
Hubunganku dengan ayahku makin memburuk akhir-akhir ini. Aku dan ayahku seolah-olah tengah melakukan perang dingin. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut di antara kami setelah itu. Aku hanya merasakan kecewa tiap kali berpapasan dengannya dan enggan untuk memulai pembicaraan lebih dulu dengannya.
“Bagaimana reaksi kedua orang tuamu?” tanyaku pada Alexander.
Aku semakin akrab dengan laki-laki itu semenjak pertengkaranku dengan Timothee tempo hari. Aku juga sengaja membatasi pertemuanku dengan Timothee. Bahkan aku tidak begitu ingin berkomunikasi dengan laki-laki itu.
Meskipun beberapa hari sebelumnya ia memperlakukanku dengan baik dan membuatku sempat ragu. Tapi kedekatannya dengan Lucy kembali menyadarkanku bahwa pada dasarnya manusia tidak akan berubah secepat itu.
Kedekatan keduanya membuatku bersyukur karena setidaknya aku tidak salah membenci orang dan dendam yang tertanam di dalam hatiku tidak kunjung surut. Niatku untuk membalas dendam pada keduanya masih membara.
“Mereka tentu kaget dengan perselingkuhan Timothee dan Lucy bukan?” tanyaku penasaran.
“Selingkuh?” laki-laki itu mengerutkan keningnya sambil melirik ke arahku.
Aku terdiam sejenak memikirkan kembali apa yang baru saja keluar dari mulutku. Mungkin memang terlalu awal untuk menyimpulkan kedekatan keduanya sebagai perselingkuhan. Tapi tetap saja kedekatan keduanya tetap tidak bisa dibenarkan mengingat Timothee adalah tunanganku dan Lucy adalah orang yang kubenci.
“Menurutmu?”
“Bukankah terlalu awal untuk menyebutnya perselingkuhan?”
“Apa bedanya?” tanyaku tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Aku melirik ke arah laki-laki yang tengah duduk di sebelahku itu sambil mengemudikan mobilnya menuju kampus. Tampaknya sopirku sudah berganti dari Timothee menjadi Alexander.
Laki-laki itu hanya mengendikan kedua bahunya tak acuh. Aku pun tidak bertanya lagi. Aku justru lebih penasaran pada perubahan sikapnya saat ini yang seakan-akan tidak lagi tertarik padaku.
“Ada apa dengan reaksimu sekarang?” tanyaku.
“Jangan bilang sekarang kamu malah berpihak pada Timothee dan Lucy? Kalau benar, mari kita sudahi saja. Aku mungkin lebih baik mencari orang lain yang mau membantuku dibandingkan orang yang berubah-ubah sepertimu.”
Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Aku cukup kesal dengan sikap plinplannya saat ini.
__ADS_1
“Aku mau turun. Rasanya benar-benar tidak nyaman,” kataku.
Alexander seolah-olah tuli dengan apa yang baru saja kukatakan. Ia mengabaikan perkataanku dan terus melajukan mobilnya tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali.
Wajahnya tampak mengeras. Tapi ia tidak membantah sama sekali apa yang kukatakan padanya. Aku benar-benar merasa kesal dengan hal itu.
“Aku mau turun, Pak,” kataku dengan penuh penekanan.
“Lagi pula bukan hal yang baik jika aku dan Bapak tiba di kampus bersama-sama. Apalagi Bapak sepertinya mulai merasa ragu dengan langkah yang kubuat. Mari kita hentikan saja sampai di sini sebelum kita melangkah lebih jauh lagi.”
Ban mobil laki-laki itu berdecit karena ia berhenti mendadak. Aku bahkan nyaris terlempar ke depan jika tidak mengenakan sabuk pengaman.
“Bapak itu kenapa sih?”
Alexander menatap kosong ke arah jalan yang berada tepat di depan kami saat ini.
“Apa maksudmu? Kamu mau menyudahi apa?” tanyanya dengan tatapan kosong.
Menyadari mobil laki-laki itu telah berhenti. Aku pun segera membuka pintu dan keluar dari mobil laki-laki itu.
Kukeluarkan ponselku dan segara memesan taksi online untuk mengantarku ke kampus. Aku tidak begitu menyukai suasana antara aku dan Alexander saat ini. Atau mungkin aku saja yang memang terlalu sensitif akhir-akhir ini.
“Kamu mau ke mana?”
Laki-laki itu ikut keluar dari mobilnya dan menyusulku yang sudah berdiri di trotoar sambil memesan taksi online.
“Ke kampus,” kataku dengan nada datar tanpa melirik sedikit pun pada Alexander.
“Apa kamu tidak percaya padaku?” tanyanya.
Aku melirik ke arahnya dengan tatapan meremehkan. Tidak ada sedikit pun rasa hormat yang kuletakkan pada laki-laki itu saat ini.
__ADS_1
“Bukankah Bapak bahkan tidak bisa menyangkal sama sekali kalau Bapak memang ragu dan tidak bisa memihak salah satu di antara aku dan Timothee. Aku tidak menyukai orang yang plinplan dan setengah-setengah.”
Laki-laki itu terdiam. Ia yang berdiri di sampingku saat ini tidak seperti Alexander yang kukenal selama ini. Rasanya ia lebih pengecut dibandingkan dengan biasanya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?” tanyanya.
“Timothee bahkan menolak dengan tegas untuk memutuskan pertunangan denganmu dan terus meyakinkan kedua orang tuaku bahwa ia dan Lucy tidak ada hubungan apa-apa. Orang tuaku pun lebih memilih untuk mempercayai ucapannya saat ini dibandingkan dengan rumor yang beredar tentang keduanya.”
Aku mengerutkan keningku dan memberinya tatapan heran.
“Bukankah Bapak juga menginginkanku? Lantas kenapa Bapak tidak memperjuangkanku di depan kedua orang tua Bapak?” tanyaku penasaran.
“Itu tidaklah semudah yang kau pikirkan. Aku juga sedang mencari cara untuk itu. Tapi Timothee terus bersikeras bahwa ia tidak akan memutuskan pertunangannya denganmu apa pun yang terjadi. Tampaknya ia mulai menyukaimu,” kata Alexander dengan suara parau.
Aku memutar malas kedua bola mataku. Sosok yang tengah berdiri di sampingku saat ini benar-benar tidak tampak seperti Alexander si dosen killer di kampus. Atau Alexander si pewaris JJ Group. Tapi hanya Alexander si pria menyedihkan yang bahkan tidak bisa memperjuangkan perasaannya sama sekali. Meski aku pun tidak memiliki niatan untuk membalas perasaannya itu sama sekali.
Terdengar jahat? Lagi pula aku tidak memiliki kewajiban untuk menjadi baik pada semua orang. Aku hanya ingin menjadi baik demi diriku dan masa depanku sendiri.
“Bapak sadar nggak sih kalau Bapak itu pewaris JJ Group? Kenapa bapak seperti sedang kehilangan akal saat ini?” kataku dengan tatapan tidak percaya pada laki-laki itu.
“Mungkin Timothee tidak ingin memutuskan pertunangan kami, tapi aku mau. Kalau tidak bisa dengan rumor kemarin, mari kita buat rumor itu seolah-olah menjadi fakta yang bahkan tidak bisa mereka bantah sama sekali,” kataku dengan penuh percaya diri.
Alexander hanya melirik ke arahku. Aku bahkan sudah menyiapkan rencana untuk menghancurkan dua orang itu sekaligus.
Aku bukan tidak tahu bahwa Timothee masih sering bertemu dengan Lucy meskipun hubunganku dengannya memburuk akhir-akhir ini. Itu membuatku ingin tertawa begitu mendengarnya menolak untuk membatalkan pertunangan denganku. Ia bahkan tidak bisa memilih salah satu di antara aku dengan Lucy. Benar-benar pecundang.
“Apa rencanamu?” tanya Alexander penasaran.
“Terkadang kita harus menjadi licik saat berhadapan dengan orang yang licik,” kataku sambil menyeringai.
“Kalau tidak begitu, kita yang akan hancur.”
__ADS_1