Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 15


__ADS_3

Lucy dan ibunya yang tadi berusaha menghampiriku untuk mengemis rasa iba, berbalik ke arah mobil ayahku untuk melakukan hal yang sama. Mereka tahu benar bahwa kekuasaan tertinggi di rumah ini ada di tangan ayahku dan bahwa ayahku lebih fleksibel dibandingkan dengan diriku.


Ayahku turun dari dalam mobil dengan ekspresi sangat kesal begitu melihat keduanya ada di depan gerbang rumahku.


“Apa yang sedang kalian lakukan saat ini?”


Lucy dan ibunya tersenyum lega begitu melihat ayahku tampaknya berada di pihak mereka. Keduanya menghempaskan kasar lengan satpam yang sejak tadi berusaha menghalangi keduanya.


“Kenapa mereka bisa ada di sini?!”


Senyum lega yang tadi menghiasi wajah Lucy dan ibunya luntur seketika bahkan sebelum menyentuh ayahku. Keduanya mematung dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


“Usir mereka dari sini!”


Aku tersenyum mendengar ayahku langsung mengusir keduanya.


Satpam yang bekerja di rumahku segera bergerak untuk mengusir keduanya. Mereka tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kakinya di rumah ini, bahkan di depan pintu pagar sekalipun.


“Tapi aku masih istrimu! Aku masih nyonya di rumah ini!” Ibu Lucy tampak tidak terima dengan perlakuan yang baru saja ia dapatkan.


Ayahku yang sudah ingin melangkahkan kedua kakinya masuk melewati pagar rumah memundurkan lagi posisinya. Wajahnya tampak mengeras.


“Istri?! Nyonya rumah?! Kamu belum juga sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan?!”


Ibu Lucy yang semula tampak berani, kini menciut. Ia terkejut dan terdiam dengan bentakan ayahku.


“Kamu bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang telah kamu lakukan, tapi masih berani mengaku sebagai nyonya rumah di tempat ini?! Apa kamu masih punya malu?!


Ayahku mengeluarkan cincin yang selalu melekat di jari manisnya itu. Ia menatap garang ke arah ibu Lucy dan Lucy yang sejak tadi tidak banyak berbicara.


Laki-laki itu melempar kasar cincin itu ke arah wajah ibu Lucy.


“AAH!”


Wanita itu menjerit kesakitan begitu cincin itu mengenai wajahnya. Ia segera memegang wajahnya yang kesakitan.


“Apa yang kamu lakukan?”


Ayahku tersenyum meremehkan ke arah keduanya.


“Aku akan mengirimkan surat cerai padamu. Kamu tidak lagi menjadi nyonya rumah di tempat ini. Kehadiranmu bahkan tidak diterima di tempat ini.”

__ADS_1


“Tidak. Tidak. Bukan ini yang kuinginkan.”


Wanita itu kembali berusaha mendekati ayahku untuk memohon-mohon, tapi satpam dengan sigap menyeret dan mendorong tubuh wanita itu sampai ia terjatuh.


Aku tersenyum dan berbalik. Aku membuka pintu rumah dan berjalan terus sampai ke dalam kamarku.


“Setidaknya dua parasit sudah disingkirkan dari rumah ini,” kataku sambil tersenyum lebar.


***


Ayahku benar-benar menceraikan ibu Lucy dua hari kemudian. Kabar perceraian ibu Lucy dan ayahku terdengar sampai ke kampus. Banyak yang mengaitkannya dengan kejadian waktu aku masuk ke rumah sakit karena ibu Lucy.


“Sudah aku duga akan berakhir seperti ini,” kata Timothee sambil menyetir mobilnya ke kampusku.


Aku tidak begitu ingin menanggapinya.


Laki-laki itu benar-benar munafik. Padahal belum lama sejak ia membela Lucy dan mengatakan bahwa aku dan Lucy adalah saudara. Kini dia sudah kembali mencemoohnya.


“Bagaimana perasaanmu setelah ayahmu menceraikannya?” tanyanya penasaran.


Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menjawab rasa penasarannya itu. Aku masih ingat jelas hari di mana ia berpihak pada Lucy dan menunjukkannya pada semua orang di kampus.


“Kamu lebih pendiam hari ini. Apa kamu masih marah?”


Laki-laki itu tersentak. Aku tidak peduli, lagi pula aku juga tidak ingin berlama-lama dengannya.


“Kamu benar-benar marah?” tanyanya lagi tanpa rasa bersalah.


“Kamu tuli? Aku mau turun di sini. Asal kamu tahu, kalau bukan karena ayahku, aku tidak akan masuk ke dalam mobilmu dan pergi denganmu pagi ini. Dan jika bukan karena ayahku, aku tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini.”


Wajah Timothee tampak mengeras. Ia menepikan mobilnya.


“Turun!” katanya.


Tidak perlu berpikir dua kali, aku segera membuka pintu mobilnya dan turun.


Setelah aku menutup pintu mobilnya, laki-laki itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


Drrtt... Drrrttt...

__ADS_1


Getaran dari ponsel di dalam sakuku cukup mengganggu. Tertera nama ayahku di layar ponselku.


“Ada apa sih?” gumamku.


Aku sedang mengikuti kuliah yang diberikan oleh Alexander di kelasku. Laki-laki itu sangat tegas jika sudah dalam mode dosen.


Drrrttt... Drrttt...


Melihat ponselku yang terus menerus menerima panggilan dari ayahku, aku pun memberanikan diri untuk mengendap-endap keluar dari kelas untuk mengangkat panggilan teleponnya.


“Selain tidak sopan kalau bicara dengan saya di luar kelas, kamu ternyata juga tidak menghargai saya kalau sedang memberikan kuliah di kelasmu. Kalau begitu silahkan mengulang kembali tahun depan, Alicia. Kamu tidak saya luluskan dalam mata kuliah saya semester ini.”


Tubuhku menegang begitu mendengar perkataan Alexander. Jika aku mengulang, maka kemungkinan untuk lulus tepat waktu akan melayang.


Aku segera berbalik menatapnya. Laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali dan memilih tetap melanjutkan kelas tanpaku.


“Kenapa kamu masih berdiri di sana? Itu mengganggu konsentrasi yang lainnya jika kamu tetap berada di sana. Silahkan keluar dari kelas ini selagi saya masih bicara baik-baik denganmu.”


Aku memang ingin lulus tepat waktu, tapi getaran ponselku yang sejak tadi belum kunjung berhenti membuatku mengurungkan niat untuk meminta maaf pada laki-laki itu. Lagi pula tidak akan ada bedanya jika aku meminta maaf padanya. Aku tetap akan mengulang mata kuliah yang ia ajarkan tahun depan.


***


“Halo.”


Aku mengangkat panggilan telepon dari ayahku ketika sudah berada di luar kelas.


“Apa yang baru saja kamu lakukan hah?! Belum cukup kamu membuat ulah dengan tulisanmu di media sosial, kini kamu mau membuat ayah bangkrut juga? Apa kamu tidak pernah menggunakan otakmu dengan benar? Apa kepalamu itu hanya pajangan saja?”


Aku tersentak begitu mendengar ayahku yang terus memaki-makiku. Laki-laki itu terdengar sangat kesal.


“Apa maksud ayah?” tanyaku.


“Kamu masih bisa bertanya seperti itu setelah apa yang sudah kamu lakukan?”


Aku terdiam dan berusaha mengingat-ingat apa saja yang kulakukan sebelumnya sampai harus mendapat kemarahan seperti ini dari ayahku.


Nama Timothee tiba-tiba melintas di dalam pikiranku. Laki-laki itu tampak sangat kesal dengan ucapanku pagi ini.


“Tuan Jordan menarik semua investasinya di perusahaan ayah. Tidak hanya itu, pertunangan kalian juga dibatalkan. Perusahaan ayah sekarang hampir bangkrut karenanya. Apa kamu benar-benar tidak bisa bersikap baik untuk sekali saja?”


Aku memang ingin pertunanganku dibatalkan, tapi jika seperti ini, maka balas dendamku pada Timothee tidak akan tercapai. Aku menggigit kuku ibu jari tanganku dengan gusar. Aku tidak bisa jika harus berakhir seperti ini.

__ADS_1


‘Andaikan aku memiliki kekuatan untuk membalikkan waktu,’ batinku.


__ADS_2