Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 21


__ADS_3

Beberapa orang datang menghampiriku dan Timothee ketika kami sudah melewati pintu keluar ruang UGD. Ekspresi mereka benar-benar panik.


“Kami mohon maaf atas tindakan kami yang sudah menyinggung Anda.”


Mereka berusaha menggenggam tangan Timothee untuk memohon. Tapi Timothee yang kukenal tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun. Ia menepis kasar tangan mereka dan membawaku pergi ke mobilnya.


Ekspresi laki-laki itu belum kunjung melunak meski ia telah mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit.


“Apa yang baru saja terjadi?” tanyaku penasaran.


“Entahlah. Mungkin mereka dipecat,” jawabnya.


Aku melongo tidak percaya. Aku tahu bahwa JJ Group memiliki pengaruh yang sangat besar dan aku baru mengetahui bahwa pamannya adalah pemilik rumah sakit swasta ternama yang baru saja kami datangi. Meskipun demikian, tapi tetap saja memecat banyak orang sekaligus seperti itu terdengar terlalu berlebihan.


AB Company milik keluargaku juga termasuk besar, tapi mendengar apa yang baru saja Timothee katakan membuatku sadar bahwa JJ Group memang berada pada level yang berbeda. Biarpun begitu, ia masih saja menginginkan AB Company.


“Apa tidak berlebihan memecat mereka semua?”


“Tidak. Lagi pula rumah sakit itu tidak pernah kekurangan pelamar.”


Aku mengangguk paham. Rupanya itu yang membuat mereka tampak begitu panik. Tapi sampai akhir laki-laki yang tadi meremehkan Timothee sampai meragukan identitasnya sama sekali tidak meminta maaf.


***


Timothee mengantarku sampai di rumah. Tidak hanya itu, ia benar-benar memanggil dokter keluarganya untuk memeriksa kondisiku.


“Bagaimana?” tanyanya.


“Selain luka lecet di kedua telapak tangannya, tidak ada masalah dengan yang lainnya. Setelah dibersihkan dan diberi obat pada luka di telapak tangannya, dia akan baik-baik saja.”


Ekspresi laki-laki itu mulai melunak. Tidak ada lagi ekspresi khawatir di wajahnya saat ini.

__ADS_1


Meskipun perlakuannya hari ini benar-benar manis, tapi aku sudah bertekad untuk tidak pernah luluh dan kembali menaruh hatiku padanya. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ia mengkhianatiku dan membunuhku. Bahkan ia tidak meminta bantuan siapa pun ketika melihatku keracunan di depan kedua matanya sendiri.


‘Apa memang manusia bisa berubah semudah itu?’ batinku.


Aku menertawai sikapnya di dalam hatiku, meskipun aku juga berterima kasih atas kebaikannya hari ini. Tapi itu semua ia lakukan karena aku adalah pewaris AB Company yang sangat ingin ia miliki. Seandainya ibu Lucy dan ayahku tidak bercerai, aku yakin ia sudah mulai bersekongkol dengan Lucy untuk mencelakaiku.


***


Sore ini aku berencana untuk pergi mengerjakan tugas bersama teman-teman satu kelompokku.


“Halo.”


Aku mengangkat telepon dari Timothee. Ia sudah tahu kalau aku akan pergi mengerjakan tugas hari ini, aku sempat memberi tahunya sewaktu mengantarku pulang.


“Tunggu di sana! Aku sudah dekat.”


“Baiklah.”


Aku melangkahkan kakiku keluar dari gerbang rumahku seraya menunggu Timothee yang kabarnya sudah dekat.


“Alicia!”


Kutolehkan kepalaku untuk mencari sumber suara yang baru saja memanggilku. Aku langsung menyesal begitu melihat siapa pelakunya. Aku segera memalingkan kepalaku dan berpura-pura tidak pernah melihatnya sama sekali.


“Alicia! Aku tahu kamu melihatku.”


Lucy berdiri tidak jauh dariku. Dia dan ibunya sudah dilarang untuk berkeliaran di sekitar rumahku, tapi tampaknya larangan itu tidak diindahkan oleh mereka berdua.


Aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang berjalan ke arahku. Aku tidak ingin menghiraukan keberadaannya. Aku menolehkan kepalaku ke arah yang berlawanan dengannya, menantikan kemunculan mobil Timothee.


“Sekarang kau bahkan tidak mau melihatku sama sekali?” kata Lucy ketika sudah berdiri tepat di sampingku.

__ADS_1


Ia bahkan mendekat dan berbicara denganku untuk protes seolah-olah kami pernah dekat sebelumnya. Aku menoleh ke arahnya, lalu menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. Setelahnya aku tertawa dengan suara sedikit mengejek, lalu kembali mengabaikan keberadaannya.


“Kau benar-benar berubah,” katanya.


“Tidakkah kamu kasihan denganku dan ibuku yang sekarang hidup luntang lantung di jalanan? Kami bahkan tidak memiliki rumah sekarang.”


Aku tertawa mendengar ucapannya yang seolah-olah menjadi orang yang paling menderita saat ini. Ia seolah-olah telah menjadi korban ketidakadilan yang kulakukan. Benar-benar tidak tahu malu.


“Aku tidak sebodoh itu sampai tidak tahu bahwa kau dan ibumu diberi uang kompensasi setelah ibumu bercerai dengan ayahku. Ayahku bahkan sudah membiayai kuliahmu sampai selesai, meskipun kamu masih berada di semester empat.”


Kuacungkan jari telunjukku ke arahnya sambil sesekali mendorong bahunya dengan jari telunjukku. Aku tahu dengan jelas bahwa ia ingin membuatku merasa simpati dan bersalah atas apa yang terjadi pada ia dan ibunya. Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi setelah apa yang ia dan ibunya lakukan padaku.


“Ibumu yang sudah membuatku masuk rumah sakit bahkan tidak pernah memunculkan batang hidungnya sekalipun selama aku dirawat. Bahkan sampai saat ini aku tidak pernah sekalipun mendengar permintaan maaf yang keluar dari bibirnya karena sudah membuatku dirawat di rumah sakit. Sekarang kalian ingin aku merasa kasihan dengan apa yang kalian alami sekarang? Benar-benar tidak tahu malu!”


Wajahnya memerah. Dia tampak sangat tersinggung dengan apa yang baru saja kukatakan.


Aku tahu benar bahwa ia dan ibunya tidak pernah menyukai keberadaanku. Aku juga tahu mereka membenciku karena ayahku selalu menomor satukanku dibandingkan Lucy dalam segala hal, termasuk masalah warisan dan perjodohan dengan putra dari keluarga Jordan.


“Itu tidak akan terjadi jika kamu tidak menamparku hari itu!”


Seolah tidak menyadari bagaimana posisinya saat ini, Lucy menaikkan nada suaranya. Ekspresi tidak sukanya tidak lagi ia sembunyikan.


“Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu akhir-akhir ini sering bertemu dengan Pak Alexander?!” ucapnya sinis.


Mobil yang dikendarai Timothee tiba tepat setelah Lucy berteriak dan mengatakan tentang pertemuanku dengan Alexander. Ada sebagian di dalam hatiku yang berharap Timothee tidak mendengarnya, tapi ada sebagian lagi di dalam hatiku yang menyuruhku untuk bermasa bodoh dengan hal itu.


“Lucu sekali kau bertunangan dengan Timothee tapi sering bertem-“


Plak!


Telapak tanganku kembali mendarat di pipi Lucy. Gadis itu terdiam setelah aku menampar pipinya. Tangannya memegang pipinya yang memerah setelah kutampar. Ia menatapku dengan sinis usai aku menamparnya. Ia tampak sangat tidak terima dengan apa yang baru saja kulakukan.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu!” kataku dengan nada penuh ancaman sambil mengacungkan jari telunjukku tepat di depan wajahnya.


__ADS_2