Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 30


__ADS_3

Selama di kampus, aku berakting seolah-olah merupakan sosok yang paling tersakiti dari kejadian hari ini. Aku terus memosisikan diriku sebagai korban dan membuat orang-orang yang melihatku semakin mencemooh Lucy dan Timothee.


‘Tidak ada tempat bagi kalian di sini,’ batinku.


‘Aku akan membuat hari-hari kalian seperti di neraka,’ batinku.


Drrtt... Drrttt...


Ponselku bergetar. Aku mengeluarkannya dari dalam tasku. Aku menyeringai begitu melihat nama Timothee tampak pada layar ponselku. Laki-laki itu baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat padaku.


‘Dari Timothee:


Kita perlu bicara setelah ini. Aku menunggumu setelah ini. Hubungi aku jika kau sudah selesai kuliah.’


Tentu saja aku tidak ada niatan untuk memenuhi permintaan yang lebih seperti perintah itu. Aku tidak ada niat untuk memperbaiki kesalahpahaman yang sudah kubesar-besarkan. Itu merupakan kesempatan yang baik untuk memojokkannya dan bisa menjadi alasan untuk memutuskan pertunangan kami.


Hal lain yang harus kupikirkan adalah bagaimana mempertahankan investasi yang telah ditanam oleh keluarga Jordan di perusahaan ayahku. Jika mereka menarik investasinya, perusahaan ayahku akan kembali mengalami guncangan hebat dan nasibnya berada di ujung tanduk. Aku harus memikirkan cara untuk memutuskan pertunanganku dengan Timothee tanpa membuat mereka menarik investasinya.


Aku kembali menyalakan ponselku. Aku mengetik pesan dan mengirimkannya.


‘Kepada:Alexander:


Ayo kita bertemu setelah ini! Kita punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan.’


Laki-laki yang sedang berdiri di depan kelasku dan tengah memberikan kuliah, mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ia menatap ke arahku sejenak, lalu kembali menatap layar ponselnya sambil mengetik sesuatu di sana.


Drrrtt... Drrrtt...


Ponselku kembali bergetar. Aku menyeringai begitu membaca pesan balasan yang dikirimkan oleh laki-laki itu


‘Dari Alexander:


Tentu. Pasti kau sudah memiliki rencana yang bagus setelah membuat keributan seperti itu.’


Laki-laki itu kembali melanjutkan kelas tanpa melirik sedikit pun ke arahku. Ia bertingkah seolah-olah kami tidak pernah dekat sedikit pun saat di kampus, seperti saat ini.


***


Drrrtt... Drrrtt...


Sudah ke sekian kalinya Timothee terus menghubungiku. Entah itu melalu pesan singkat atau pun panggilan telepon. Tapi tidak ada satu pun yang kugubris.

__ADS_1


Tidak hanya itu. Aku bahkan lebih memilih pulang dengan Alexander dibandingkan dengannya, meskipun aku sudah melihat mobil miliknya masih terparkir di parkiran fakultasku sejak tadi.


“Tampaknya ia sangat gelisah sekarang,” kata Alexander sambil mengemudikan mobilnya.


“Kamu tidak akan mengangkatnya?” tanya.


Aku menggeleng sambil menatap lurus ke depan.


“Lagi pula tidak ada yang harus dibicarakan dengannya. Aku tidak ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi antara aku dengannya. Itu adalah kesempatan yang bagus untuk memutuskan pertunangan kami tanpa membuatku menjadi pihak yang bersalah,” kataku.


Alexander diam. Ia tidak lagi bertanya.


Drrrtt... Drrrtt...


Tidak ingin semakin terganggu. Aku pun mematikan ponselku.


“Aku masih penasaran dengan alasan mengapa kau ingin sekali memutuskan pertunanganmu dengannya.”


“Itu bukanlah sesuatu yang bisa kukatakan.”


Aku tidak memiliki niatan sedikit pun untuk memenuhi rasa penasaran laki-laki yang duduk di sampingku itu. Lagi pula aku juga tidak mungkin menceritakan bahwa aku telah mengulang kembali waktu dan pergi ke masa lalu. Ia mungkin saja akan menganggapku gila.


Entah itu adalah sesuatu yang harus kusyukuri atau tidak. Tapi aku merasa lega karena Alexader tidak terlalu banyak menuntut padaku.


“Lalu apa rencanamu setelah ini?”


Aku tersenyum lebar. Bahkan mungkin terlalu lebar sampai aku pun merasa bahwa senyumanku sendiri mungkin terkesan jahat dan mengerikan.


“Tentu saja membuat nama mereka semakin hancur sebelum pertunanganku dan Timothee benar-benar diakhiri. Aku penasaran bagaimana reaksi kedua orang tuamu ketika mengetahui bahwa putranya berselingkuh. Oh! Dan juga reaksi ayahku. Meskipun aku tidak terlalu banyak berharap padanya.”


Laki-laki itu mengerutkan keningnya.


“Orang tuaku?” tanyanya penasaran.


“Iya. Apa kau tidak memiliki niatan sedikit pun untuk membuat orang tuamu tahu bahwa kau ingin menggantikan Timothee bertunangan denganku?”


Alexander terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, sebuah senyuman terbit di wajahnya.


“Tampaknya kau sudah tidak begitu membatasi diri denganku.”


Aku terdiam sejenak dan berpikir.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanyaku.


“Kau tidak lagi menggunakan bahasa formal denganku atau memanggilku bapak. Jujur saja itu membuatku sedikit tersinggung meskipun aku tahu kau melakukannya karena hubungan dosen-mahasiswa di antara kita. Tapi tetap saja itu membuatku terkesan jauh lebih tua dibandingkan denganmu.”


Aku tertawa mendengarkan penjelasan yang baru saja ia tuturkan padaku. Aku juga tidak begitu menyadari tentang bahasa informal yang terus kugunakan sejak tadi dengannya. Tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa laki-laki itu akan merasa tersinggung dengan bahasa formal yang kugunakan saat berbicara dengan dengannya sebelumnya.


“Bukankah kau memang jauh lebih tua dibandingkan denganku?” ledekku diiringi dengan tawa.


“Tidak sampai setua itu sampai kau harus terus memanggilku bapak, bahkan saat kita berada di luar area kampus. Itu membuatnya terkesan seperti aku seusia ayahmu.”


Tawaku semakin besar ketika mendengarkan penjelasannya barusan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa laki laki di sebelahku itu akan memiliki pemikiran sejauh itu hanya karena aku selalu memanggilnya dengan sebutan ‘pak’ atau ‘bapak’.


***


Aku mengucapkan terima kasih begitu kami tiba di depan pagar rumahku. Aku turun dari mobil laki-laki itu dan melangkahkan kedua kakiku masuk ke dalam halaman rumahku.


Ayahku tampaknya tidak pergi ke kantor hari ini. Laki-laki itu tengah duduk sambil membaca koran di ruang tamu.


“Siapa yang baru saja mengantarmu? Tampaknya itu bukan Timothee,” katanya tanpa melirik ke arahku.


“Memang bukan,” jawabku tanpa merasa bersalah sedikit pun.


“Itu Alexander, kakak Timothee.”


Laki-laki itu melipat koran kembali koran yang baru saja ia baca. Ia meletakkan koran itu di atas meja.


“Alexander? Pewaris JJ Group?” tanyanya sambil mengerutkan alis.


“Iya. Lagi pula Timothee pasti sedang menghabiskan waktunya dengan Lucy saat ini,” kataku berusaha memanaskan suasana.


Aku cukup penasaran dengan reaksi ayahku tentang perselingkuhan Timothee dengan Lucy. Meskipun aku tidak ingin terlalu berharap pada laki-laki yang selalu menomor satukan perusahaannya di atas segala-galanya itu.


“Lucy? Apa maksudmu?” Nada suara benar-benar terdengar menusuk.


“Jangan katakan omong kosong seperti itu!”


Meskipun aku tidak menaruh harapan atas reaksinya tentang Timothee dan Lucy, tapi aku tetap merasa kecewa. Sesuatu yang berada di dalam rongga dadaku terasa sakit dan aku pun merasa kecewa.


“Bahkan di saat seperti ini ayah masih membelanya.”


Aku berjalan meninggalkan laki-laki itu tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali. Lagi pula memang tidak ada yang perlu kujelaskan lebih lanjut. Aku juga takut akan merasa lebih menyakitkan lagi jika aku menjelaskannya dan tidak mendapatkan rasa simpati darinya sama sekali. Melihatnya justru membela orang yang telah menyakitku membuatku sadar bahwa aku bukanlah anaknya jika sudah berurusan dengan bisnis miliknya.

__ADS_1


__ADS_2