Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 20


__ADS_3

“Kau pasti bercanda?”


Kataku sambil tertawa hambar. Aku benar-benar tidak yakin dengan apa yang baru saja kudengar.Kurasa laki-laki itu sedang membuat lelucon konyol.


“Apa aku tampak bercanda?”


Laki-laki itu menatap serius ke arahku yang kubalas dengan tatapan tidak percaya sama sekali.


Aku meluruskan pandanganku ke depan. Aku bisa melihat dari jauh lambang rumah sakit ternama yang dibuat di lantai teratas milik rumah sakit itu. Aku baru menyadari bahwa laki-laki di sebelahku itu memang tidak sedang bercanda.


“Apa kau gila?!” tanyaku tidak percaya.


“Huh?”


Timothee tampak bingung dengan reaksi yang baru saja kutunjukkan padanya. Ekspresinya seolah-olah sedang mempertanyakan reaksiku yang terasa aneh baginya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Itu adalah hal yang sudah seharusnya kulakukan. Lihat tanganmu sekarang bagaimana?”


Aku menatap ke kedua tanganku yang lecet dan kotor karena terjatuh sebelumnya. Aku bisa mengerti maksud baiknya untuk mengantarku ke rumah sakit, tapi tetap saja menurutku itu terlalu berlebihan.


“Kalau setelah ini tanganmu infeksi bagaimana? Kamu mau kedua tanganmu itu dipotong?”


Meskipun sudah menduga alasan laki-laki itu membawaku ke rumah sakit, aku tetap saja terkejut mendengarnya.


Aku menatap kedua lenganku sambil membayangkan keduanya akan diamputasi karena infeksi. Aku tahu bahwa itu terdengar konyol dan berlebihan, tapi aku tetap saja takut jika kedua tanganku harus dipotong nantinya.


“Ibuku juga dulu membawaku ke UGD karena kakiku tertusuk paku. Katanya jika aku tidak segera ditangani, nanti akan infeksi dan mereka akan memotong kakiku.”


Sekarang aku tahu pengalaman apa yang pernah ia dapatkan sampai ia panik seperti ini. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa ibunya memberi tahunya bahwa kakinya akan dipotong jika tidak segera mendapatkan penanganan.


‘Bukankah itu terlalu berlebihan untuk didengar oleh seorang anak kecil?’ batinku.


Aku menatap laki-laki itu. Ia terdiam usai mengatakan fakta mengejutkan itu.

__ADS_1


“Memangnya kapan kakimu tertusuk paku?” tanyaku penasaran.


“Tiga bulan yang lalu,” jawabnya enteng.


Aku kembali melongo dengan apa yang baru saja kudengar. Aku belum pernah mendengar ada orang yang kakinya diamputasi setelah tertusuk paku.


“Tapi tetap saja ke rumah sakit terlalu berlebihan untukku,” kataku menggerutu.


Laki-laki itu mengabaikan protesku. Ia tetap melajukan mobilnya masuk ke depan ruang UGD.


***


Tatapan tidak percaya dan sedikit mengejek dilemparkan oleh beberapa orang ke arahku. Aku juga tahu alasan aku terus diberi tatapan seperti itu sejak tadi. Aku pun setuju dengan tatapan mereka yang tidak percaya aku masuk ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit ini karena lecet yang ada di kedua telapak tanganku.


“Aku sudah menghubungi ayahmu. Ia sedang dalam perjalanan ke sini.”


Aku kembali melongo dibuat laki-laki itu. Aku tidak percaya ia menghubungi ayahku untuk masalah sepele seperti ini.


“Untuk apa kamu menghubunginya?” tanyaku sambil menatap tidak percaya ke arah laki-laki itu.


“Ia adalah ayahmu. Sudah seharusnya ia tahu tentang hal ini.”


Aku menghela nafas mendengar ucapannya. Aku akui tindakannya tidak salah, tapi tetap saja menurutku itu terlalu berlebihan.


“Atau kamu tidak suka aku menghubungi ayahmu?” tanyanya dengan tatapan penuh curiga.


“Bukan begitu. Aku hanya merasa semua ini terlalu berlebihan. Tidakkah kau perhatikan bahwa kita telah menjadi pusat perhatian di tempat ini karena masuk UGD hanya karena lecet pada telapak tangan?”


Timothee berbalik memperhatikan sekelilingnya. Bukan hanya pasien dan keluarga pasien yang ada di ruangan itu yang memperhatikan kami, tapi juga perawat dan dokter yang ada di tempat itu. Tidak sedikit bahkan yang memberikan tatapan mengejek ke arah kami.


“Kalian lihat apa?!” bentak Timothee.


Seorang laki-laki yang kuduga adalah seorang dokter, datang menghampiri Timothee.


“Mohon tenang, Pak. Di ruangan ini juga ada pasien-pasien lain. Bahkan luka mereka lebih serius.”

__ADS_1


Ekspresi Timothee mengeras begitu mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Ia tampaknya tidak terima apa yang baru saja orang itu katakan padanya, apalagi pandangan orang itu terhadap kami seolah-olah meremehkan.


“Apa kalian tidak tahu siapa aku?” kata Timothee angkuh.


Orang itu terus berjalan tanpa menghiraukan Timothee yang tampak sangat marah.


“Pamanku adalah pemilik rumah sakit ini dan ayahku adalah investor terbesar di rumah sakit ini.”


Suasana berubah tegang begitu Timothee berujar demikian. Aku tahu benar bahwa ia awalnya tidak ingin mengungkapkan identitasnya seperti ini. Tapi karena perlakuan yang baru saja ia terima melukai harga dirinya, ia pun mengeluarkan taringnya.


Aku memperhatikan sekitarku yang mulai ribut. Wajah petugas kesehatan yang sebelumnya tampak begitu angkuh dan meremehkan kami tiba-tiba tegang, tidak sedikit dari mereka yang tampak memucat. Tapi orang yang baru saja menghampiri kami masih tidak begitu peduli dan masih memberi tatapan meremehkan ke arah kami.


“Kalau memang kau anak dari keluarga Jordan, tidak mungkin tidak ada yang mengenalimu di tempat ini. Berhentilah berpura-pura!” katanya sambil mengangkat dagunya angkuh.


Timothee tertawa hambar. Ia menatap tajam ke arah laki-laki itu. Ia maju dengan tatapan menantang ke arah laki-laki itu.


Ponsel yang sudah ada di dalam sakunya sebelumnya ia keluarkan kembali. Ia memotret petugas kesehatan, baik itu dokter, perawat atau lainnya, yang ada di ruang UGD saat ini.


“Apa yang baru saja kau lakukan? Memotret orang lain tanpa izin adalah pelanggaran hukum!” kata dokter itu tidak terima.


“Kau ingin bukti tentang identitasku bukan? Kita lihat saja setelah ini, apa kalian masih bisa bekerja di rumah sakit ini atau tidak.”


Suasana di dalam ruang UGD semakin riuh. Tidak terkecuali dokter dan perawat yang sejak tadi menatap angkuh ke arah kami.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Timothee padaku.


“Aku baik-baik saja. Lagi pula sejak awal hanya sedikit lecet di telapak tanganku.”


“Kalau begitu kita pergi dari sini. Aku tidak sudi melihat wajah orang-orang itu lebih lama lagi. Aku akan menghubungi dokter keluargaku setelah ini. Tentu ia tidak akan meremehkan kita meski keluhannya hanya lecet pada telapak tangan.”


Aku mengikuti Timothee berjalan keluar dari ruang UGD.


Kami bahkan belum melewati pintu keluar ketika para petugas kesehatan di ruangan itu mulai berteriak panik. Tampak sesuatu telah terjadi pada yang buruk telah terjadi pada mereka.


Aku bisa melihat sekilas ekspresi dokter yang sebelumnya menegur Timothee dengan angkuh. Ia tampaknya terlalu terkejut sampai hanya bisa terdiam dan menatap kosong ke arah depan. Meski aku memaklumi alasan ia menegur Timothee tadi, tapi tetap saja aku tidak bisa membenarkan sikap mereka pada kami selama berada di ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2