
Timothee turun dari mobilnya dan berjalan ke arahku dan Lucy yang masih saling melemparkan tatapan penuh kebencian.
Lucy tersenyum melihat Timothee berjalan dari arah belakangku. Ia menatap tajam dan meremehkan ke arahku. Ia yang tadinya ingin mengemis rasa iba, kini berubah seketika.
“Memang apa yang salah dari ucapanku? Bukan sekali dua kali aku melihatmu bersama Pak Alexander Jordan,” katanya dengan lantang seolah-olah ingin semua orang yang ada di sekitar kami mendengar dan mengerti maksudnya.
Belum sempat aku membalas perkataannya itu, Timothee langsung bersuara.
“Kakakku? Kapan kalian bertemu tanpa sepengetahuanku?” tanyanya sambil memicingkan mata, menatapku penuh rasa curiga.
Lucy tersenyum puas karena Timothee mendengar dengan jelas apa yang baru saja ia ucapkan.
Aku ingat betul di kehidupan kali ini aku baru menemui Alexander dengan sengaja hanya satu kali. Dan baru satu kali aku mengadakan pertemuan pribadi dengannya karena ia yang memintanya sendiri. Semua pertemuan itu bahkan baru terjadi hari ini, sebelum tunangannya dengan sengaja menyenggol bahuku hingga aku terjatuh.
“Iya. Kami bertemu tadi di kampus. Dia memanggilku datang ke ruangannya. Itu mungkin yang membuat tunangannya cemburu dan menabrakku tadi,” kataku.
Lucy melongo mendengar perkataanku. Aku yakin betul bahwa ia berharap aku tergagap di depan Timothee dan ia akan menjatuhkanku.
“Selain itu?” Laki-laki itu masih menatapku penuh curiga.
“Tidak ada. Kamu bisa mengonfirmasinya sendiri pada kakakmu. Lagi pula dia kan kakakmu. Tidak mungkin kau berpikir aku tengah menggoda kakakmu itu bukan?”
Timothee terbelalak dengan apa yang kukatakan. Tampaknya ia tidak menyangka kalimat itu akan terlontar dari mulutku.
“Bukankah memang itu yang kamu inginkan?” Lucy tersenyum penuh kemenangan.
Aku berjalan ke arah mobil Timothee tanpa menghiraukannya. Timothee pun tidak terlalu ambil pusing karena ia tahu dengan benar hubunganku dengan Lucy tidak pernah baik akhir-akhir ini. Laki-laki itu lebih memilih untuk mengikutiku kembali ke mobilnya.
“Timothee!” panggilnya.
Timothee tidak menghentikan langkah kakinya. Ia terus berjalan seolah-olah tidak pernah mendengar suara gadis itu memanggilnya.
“Jika kamu memilih untuk tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Kamu pasti akan menyesal!”
Aku tersenyum meremehkan ke arah Lucy yang sedang berwajah kusut karena kami memilih untuk mengabaikannya. Kupandangi dia dari bawah ke atas, lalu tertawa mengejek tanpa suara. Setelahnya, aku memilih masuk ke dalam mobil Timothee tanpa laki-laki itu persilahkan terlebih dahulu. Toh, memang tujuan ia ke sini adalah untuk menjemputku.
***
__ADS_1
Timothee hanya terdiam sambil mengendarai mobilnya sejak tadi. Ucapan Lucy tampaknya sangat mengganggunya saat ini.
“Kamu masih kepikiran soal apa yang Lucy katakan tadi?” tanyaku tanpa melirik ke arahnya.
Laki-laki itu hanya terdiam. Ia tidak menjawab sama sekali pertanyaanku barusan. Itu membuatku tersenyum senang, tapi aku tidak bisa memperlihatkannya dengan terang-terangan. Aku memilih menundukkan wajahku sembari tersenyum.
“Apa kamu sebegitu tidak percayanya padaku? Kau tidak berpikir aku benar-benar menggoda kakakmu bukan?”
Aku mengubah ekspresiku dengan ekspresi polos dan lugu. Padahal di dalam hatiku, aku mengiyakan sendiri kecurigaan Lucy padaku. Aku memang berencana menggoda Alexander, kakak Timothee, sejak awal untuk membalas dendam pada laki-laki itu.
Laki-laki itu menghela nafas berat. Itu membuatku tertawa di dalam hati.
‘Baru seperti ini saja kau sudah merasa frustasi? Bagaimana denganku yang melihatmu berselingkuh dengan Lucy tepat di depan kedua mataku? Bagaimana dengan perasaanku yang sudah kalian khianati, lalu kalian bunuh dengan menyedihkan? Kalian bahkan menertawai ketika menjelang ajalku. Ini tidak akan pernah sebanding
dengan itu,’ batinku.
“Aku tidak tahu,” katanya.
“Meskipun aku mencoba untuk mengabaikannya, tetapi perkataan Lucy tetap membuatku kepikiran. Apalagi...”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Aku menatap heran ke arahnya, menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
Laki-laki itu kembali terdiam. Ia enggan untuk melanjutkan perkataannya sebelumnya dan menyisakan rasa penasaran di dalam benakku. Tapi aku tidak ingin terlalu ambil pusing dengan hal itu.
***
Timothee menurunkanku tepat di depan rumah Giovano. Ekspresinya makin memburuk setelah ia tahu bahwa aku akan melakukan kerja kelompok di rumah Giovano. Entah mengapa, aku merasa ia seperti menunjukkan ekspresi cemburu padaku. Tapi aku tidak ingin terlalu memikirkannya.
Dulu, ia juga sering menunjukkan ekspresi yang sama ketika aku bertemu dengan Giovano. Aku merasa senang karena itu membuatku yakin bahwa perasaanku dan perasaannya itu sama. Tapi ia tetap mengkhianatiku pada akhirnya. Tidak ada yang bisa kupercaya dari ekspresi wajahnya yang seperti itu.
“Kamu sudah datang?” tanya Giovano basa basi.
Aku memutar malas kedua bola mataku usai mendengar pertanyaan yang ia lontarkan padaku.
“Kalau belum datang, tidak mungkin aku berada di sini.”
Laki-laki itu tertawa canggung sambil menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal. Ia mempersilahkanku masuk.
__ADS_1
“Yang lain di mana?” tanyaku saat tidak menemukan keberadaan teman-teman sekelompokku yang lain.
“Belum datang.”
Aku masuk dan duduk di sofa ruang tamunya tanpa permisi dan tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh Giovano, si empunya rumah. Lagi pula bukan sekali dua kali aku datang bertamu di rumahnya.
“Jadi, bagaimana?”
Giovano menatapku heran.
“Apanya yang bagaimana?”
“Tugas kelompoknya. Mau tunggu yang lain dulu atau kita mulai mengerjakannya saja?”
Laki-laki itu terkekeh. Ekspresi bingungnya tadi digantikan oleh ekspresi geli.
“Aku tidak tahu kamu serajin ini. Tunggu yang lain saja. Mereka yang keenakan kalau kita mulai mengerjakannya lebih dulu.”
Ia duduk tepat di sampingku sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Tanpa aku melirik ke arahnya pun, aku sudah tahu kalau ia tengah memperhatikanku saat ini.
“Aku kalah cepat ya,” katanya sambil terkekeh.
“Huh?”
Aku mengerutkan keningku tidak mengerti maksudnya yang tiba-tiba berbicara seperti itu.
“Tidak. Bukan apa-apa. Kamu sudah makan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Sudah.”
“Kenapa tidak bilang belum saja supaya aku mentraktirmu makan?”
Aku menatap geli dan jijik ke arahnya yang seolah-olah sedang menggodaku saat ini. Aku tidak pernah membayangkan akan ada hari di mana ia akan bersikap seperti ini. Sudah cukup lama kami saling mengenal dan sudah terlalu banyak aibnya yang kutahu. Menggodaku seperti ini adalah hal paling menggelikan yang pernah dilakukan laki-laki itu.
“Kamu sakit? Atau baru putus dengan pacarmu? Kamu seperti kurang belaian sekarang,” kataku terkekeh.
Laki-laki itu tertawa keras sambil menatap langit-langit.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti itu. Lagi pula kalau aku putus dengannya, masih banyak perempuan di luar sana yang ingin berkencan denganku.”
Aku mendengus kesal mendengarnya berbicara dengan penuh percaya diri. Tapi aku tidak bisa menyangkalnya. Laki-laki di sebelahku ini memang cukup populer di kalangan para gadis. Hanya saja dia terlalu meremehkan dan tidak menganggap berharga sama sekali gadis-gadis yang pernah ia kencani selama ini.