
Cerita tentang drama yang ibunya tonton tempo hari kembali melintas di dalam ingatanku. ‘Apa lebih baik kami hanya sekedar menikah kontrak saja? Aku tidak yakin untuk hidup bersama laki-laki ini seumur hidup. Ia terlalu berbahaya,’ batinku.
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut tentang Lucy. Bahkan kami tidak berbicara satu sama lain sampai tiba di kampus. Suasana juga terasa canggung.
Aku benci berada di suasana seperti ini. Seolah-olah semua orang merahasiakan tentang hal ini dariku. Aku benci menjadi satu-satunya pihak yang tidak tahu ketika orang-orang sekelilingku tahu.
Aku keluar dari mobil Alexander tanpa mengucapkan apa pun. Berterima kasih pun tidak. Katakanlah aku tidak tahu diri. Tapi aku benar-benar merasa kesal dengannya.
“Tampaknya perjanjian di antara kami harus direvisi terlebih dahulu,” gumamku.
***
Suasana tampak begitu ramai ketika aku keluar dari ruang kelas. Koridor kelas dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang tengah dihebohkan oleh sesuatu atau seseorang yang tidak kuketahui sama sekali.
“Astaga, dia masih berani datang ke kampus setelah semua yang ia lakukan?”
__ADS_1
“Bukankah dia tidur dengan tunangan Alicia?”
Mendengar namaku disebut-sebut, aku bisa menduga siapa yang baru saja membuat keributan di kampus saat ini. Aku tidak menyangka ia masih berani melangkahkan kedua kakinya di kampus setelah semua yang ia lakukan.
“Bukannya seharusnya ia mendekap di penjara bersama ibunya?”
“Oh. Percobaan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Alicia?”
“Benar-benar kriminal. Ada apa dengan kampus ini? Mereka membiarkan pelaku kriminal masuk ke sini.”
Keadaan sangat ramai sampai aku sulit menyelip masuk di antara kerumunan untuk melihat ekspresi Lucy yang tengah diolok-olok saat ini. Begitu aku berhasil menembus kerumunan, pemandangan pertama yang kulihat adalah Lucy yang tengah berdiri di depan salah satu mahasiswa sambil memberikan tatapan mengancam pada mahasiswa itu.
“Tentu saja. Kalian tidak akan sepertiku!” katanya angkuh.
“Astaga! Apa kalian dengar apa yang baru saja dia katakan?”
“Benar-benar tidak tahu malu.”
Aku mengiyakan pernyataan itu di dalam hatiku. Lucy benar-benar definisi sejati dari seseorang yang tidak tahu malu.
“Apa kalian tidak takut padaku?” tanyanya dengan nada mengejek.
“Aku bisa lolos dari tahanan meskipun orang yang hampir kubunuh adalah anak konglomerat. Kalian yakin bisa lolos kalau aku mencobanya pada kalian?”
Suasana yang tadinya riuh, tiba-tiba menjadi hening. Tidak ada satu orang pun yang berani membantah apa yang baru saja gadis picik itu katakan, termasuk aku.
Lucy tampak puas dengan reaksi yang mereka tunjukkan. Ia benar-benar merasa di awang-awang. Dengan ekspresi yang angkuh, ia berjalan meninggalkan kerumunan.
***
Aku berjalan di koridor menuju ruang Alexander. Hari sudah petang dan kampus sudah sepi. Sebelumnya aku berniat untuk menghubunginya saja lewat ponsel, tapi melihat kampus yang sudah sepi, aku memberanikan diri untuk pergi ke kantornya.
Kami sudah berjanji untuk menyembunyikan tentang rencana pertunangan kami dari semua orang kecuali keluarga terdekat. Cukup merepotkan bila ketahuan terutama oleh orang-orang di kampus mengingat popularitas Alexander di kampus.
“Lucy?”
Langkah kakiku terhenti begitu aku melihat Lucy yang masih berada di kampus. Ia tampak kesal entah karena apa.
__ADS_1
Aku langsung masuk ke salah satu kelas yang berada tidak jauh dariku. Entah mengapa aku tidak ingin ia tahu tentang keberadaanku. Rasanya malas jika harus berhadapan dengannya hari ini.
“Halo.”
Ia tampaknya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.
“Kamu tidak mau menjemputku? Maksudmu kau menyuruhku untuk pulang sendirian? Kau sudah gila?!”
Suaranya melengking. Entah siapa orang yang tengah berbicara lewat telepon saat ini, yang jelas orang itu sudah memancing kemarahannya sampai suaranya bisa melengking seperti itu.
“Kamu tahu kan kalau aku sedang hamil? Hamil anakmu!”
Tidak perlu bertanya lagi. Aku sudah tahu dengan siapa ia tengah menelepon saat ini.
Lucy terdiam sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Aku segera bersembunyi sebelum ia tahu bahwa aku sedang mencuri dengar pembicaraannya dan Timothee saat ini.
“Kau tahu bukan kalau ibumu tidak ingin bayi ini kenapa-kenapa?” Ia melanjutkan pembicaraan.
Aku masih bersembunyi di dalam kelas. Aku tidak berani mengintip karena masih ingin mendengar pembicaraan keduanya.
“Lihat saja kalau kau tidak menjemputku sekarang, aku akan membocorkan tentang kehamilanku pada wartawan. Tentu kau ingat apa yang dikatakan ibumu tentang calon istrimu yang identitasnya harus disembunyikan agar tidak ada yang mencap buruk keturunanmu di masa depan. Kau tentu juga masih ingat kalau aku ini seorang kriminal.”
Ia tertawa mengejek. Meski aku tidak melihatnya, ia pasti tengah meremehkan Timothee saat ini.
“Aku ingin tahu bagaimana reaksi kedua orang tuamu kalau awak media sampai tahu tentang kehamilanku saat ini.”
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Tidak perlu pikir panjang, aku segera bersembunyi di bawah meja dosen yang ada di depan kelas. Meja itu cukup besar untuk bisa menyembunyikan tubuhku tanpa ketahuan oleh siapa pun.
“Rasanya aku melihat bayangan seseorang tadi di sini.”
Aku menahan nafasku. Aku yakin itu adalah Lucy. Aku hampir saja ketahuan.
“Mungkin hanya perasaanku saja,” katanya sambil melangkah menjauh.
Cukup lama aku terdiam dalam posisi meringkuk di bawah meja. Untuk sekedar bernafas pun aku hati-hati agar tidak ketahuan. Aku bisa merasakan jantungku berdegup dengan sangat kencang.
Aku sedikit mengintip untuk memastikan bahwa Lucy sudah pergi. Setelah yakin, aku pun keluar dari tempat persembunyianku.
__ADS_1
Sebuah ide tiba-tiba melintas di dalam kepalaku. Cara yang tepat untuk membalas keluarga Jordan yang sudah mengeluarkan Lucy dan ibunya dari penjara padahal mereka hampir membunuhku.
“Tidak sia-sia aku bersembunyi tadi,” gumamku sambil tersenyum.