
“Kamu kenapa sih?” tanya Timothee kesal.
Aku tidak melanjutkan langkahku. Rasa kesal memenuhi kepala dan rongga dadaku saat ini.
“Kak Alicia masih marah sama aku?”
Aku tertawa hambar begitu menyadari keberadaan Lucy di dekatku. Aku menertawakan nasibku yang harus selalu terikat dengan mereka berdua.
Kubalikkan tubuhku menatap Lucy yang tengah memasang ekspresi lugu padaku.
“Sejak kapan aku menjadi kakakmu? Sejak kapan pula kamu memanggilku kakak? Belum puas kau dan ibumu membuatku masuk rumah sakit?”
Gadis itu terdiam setelah mendengar perkataanku yang penuh dengan kekesalan.
“Kalian kan masih saudara?!” ucap Timothee seolah-olah menegaskan hubunganku dengan Lucy.
Aku kembali tertawa hambar mendengar ucapan laki-laki itu. Dia terdengar munafik dengan apa yang saat ini ia ucapkan.
“Kalian benar-benar serasi.” Aku menatap Lucy dan Timothee bergantian dengan tatapan jijik dan meremehkan.
“Apa maksudmu? Aku ini masih tunanganmu.”
“Sadar juga kau kalau kau masih tunanganku.”
Kuarahkan pandanganku ke Lucy yang masih terdiam. Sekilas aku bisa melihat ia tersenyum di tengah-tengah perdebatanku dengan Timothee.
“Hei! Kau j4l4ng yang sudah diusir dari rumahku.”
Lucy tampak tersentak. Wajahnya memucat begitu mendengar perkataanku yang terdengar sangat kasar.
Ia menganga hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya.
“Bukannya ucapanmu keterlaluan?” kata Timothee membela Lucy.
“Selain lupa diri, kau juga munafik, ya?”
Aku mendekatkan wajahku ke Timothee.
“Apa kau tahu, Lucy? Bagaimana laki-laki ini menghinamu dan ibumu habis-habisan saat menemaniku di rumah sakit? Lucu sekali sekarang melihatnya membelamu.”
Tidak ingin berlama-lama berada di sekitar keduanya, aku berbalik dan pergi. Keduanya tampak canggung satu sama lain. Nama Lucy pun semakin hancur di kampus ini.
__ADS_1
***
Aku sedang menunggu taksi lewat di jalan raya yang ada tepat di depan gerbang kampusku.
Banyak orang lalu lalang memperhatikanku yang tengah menunggu taksi. Mereka tengah membicarakanku yang tidak pulang karena Timothee tengah asyik berbincang dengan Lucy.
‘Belum lama ini mereka mengolok-olokku. Sekarang mereka bersikap seolah-olah mengasihaniku,’ batinku.
Sebuah mobil pajero sport hitam berhenti tepat di depanku. Aku melangkah menjauh dari mobil itu karena ingin memberhentikan taksi yang melintas.
Bukannya jadi jauh, mobil itu justru mengikuti arah pergerakanku. Aku benar-benar kesal dibuatnya.
Pengemudi mobil itu menurunkan kaca mobilnya sehingga aku bisa melihat sosoknya. Aku hanya bisa menghela nafas kasar saat mengetahuinya.
“Kamu belum pulang?” tanya Alexander.
“Bapak tidak lihat saya masih ada di sini? Kalau saya sudah pulang, tidak mungkin saya masih ada di sini.”
Alexander mendesah mendengarku yang tidak pernah menerapkan sopan santun saat berhadapan dengannya kecuali di dalam kelas.
“Masuk!” perintahnya.
Aku memperhatikan sekitarku saat ini. Aku yang seharian menjadi pusat perhatian saja sebenarnya sudah cukup merepotkanku, tapi laki-laki ini seperti ingin menambah berat hariku.
Aku hanya bisa tersenyum miris mengetahui betapa munafiknya orang-orang di sekitarku saat ini. Padahal belum lama mereka menyatakan rasa prihatinnya padaku, tapi sekarang mereka sudah mulai mengolok-olokku lagi.
“Taksi!”
Aku memberhentikan taksi yang sedang melintas, mengabaikan tawaran Alexander untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat aku melangkah ke arah taksi yang sudah menepi di dekat gerbang kampusku.
Sebelum aku masuk ke dalam taksi, aku bisa merasakan tarikan pada lenganku.
Entah sejak kapan Alexander sudah keluar dari dalam mobilnya. Ia tengah menarik lenganku untuk mencegahku masuk ke dalam taksi.
“Maaf, ya, Pak. Tidak jadi,” katanya.
Aku melongo mendengarnya. Taksi yang sudah susah payah kudapatkan malah ia suruh untuk pergi meninggalkan aku dengannya.
Kutepis kasar tangannya. Aku benar-benar kesal dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Apa maksud Bapak barusan? Bapak kira saya akan senang kalau Bapak melakukan itu? Bapak kira saya sama seperti kebanyakan mahasiswi lain yang suka sama Bapak? Bapak terlalu banyak berkhayal tampaknya.”
__ADS_1
Darahku terasa mendidih. Aku yakin wajahku tengah memerah karena kesal saat ini.
Tidak peduli lagi meski aku menjadi bahan gunjingan hari ini. Aku juga tidak peduli harus mengulang mata kuliah yang ia ajarkan tahun depan karena sikap tidak sopanku ini.
Aku benar-benar merasa kesal dan benci dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Bapak tahu kalau ini itu pemaksaan?!”
Bisik-bisik mulai terdengar. Orang-orang mulai mempertanyakan hubunganku dengan Alexander di saat aku masih berstatus sebagai tunangan adiknya, Timothee.
Aku berjalan meninggalkan gerbang kampus. Aku benci menjadi pusat perhatian yang memosisikanku sebagai sosok ****** yang tidak tahu diri seperti Lucy.
“Aku benar-benar harus mencari kandidat lain yang bisa kuajak kerja sama selain Alexander,” gumamku.
***
Setelah cukup lama berjalan kaki, akhirnya aku bisa menghentikan taksi yang tengah melintas untuk mengantarku pulang ke rumah. Tentu saja dengan upah, tidak mungkin gratis.
Ketika pagar rumahku sudah terlihat, rasa lega yang sebelumnya kurasakan mendadak menguap begitu aku melihat dua orang tengah berdiri di depan pagar dengan ekspresi angkuhnya. Mereka tampaknya tengah berdebat dengan satpam di rumahku.
“Terima kasih, Pak,” ucapku pada sopir taksi seraya memberikan uang ongkos taksiku.
Aku keluar dari dalam taksi untuk masuk ke dalam rumah mengabaikan dua orang yang paling kubenci itu.
“Alicia!”
Keduanya mendekat ke arahku seperti lintah ketika aku sudah mencoba mengabaikan keberadaan keduanya. Ibu Lucy menghentikan gerakanku untuk masuk dengan memegang tanganku.
“Kamu tidak akan tega membiarkan kami tidur di luar kan? Apalagi ayahmu baru-baru ini memblokir kartu kredit milikku dan Lucy.”
Lucy yang berdiri di sebelahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya berusaha keras mengambil simpatiku, tapi aku tidak akan pernah menaruh rasa simpati kepada keduanya. Sedikit pun tidak akan pernah mengingat apa yang sudah mereka lakukan padaku.
Kutepis kasar tangannya, lalu mengelap tanganku yang sudah ia sentuh dengan ekspresi jijik seolah-olah baru saja bersentuhan dengan benda paling kotor dan menjijikkan yang pernah aku temui.
Setelahnya aku kembali mengabaikan keduanya. Aku membiarkan satpam di rumahku melakukan tugasnya dengan menghalangi dua orang itu kembali mendekatiku.
“Alicia! Alicia!”
Suara mobil yang kuduga adalah ayahku, tiba sebelum aku membuka pintu rumah. Tampaknya laki-laki itu pulang lebih awal dibandingkan biasanya.
Lucy dan ibunya yang tadi berusaha menghampiriku untuk mengemis rasa iba, berbalik ke arah mobil ayahku untuk melakukan hal yang sama. Mereka tahu benar bahwa kekuasaan tertinggi di rumah ini ada di tangan ayahku dan bahwa ayahku lebih fleksibel dibandingkan dengan diriku.
__ADS_1
Aku berbalik sambil menyilangkan tanganku di dada. Aku ingin melihat bagaimana cara ayahku menghadapi keduanya di depan kedua mataku sendiri. Aku ingin tahu apakah ia masih akan iba dan membiarkan keduanya masuk ke dalam rumah kami atau tidak.