Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 43


__ADS_3

Seperti yang sudah kuduga, aku kembali menjadi buah bibir di kampusku. Ada yang menganggap aku sangat suka mencari sensasi. Mereka berpikir bahwa aku dan Lucy hanya berpura-pura bertengkar dan saling bermusuhan hanya untuk menaikkan popularitas kami di kampus. Padahal itu tidak ada gunanya sama sekali bagiku.


Tidak sedikit juga yang merasa kasihan denganku semenjak Lucy memfitnah dengan menyebarkan kabar bahwa aku adalah anak angkat. Semakin bertambah ketika kasus perselingkuhan Lucy dan Timothee terungkap. Itu menjadikan Lucy sebagai orang paling dibenci di kampus. Meskipun ia masih tetap menginjakkan kakinya di kampus dengan penuh percaya diri seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya.


“Dia bukan sih?”


“Iya. Dia yang sama Pak Alexander.”


“Nggak cantik-cantik amat. Wajahnya biasa saja.”


Suara bisik-bisik yang masih bisa dapat kudengar dengan jelas. Pandangan orang-orang tidak lepas dariku. Mereka menilai diriku dari tiap bagian sisi, menceritakan segala kekurangan dan kelebihan yang kumiliki.


Alexander memang cukup populer di kalangan mahasiswa. Parasnya yang tampan merupakan salah satu alasan terbesar dari popularitas itu. Aku yang akan disandingkan dengan laki-laki itu tentu menjadi pembicaraan, selain karena masalah yang terjadi antara aku, Lucy dan Timothee.


“Satu-satunya yang bikin dia bisa sama Pak Alexander hanya karena dia berasal dari keluarga kaya raya. Selebihnya tidak ada.”


Aku tidak bisa menyangkal apa yang baru saja dia katakan tentangku. Itu memang benar. Kalau aku tidak terlahir dari keluarga konglomerat, tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Alexander ataupun Timothee. Tapi itu adalah kerugian untukku sebenarnya karena aku tidak ingin disandingkan dengan keduanya.


Kumundurkan langkahku dan berhenti tepat di depan orang yang baru saja berbicara tentangku. Aku menatap tajam ke arahnya. Meski aku tidak bisa menyangkal apa yang baru saja dia katakan, itu bukan berarti dia bisa berbicara tentangku seenaknya.


 “Kenapa? Itu kan benar,” katanya dengan santai.


PLAK!


Satu tamparan melayang ke pipinya. Aku sudah cukup sabar selama beberapa hari ini terus menjadi bahan gunjingan. Semua dimulai dari ulah Lucy.


Orang-orang yang sejak tadi sibuk membicarakanku mulai terdiam. Masih ada yang sibuk berbisik-bisik tentang tingkahku saat ini, tapi suara mereka sudah lebih kecil dari sebelumnya.

__ADS_1


“Memang benar yang bisa membuatku bersanding dengan Alexander adalah karena aku berasal dari keluarga kaya raya,” kataku tanpa memberikan rasa hormat pada Alexander dengan memanggilnya dengan sebutan “Pak”. Toh, dia adalah calon tunanganku.


“Terus kamu mau apa? Kamu kira bisa mengalahkanku dengan latar belakangmu. Bahkan jika aku menelanjangimu di sini, tidak banyak yang bisa kau lakukan.”


Kutatapi dia yang hanya terdiam sambil menatap kesal ke arahku. Caranya menatapku saat ini benar-benar menyebalkan.


PLAK!


Sebuah tamparan kembali kulayangkan ke pipinya. Orang-orang kembali terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Mereka mungkin tidak menyangka aku akan melakukan tindak kekerasan seperti ini di lingkungan kampus.


“Lihat! Bahkan setelah aku menamparmu dua kali, kau tidak bisa membalasku sama sekali. Itulah perbedaanmu denganku. Jadi, sadar diri dan tutup mulutmu!”


Aku menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi meremehkan. Setelahnya, aku meninggalkannya beserta kerumunan orang yang tercipta karena keributan yang baru saja kubuat.


“Menyebalkan sekali,” kataku sambil mengibaskan rambutku.


***


Saat ini, aku harus memberikan serangan balasan pada Lucy dan keluarga Jordan. Mereka terlalu meremehkanku selama ini sampai bertindak seenaknya.


“Maaf aku terlambat,”  kata seorang laki-laki yang datang bersama rekannya.


  Mereka menggeser kursi yang ada di depanku dan duduk. Ia meluruskan pandangannya ke arahku.


“Jadi, berita bagus apa yang kau maksud?” tanyanya.


Aku mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasku dan menyerahkannya pada mereka. Mereka membukanya dan mendapati foto-foto Lucy dan Timothee tengah berkencan. Tidak hanya itu, foto-foto Lucy yang tengah minum minum di bar dengan pakaian minim pun kusertakan di dalam.

__ADS_1


“Kalian tentu sudah tahu skandal perselingkuhan mantan tunanganku dan mantan saudari tiriku ini.”


“Ini memang berita yang bagus,  Tapi semua orang tahu tentang cerita bahwa mereka telah berkencan. Apa kau punya yang lainnya?”


“Lucy hamil enam belas minggu.”


Laki-laki itu terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan. Aku tersenyum puas melihat reaksinya saat ini.


“Mereka tampaknya sudah berkencan jauh sebelum Lucy mengunggah foto mereka tengah tidur bersama. Kalian tentu ingat bahwa Lucy dan ibunya mencoba membunuhku dengan racun, bukan? Ia dan ibunya sudah dibebaskan dari penjara meski keduanya terbukti bersalah. Keluarga Jordan ada di balik itu semua. Mereka tidak ingin Lucy memiliki jejak kriminal karena akan menjadi menantu mereka. Lucy dan Timothee sudah bertunangan beberapa hari yang lalu, tidak lama setelah Lucy dibebaskan,” kataku panjang lebar.


Laki-laki itu tersenyum sambil melihat foto Lucy satu per satu. Aku ikut tersenyum karena tampaknya akan ada berita bagus yang mereka rilis setelah ini. Aku tidak sabar melihat reaksi keluarga Jordan nanti.


“Aku ingin kalian merilis berita tentang itu, beserta foto-foto ini. Termasuk berita tentang Lucy yang tengah hamil masih minum-minum di bar,” kataku sambil memandangi salah satu foto Lucy yang tampak mabuk dengan sebotol minuman beralkohol dalam genggamannya.


“Ini akan menjadi berita besar,” katanya sambil tersenyum.


“Oh iya. Mungkin keluarga Jordan akan melakukan sesuatu untuk menutupi berita ini,” kataku khawatir.


Senyuman laki-laki itu belum kunjung luntur dari wajahnya. Ia menatap lurus ke arahku.


“Tenang saja. Aku tidak mungkin melepaskan berita ini begitu saja. Lagi pula, kau tidak mungkin membiarkan kami merilis berita ini secara gratis bukan?” katanya.


Aku tersenyum dan menyerahkan selembar cek dengan nominal yang cukup besar. Aku ingin mereka tidak goyah sama sekali meskipun berhadapan dengan keluarga Jordan. Aku tidaklah semiskin itu sampai tidak sanggup menyewa pengacara untuk mendampingi mereka sampai berita ini benar-benar menjadi topik utama yang susah


dihilangkan.


“Jangan lupa untuk merahasiakan identitasku ketika beritanya kalian tulis nanti,” kataku.

__ADS_1


“Tentu saja. Terima kasih,” katanya.


Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan keluar. Aku tidak sabar menunggu reaksi Lucy dan keluarga Jordan setelah ini.


__ADS_2