
Aku menjadi pusat perhatian seharian ini untuk alasan yang tidak kuketahui sama sekali. Tidak ada yang mengajakku bicara seharian ini. Hanya ada tatapan kasihan dan prihatin yang terus diarahkan orang-orang padaku.
Bahkan aku tidak melihat Giovano hari ini. Laki-laki yang biasanya terus menempeliku itu entah mengapa tidak kelihatan akhir-akhir ini.
“Kasihan sekali.”
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang berada di posisinya saat ini.”
Aku terus mendengar suara bisikan dengan nada khawatir, prihatin dan kasihan kepadaku. Tapi tidak ada yang berani mengatakan alasannya langsung padaku. Aku benar-benar dibuat kebingungan.
Suara orang-orang yang sebelumnya tampak mengasihaniku tiba-tiba berubah menjadi suara yang berisi cemoohan-cemoohan tatkala Lucy melintas di koridor. Ia yang memang sudah menjadi ‘public enemy’ di kampus saat ini, tampaknya baru saja membuat masalah baru melihat suasana mengerikan saat ini.
“Dia masih berani datang ke kampus? Benar-benar bermuka tebal.”
“Kalau dia tidak bermuka tebal, tidak mungkin dia akan membuat postingan seperti itu.”
Aku terdiam sejenak berusaha mencerna situasi di sekitarku saat ini.
“Benar-benar menjijikkan. Bukankah dia sama saja murahannya dengan ibunya?”
Langkah Lucy tiba-tiba terhenti. Ia memundurkan langkah kakinya dan menyorot tajam mahasiswi yang barusan mengatainya.
“Apa yang baru saja kamu katakan? Hah!? Coba bilang di depanku kalau berani!” katanya dengan menaikkan nada bicaranya.
Suasana yang memang sudah kacau sejak gadis itu melintas di koridor, menjadi lebih panas ketika ia membentak orang yang baru saja menghujatnya. Tidak tinggal diam, hampir semua orang yang ada di koridor saat itu balik meneriaki Lucy dengan berbagai kalimat-kalimat umpatan.
Ia yang tadinya berani menggertak lawannya, tiba-tiba menjadi ciut. Ia langsung berbalik dan berlari meninggalkan koridor dengan ekspresi penuh amarah.
Begitu ia berpapasan denganku, ia menghentikan langkah kakinya dan menatapku dengan nyalang. Aku yang tidak terima pun balas menatap tajam ke arah dirinya.
“Puas kamu?!” tanyanya dengan sedikit membentak.
Belum sempat aku membalas perkataannya, Alexander muncul entah dari mana dan membawaku meninggalkan kerumunan yang tengah mencemooh Lucy. Perhatian mereka teralih dari Lucy ke arahku dan Alexander.
***
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alexander usai menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.
Aku mengerutkan keningku bingung.
“Aku baik-baik saja. Ada apa dengan semua orang hari ini?”
__ADS_1
Laki-laki itu menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. Aku bisa melihat laki-laki itu tampak lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
“Kamu sudah melihat berita hari ini?”
“Huh?”
Aku terdiam sejenak. Kukeluarkan ponselku dari dalam tas. Ponsel itu masih dalam keadaan mati.
Kunyalakan ponsel itu dan mencari tahu berita yang tengah beredar saat ini. Cara tercepat adalah melihat media sosial milikku sambil berharap berita itu lewat di beranda akunku.
Drrrtt... Drrrtt...
Belum sempat aku menemukan berita yang menghebohkan hari ini, sebuah telepon masuk ke dalam ponselku. Itu dari ayahku. Aku pun segera mengangkatnya.
“Halo.”
“Kamu di mana?” tanya ayahku.
Nada suaranya tampak khawatir. Aku yakin bahwa ia tahu sesuatu.
“Di kampus,” kataku.
“Dalang di balik percobaan peracunan beberapa hari lalu sudah diketahui,” katanya.
“Siapa?” tanyaku dengan gugup.
“Lucy dan ibunya. Mereka menyuap pembantu itu untuk mencampurkan bubuk arsenik dalam jumlah yang cukup banyak ke dalam air minummu. Jumlah itu bahkan bisa membunuhmu.”
Aku tahu Lucy dan ibunya memang membenciku, tapi aku tidak pernah menyangka mereka akan melakukan hal itu di rumahku sendiri.
“Lantas mengapa Lucy masih berkeliaran di kampus?” tanyaku.
Aku bisa mendengar suara ayahku tengah menarik nafas dalam.
“Pihak kepolisian sedang mencarinya saat ini. Ibunya bahkan sudah dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki. Ayah tidak tahu kenapa Lucy masih berkeliaran di kampus kalian. Lalu...”
Ayahku menggantungkan perkataannya. Aku mengerutkan keningku.
“Lalu apa?”
“Tentang Timothee dan Lucy, apa kamu tidak apa-apa?”
__ADS_1
Aku tertawa hambar. Aku tidak tahu bagaimana bisa laki-laki paruh baya itu berbalik dari terus membela Timothee tiba-tiba berada di pihakku.
“Memangnya mereka kenapa? Bukankah ayah tidak percaya dengan apa yang kukatakan terakhir kali?”
Tidak ada jawaban dari laki-laki itu.
Aku yakin Lucy telah melakukan sesuatu tentang ia dan Timothee sampai ayahku kehilangan kepercayaannya pada laki-laki itu.
“Kita bicarakan lagi setelah kamu sampai di rumah,” katanya, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Aku hanya terdiam sambil menatap ke arah lantai. Aku bahkan tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini.
Tatapanku beralih ke arah Alexander yang tengah menatapku dengan cemas saat ini. Ia pasti tahu sesuatu, tapi aku tidak benar-benar yakin untuk menanyakannya. Entah mengapa ada bagian di dalam hatiku yang merasa sedikit ragu.
Fakta bahwa Lucy dan ibunya menyuap pembantu di rumahku untuk meracuniku saja sudah terdengar mengerikan untukku. Aku belum begitu siap untuk mendengar apa yang terjadi dengannya dan Timothee sampai orang-orang terus menatapku dengan tatapan mengasihani seharian ini.
“Kamu mau kuantar pulang?” tanyanya.
“Tidak usah. Aku bawa mobil,” tolakku.
Alexander tampak tidak begitu puas dengan jawabanku. Ia memegang kedua bahuku dan menyejajarkan pandangannya dengan pandanganku.
“Aku sempat dengar tadi kalau Lucy dan ibunya berusaha meracunimu. Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian di saat Lucy masih berkeliaran bebas seperti sekarang.”
“Lalu bagaimana dengan mobilku?” tanyaku.
“Aku akan meminta seseorang untuk membawanya ke rumahmu.”
Tidak ada lagi bantahan yang keluar dari mulutku. Aku mengikuti Alexander berjalan ke arah mobilnya. Aku juga ragu untuk pulang sendirian di situasi seperti ini. Bukan tidak mungkin Lucy kembali merencanakan pembunuhan untukku.
Memang lebih aman jika aku pulang dengan Alexander. Lagi pula, ia tidak mungkin senekat itu sampai berani mengincar nyawa pewaris JJ Group yang memiliki pengaruh sangat besar saat ini.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponselku kembali bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk. Aku terdiam begitu mengetahui siapa yang tengah meneleponku.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Alexander.
“Dari Timothee,” kataku sambil tetap menatap layar ponselku.
Laki-laki itu mengambil ponselku dan menolak panggilan telepon dari Timothee. Aku bisa melihat kilatan amarah dari tatapannya.
__ADS_1
“Jangan pedulikan laki-laki brengsek itu!”
Aku hanya terdiam dan mengikutinya menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya meninggalkan parkiran fakultasku.