Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 24


__ADS_3

Drrrtt... Drrtt...


Ponselku bergetar sejak tadi. Nama Alexander tertera pada layarnya tengah melakukan panggilan. Tapi aku tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengangkat panggilan telepon dari laki-laki itu.


Drrrtt...Drrtt...


Tampaknya laki-laki itu tidak ingin menyerah meski aku terus mengabaikan panggilan teleponnya sedari tadi.


“Huh! Sudah kukatakan padamu sebelumnya kalau kau kembali ke arahku tidaklah semudah saat aku datang menawarkan kesepakatan denganmu.”


Drrrtt... Drrrtt...


Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku setelah panggilan telepon dari Alexander mati untuk ke sekian kalinya.


‘Dari Alexander:


Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? Apakah tawaranmu itu sudah tidak berlaku lagi?’


Aku tertawa melihat isi pesan singkat yang dikirimkan laki-laki itu padaku. Aku tidak ingin membalas pesannya itu. Lagi pula aku sudah memperingatinya sejak awal.


***


Ini adalah hari yang hampir sama seperti biasanya. Kegiatan utamaku adalah mengikuti perkuliahan yang memang sudah menjadi kewajibanku sebagai mahasiswa.


Hal yang membuat hari ini terasa berbeda adalah sikap Giovano yang tampak canggung denganku. Mungkin ia baru saja tersadarkan dari ulahnya kemarin yang memang terasa sangat aneh.


“Alicia!” Giovano memanggil namaku dengan canggung. Laki-laki itu bahkan mengusap-usap belakang tengkuknya karena gugup.


“Ya?”


“Ucapanku kemarin jangan terlalu dipikirkan. Mungkin aku terlalu banyak pikiran sampai berbicara seperti itu.”


Aku hanya mengangguk-angguk paham. Lagi pula aku memang tidak terlalu memikirkannya. Aku tahu benar bahwa ia tidak mungkin memendam perasaan padaku, yang sudah ia kenal sejak lama. Bahkan jika itu terjadi, aku bahkan tidak bisa membayangkannya karena aku merasa itu adalah hal yang aneh.


Drrrtt... Drrrttt...


Sebuah pesan singkat kembali masuk ke dalam ponselku. Aku membukanya dan menyeringai begitu melihat nama Alexander muncul sebagai pengirim pesan itu.


‘Dari Alexander:


Selesai kuliah, kamu ke ruangan saya.’

__ADS_1


Tidakvada balasan yang kukirimkan pada laki-laki itu. Meski terkesan tidak sopan, aku masih ingin membalasnya karena sikap angkuhnya selama ini. Aku ingin setidaknya dia merasa gelisah dan frustasi karena kuabaikan. Tapi tentu saja aku akan tetap pergi ke ruangannya setelah semua kuliahku hari ini berakhir.


***


Tok... Tok...


Aku mengetuk pintu ruangan Alexander. Dia masih dosen di kampus ini, setidaknya aku harus menunjukkan sedikit rasa sopan demi menjaga reputasiku yang baru saja kubangun kembali setelah apa yang terjadi dengan Lucy terakhir kali.


“Silahkan masuk,” suara bariton milik laki-laki itu terdengar dari dalam ruangan.


Ceklek!


Aku membuka pintu ruangan Alexander dan masuk ke dalam. Aku sedikit terkejut melihat penampilan laki-laki itu yang tampak berantakan. Rambutnya acak-acakan, dasinya sudah dikendurkan dan dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka.


“Tampaknya situasi yang Bapak alami cukup buruk,” kataku sambil terkekeh.


Alexander menatap tajam ke arahku yang menertawakan penampilannya hari ini. Tapi dari sorot matanya itu bisa kulihat bahwa dia sedang merasa sangat frustasi saat ini.


“Apa kamu memang sudah mengetahuinya sejak awal?”


Ucapan dan nada suara laki-laki itu terdengar sedang menghakimiku. Meski nada suaranya tidak dinaikkan, namun penekanan pada tiap kata yang ia ucapkan membuatku merasakan kesan dingin dan sinis yang tengah ia sampaikan pada perkataannya itu. Aku sudah menduga bahwa pada akhirnya ia akan mencurigaiku meskipun ia memang memiliki perasaan padaku.


“Apa maksud Bapak?” tanyaku pura-pura tidak tahu maksud laki-laki itu.


“Aku bisa melihat tatapanmu yang sedang menertawakanku saat ini.”


Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya baru saja membentakku. Tatapan meremehkan kulemparkan kepadanya begitu tawaku usai.


“Bukankah saya sudah bilang sama Bapak sebelumnya. Bapak akan tetap berjalan ke arah saya apa pun yang akan terjadi. Bukankah Bapak sebenarnya memang menginginkan saya?” kataku meremehkan.


Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Kediamannya seolah membenarkan apa yang baru saja kukatakan padanya.


Ia menghela nafas kasar. Ia duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Tatapannya mengarah pada langit-langir ruangannya.


“Kamu benar. Memang sejak awal aku memang menginginkanmu. Aku tidak bisa membantahnya,” katanya.


Ia tampak pasrah dengan situasinya saat ini. Aku menyeringai mendengar ucapan laki-laki itu.


Aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang ada di dalam ruangan laki-laki itu. Kesopanan yang aku tunjukkan sebelumnya dengan mengetuk pintu ruangannya hanya berlaku saat ada orang yang melihatku. Itu semua demi reputasiku. Tapi jika hanya ada kami berdua seperti saat ini, kesopanan seperti hanyalah omong kosong semata.


“Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?”

__ADS_1


Aku mengerutkan keningku. Aku sedang menerka-nerka ke mana arah pembicaraan laki-laki itu.


“Mengatakan apa maksud, Bapak?”


Laki-laki itu kembali menghela nafasnya. Ia menunjukkan kegusaran hatinya saat ini.


“Kamu tidak usah pura-pura!”


Aku melirik sinis ke arahnya yang tengah menatap ke arahku saat ini.


“Saya benar-benar tidak mengerti maksud Bapak. Jadi, tolong bicara langsung pada intinya. Saya bukanlah cenayang yang bisa mengerti maksud Bapak tanpa perlu penjelasan sama sekali,” kataku dengan nada kesal.


Aku mencebikkan bibirku dan bergumam mengomelinya. Aku tahu ia masih bisa mendengarnya meskipun suaraku sudah kubuat sekecil mungkin.


“Pertunanganku dengan Vanya baru saja dibatalkan.”


“Oh.”


Alexander memicingkan matanya menatapku.


“Kamu tidak tampak terkejut sama sekali. Kamu tidak penasaran alasannya? Atau kamu memang sudah tahu sejak awal alasan pembatalan pertunanganku dengan Vanya?” tanyanya dengan penuh rasa curiga.


Aku menggeleng. Aku memang sudah tahu pertunangan mereka akan dibatalkan, tapi aku tidak pernah tahu alasan di balik pembatalan pertunangan itu. Keluarga Jordan menutupnya rapat-rapat dan bahkan tidak membiarkan Timothee, yang juga merupakan bagian dari keluarga itu untuk mengetahui alasannya.


“Lalu apa maksudmu mengatakan aku akan tetap berjalan ke arahmu apa pun yang akan terjadi?”


Aku terkekeh mendengar pertanyaan-pertanyaan penuh kecurigaan yang terus ia lontarkan sejak tadi.


“Saya merasa seperti sedang diinterogasi oleh Bapak,” kataku terkekeh.


Alexander hanya terdiam. Aku bisa merasakan tatapannya seolah sedang menusukku dengan tajam.


“Hanya tebakan saja. Ternyata benar. Bapak benar-benar berjalan ke arah saya apa pun yang terjadi, meski saya memang masih terikat tali pertunangan dengan adik Bapak. Lucunya, adik Bapak sendiri tampak tidak begitu tertarik dengan saya, tapi tetap dijodohkan dengan saya.”


Perasaan Alexander padaku terasas sedikit janggal dan menggangguku. Laki-laki itu merupakan pewaris dari JJ Group. Ia tentunya akan menjadi prioritas bagi keluarganya saat ini, tapi ia bahkan tidak bisa mengungkapkan keinginannya terhadap perjodohan denganku dan malah membiarkan adiknya yang mengambil alih perjodohan denganku.


“Jujur saja, perasaan Bapak ke saya itu seperti fatamorgana,” kataku.


“Itu tampak menyerupai oasis di padang gurun, padahal hanya sekedar tipuan semata.”


Alexander tersentak mendengar apa yang baru saja kukatakan.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanyanya heran.


“Bapak bersikap seolah-olah sangat tertarik dan ingin memiliki saya sebelumnya. Tapi begitu saya menawarkan kesempatan, Bapak malah menolaknya. Sekarang Bapak datang lagi ke saya seolah-olah ingin menyetujui kesepakatan yang saya tawarkan sebelumnya. Saya khawatir akan kembali tertipu kali ini,” kataku sambil menatap langit-langit.


__ADS_2