
Aku memutar otak untuk mencari cara terbaik menghancurkan dua orang itu. Meski di kehidupan kali ini aku belum menemukan bukti nyata perselingkuhan keduanya dengan kedua bola mataku. Tapi tetap saja aku tidak bisa membenarkan kedekatan keduanya saat ini. Cepat atau lambat hal yang sama akan kembali terulang.
Tiba-tiba satu pikiran jahat melintas di dalam benakku.
‘Kalau aku tidak bisa menemukannya, aku tinggal membuatnya saja,’ batinku.
Pikiran itu benar-benar terdengar sangat jahat. Tapi aku tidak benar-benar berniat untuk merealisasikannya.
Drrtt... Drrtt...
Ponselku bergetar. Satu pesan singkat masuk ke dalam ponselku. Pesan singkat yang dikirim oleh seseorang yang selalu kuhindari akhir-akhir ini.
‘Dari Timothee:
Sampai kapan kau akan mendiamiku?'
Drrtt... Drrtt..
Untuk yang ke sekian kalinya, ia kembali mengirimkan pesan singkat padaku meski tak ada satu pun pesan darinya yang kubalas.
‘Dari Timothee:
Mengapa kau tidak membiarkanku menjelaskannya? Ini semua hanyalah kesalahpahaman yang konyol.’
Aku tertawa hambar sambil menatap langit-langi kamarku.
“Jika ini adalah kesalahpahaman yang konyol, maka kematianku di kehidupan sebelumnya hanyalah omong kosong bagimu,” kataku.
***
Aku berniat ke kampus sambil mengendarai mobil mini cooper berwarna kuning yang terparkir di garasi mobil selama beberapa hari belakangan ini. Itu adalah mobil milikku. Semenjak aku bertunangan dengan Timothee dan sebelum kejadian di mana aku mempermalukannya dengan Lucy di kampus, aku tidak lagi mengendarainya.
Aku tersentak begitu pagar rumahku selesai dibuka oleh tukang kebun yang bekerja di rumahku. Beberapa detik kemudian, aku mengatur kembali ekspresiku dan menatap datar sosok yang tengah berdiri di depan pagar rumahku sambil menyandarkan tubuhnya di mobilnya.
Tok... Tok...
Laki-laki itu mengetuk kaca mobilku.
“Kita harus bicara,” katanya.
Tidak ingin mengindahkan permintaannya, aku bersikap cuek dan melajukan mobilku ke kampus. Aku belum ingin menemuinya atau berbicara dengannya.
Timothee, laki-laki yang baru saja kuabaikan, tidak tinggal diam melihat apa yang baru saja kulakukan. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya tepat di belakang mobilku.
__ADS_1
Ketika jalan mulai lenggang, ia tiba-tiba meningkatkan kecepatan mobilnya dan mendahului mobilku. Tidak lama setelahnya ia menghentikan mobilnya dengan posisi memutar sembilan puluh derajat dari arah sebelumnya secara tiba-tiba tepat di depan mobilku.
CITTTTTT!!!
“Kau sudah gila?!” teriakku dari dalam mobil.
Aku nyaris menabrak mobilnya. Rem mobilku yang kuinjak dengan sekuat tenaga berdecit. Aku sangat yakin ban mobilku meninggalkan jejak pada aspal setelah kejadian barusan.
Timothee turun dari dalam mobilnya, berjalan ke arahku dan membuka pintu mobilku tanpa meminta izin dariku.
“Aku sudah bilang padamu bahwa kita harus bicara,” katanya sambil menatap ke arahku.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan dan tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu!”
Aku memundurkan mobilku tanpa peduli pintunya masih dibuka oleh laki-laki itu.
Seolah tidak kehilangan akal, Timothee segera melompat masuk ke dalam mobilku, lalu menutup pintunya. Aku menghentikan pergerakanku yang sedang memundurkan mobilku. Aku melongo menyadari hal gila yang baru saja ia lakukan.
“Kau gila?!” teriakku.
Takdir seolah tidak ingin membiarkanku beristirahat dan menenangkan diri dari rasa terkejutku. Sebelum aku selesai dengan keterkejutanku dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Timothee, aku kembali dikejutkan oleh suara hantaman yang sangat keras pada mobil laki-laki itu yang ia biarkan dengan posisi menutupi separuh badan jalan.
Sebuah truk baru saja menabraknya dengan sangat keras. Mobilku yang tidak jauh darinya tidak bisa menghindarinya.
Beberapa detik kemudian, hal yang kutakutkan terjadi. Truk itu tidak berhenti. Ia menabrak mobilku yang berada tidak jauh dari mobil Timothee.
“Aku berharap waktu diputar kembali!” aku berteriak dengan sepenuh hati untuk memohon. Aku bahkan tidak peduli jika Timothee yang duduk di sampingku mendengar apa yang baru saja kukatakan.
***
Tok... Tok...
Aku mendengar suara ketukan dari sampingku. Aku membuka kedua mataku dan mendapati Timothee tengah mengetuk kaca mobil yang berada tepat di sampingku.
“Kita harus bicara,” katanya.
Aku sadar bahwa waktu telah diputar kembali ke saat sebelum kecelakaan mengerikan itu terjadi. Itu semua tidak akan terjadi jika aku tidak memilih untuk mengabaikan Timothee dan pergi ke kampus.
Perlahan, aku menurunkan kaca mobilku dan memberi tatapan tajam pada laki-laki itu.
“Apa lagi yang perlu dibicarakan?” tanyaku sinis.
Timothee mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
“Kamu tahu kalau yang terjadi antara aku dan Lucy itu tidak benar kan?”
Di dalam hati menertawakannya saat ini. Setelah semua yang kualami, baru sekarang ia mempertanyakannya.
“Entahlah,” kataku.
“Aku bahkan tidak tahu kau sekarang ada di pihakku atau justru tengah berdiri di pihak Lucy. Kau tahu dengan jelas bahwa hubungan kami tidak baik bukan?”
“Tidak baik?” tanyanya dengan tatapan menghakimi.
“Bukankah hanya kau yang berpikir demikian?”
Aku tertawa dengan sangat keras mendengar apa yang baru saja ia lontarkan dari mulutnya. Aku bersyukur tidak terjatuh pada pelukan laki-laki ini.
“Lihat! Sekarang kau bahkan membelanya. Tidak ada yang perlu dipertegas di antara kita. Kau sudah selesai bicara bukan? Sekarang menyingkir!! Aku harus pergi ke kampus sekarang. Berbicara denganmu benar-benar hanya membuang-buang waktuku saja.”
Aku kembali menaikkan kaca mobilku dan melajukan mobilku ke kampus. Aku melirik laki-laki itu lewat kaca spion mobilku, khawatir ia akan kembali melakukan hal yang sama dan membuat kami kecelakaan.
Nafas lega baru bisa kuhembuskan ketika laki-laki itu tidak mengikutiku sama sekali. Aku pun berkendara dengan tenang menuju kampus.
***
Drrrtt... Drrrtt...
Ponselku terus bergetar sejak tadi. Tidak hanya itu, aku merasa kembali menjadi pusat perhatian hari ini tanpa kutahu sebabnya. Orang-orang di sekitarku terus berbisik-bisik seolah-olah tengah mengasihaniku.
‘Semua orang kenapa sih hari ini?’ batinku menggerutu.
Aku benar-benar tidak nyaman dengan tatapan-tatapan mengasihani yang terus diarahkan padaku, meskipun aku memang mengharapkannya ketika membuat masalah dengan Timothee. Tapi tatapan hari ini seolah-olah lebih dibandingkan dengan sebelumnya.
Drrtt... Drrtt...
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku. Belum sempat aku membuka pesan itu, Timothee meneleponku. Tentu saja aku tidak mengangkat teleponnya itu. Aku mematikannya dan kembali membuka pesan singkat yang masuk sebelumnya.
‘Dari Alexander:
Apakah kau sudah melihat berita hari ini?’
Aku menelengkan kepalaku dengan tatapan bingung.
‘Berita? Apa maksudnya? Memangnya ada apa dengan berita hari ini?’ batinku.
Belum sempat aku menemukan jawaban atas tanda tanya besar yang ada di dalam kepalaku saat ini, Timothee kembali meneleponku. Aku kembali mematikan panggilan teleponnya, tapi ia seakan-akan tidak menyerah dan terus meneleponku berulang kali. Akhirnya aku mematikan ponselku dan terus berkutat di dalam pikiranku sendiri, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan aneh yang dikirimkan Alexander barusan.
__ADS_1