Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 7


__ADS_3

Aku memperhatikan dengan seksama Alexander Jordan yang tengah memberikan kuliah setelah kuis hari ini. Ia tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan Timothee. Bahkan ia adalah orang yang memang sudah ditentukan sejak awal menjadi pewaris dari JJ Group.


Aku tidak tahu alasan pasti mengapa ia yang merupakan pewaris JJ Group mengajar di kampusku di saat masa depan yang sudah digariskan olehnya sudah sangat cerah dan terjamin. Ia tidak harus repot-repot mengajar di kelasku seperti saat ini.


Orang yang cocok untuk menghancurkan hubungan pertunanganku dengan Timothee masih belum kutentukan. Orang yang paling cocok saat ini untuk posisi itu masih ditempati oleh Alexander, kakak Timothee. Tapi aku masih menyimpan rasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu terakhir kali.


‘Tidak adakah lagi orang lain yang setara dengan Alexander? Ataukah aku harus menyingkirkan rasa sakit hatiku terakhir kali dan kembali mencoba untuk menggodanya?’ batinku.


‘Tapi bagaimana kalau ia justru lebih buruk dibandingkan Timothee? Aku akan lebih menderita nantinya. Apa aku harus menyerah saja? Sulit sekali rasanya untuk bisa terbebas dari pertunangan sialan ini.’


Sebuah pemikiran bodoh tiba-tiba melintas di benakku ketika aku tidak sengaja membaca judul dari novel yang ada di atas meja mahasiswi yang duduk tepat di depanku saat ini.


Novel yang kupastikan adalah novel romansa itu berjudul ‘Pernikahan Kontrak dengan CEO’. Judul itu memberikanku sebuah ide gila yang sangat ingin kucoba saat ini.


‘Bagaimana jika aku menawarkan pernikahan kontrak dengan Alexander? Tapi bagaimana caranya? Ia bahkan mungkin sudah memiliki tunangan saat ini. Ya, meskipun nantinya pertunangan mereka juga akan putus. Lagi pula aku tidak memiliki kelebihan khusus yang bisa kugunakan sebagai bahan transaksi dengannya untuk bisa menawarkan hubungan di bawah kontrak.’


“Alicia!!”


Suara bariton yang keras dari arah depan membuatku tersentak dan tersadar dari lamuanku. Entah sejak kapan aku sudah menjadi pusat perhatian seisi kelas.


“Dari tadi Saya panggil-panggil tidak menjawab. Apa yang sedang kamu khayalkan di kelas Saya?”


Aku diam seribu bahasa, tidak berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexander. Aku hanya bisa menunduk ketika laki-laki itu memberikan tatapan penuh permusuhan denganku.


‘Apa benar, aku harus bergandengan tangan dengan orang sepertinya agar bisa terbebas dari Timothee?’ batinku.


“Sekarang kamu jelaskan tentang apa yang baru saja Saya jelaskan tentang materi ini!”


Otakku tidak bisa diajak kerja sama untuk hal ini. Aku memang tidak begitu pandai dalam persoalan akademik dan tidak pernah menonjol selama kuliah meskipun aku lulus tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan. Semua hanya bermodalkan kerajinanku semata.


Materi yang belum terlalu kupahami dan sedang diajarkan olehnya, tentu lebih tidak masuk ke dalam kepalaku karena aku sibuk bergulat dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


Alexander tampak semakin geram melihatku yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya atau pun mengikuti perintahnya untuk menjelaskan materi yang baru saja ia ajarkan di depan.


“Kamu itu sebenarnya niat kuliah nggak sih? Kamu masuk ke kelas saya cuma mau setor muka? Lebih baik kamu keluar dari pada kamu hanya duduk di dalam sini tapi tidak ingin mendengarkan Saya yang sedang mengajar.”


Tidak ada bantahan, aku bangkit berdiri dari tempat dudukku dan berjalan keluar dari kelas. Aku juga tidak ingin mendengarkan ceramah laki-laki itu lebih lama lagi.


***


Aku tidak tahu harus melakukan apa hari ini. Dikeluarkan dari kelas membuatku menjadi kurang kerjaan dan akhirnya memilih untuk berkeliling gedung fakultasku.


“Ini benar-benar sama persis dengan apa yang kuingat terakhir kali.”


Krucuukkkk!!


Perutku mulai bersuara. Aku memang telah makan siang bersama tadi, tentunya bersama keluarga Jordan untuk membahas pertunanganku dengan Timothee. Tapi tidak mungkin aku bisa lahap makan ketika orang yang duduk di depanku adalah orang yang telah membunuhku di masa depan dan orang yang membiarkanku meninggal di depannya di saat pertunangan kami belum sampai satu minggu.


“Aduh! Mana aku lupa bawa dompet.”


“Serius dia begitu?”


“Kukira dia anak kandung ternyata hanya anak pungut. Sia-sia saja aku pernah iri dengannya.”


Telingaku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang ada di balik pintu salah satu kelas yang tidak jauh dari posisiku saat ini. Pintu yang tertutup setengah membuatku tidak bisa melihat siapa orang-orang yang sedang bercerita di dalam saat ini. Mereka pun tidak bisa melihatku.


“Iya. Tapi aku dilarang sebenarnya cerita ke orang lain.”


Aku ingin mengabaikan cerita orang-orang itu. Tapi begitu aku mendengar suara tidak asing di antara mereka, aku justru mendekatkan diriku ke arah pintu kelas.


“Kalau dia itu anak angkat Ayahku.”


Aku menganga tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku sebenarnya sudah menduga-duga kalau dia yang menyebarkan rumor buruk tentangku. Tapi aku tetap saja terkejut ketika mengetahuinya secara tidak sengaja seperti ini. Itu karena kami menyembunyikan rapat-rapat fakta bahwa kami adalah saudara tiri selama ini.

__ADS_1


Di dalam sana, Lucy tengah menyebarkan cerita kalau aku adalah anak angkat yang tidak tahu diri. Padahal dia sendiri yang merupakan orang asing di dalam rumahku.


“Kalau lihat dari cara berpakaiannya sih, kayaknya memang bukan anak kandung. Selera pakaiannya tidak modis sama sekali.”


“Biar pun tidak modis, tapi harga outfitnya cukup mahal.”


“Tidak tahu diri sekali dia. Padahal hanya anak angkat tapi hidup dengan boros menggunakan kekayaan orang tuamu.”


“Kamu pasti sudah menahan diri selama ini.”


Aku ingin sekali masuk ke dalam sana dan menampar Lucy. Tapi mengingat aku diracuni terakhir kali, aku mengurungkan niatku.


Kunyalakan ponsel yang sejak tadi ada di dalam genggamanku. Aku membuka aplikasi kamera untuk merekam video mereka yang tengah menyebarkan rumor buruk tentangku yang selama ini mengaku anak kandung dari keluarga konglomerat.


Jendela kelas yang cukup rendah membuatku bisa merekam wajah mereka dari jendela. Posisi mereka yang sebagian besar membelakangi jendela membuatku lebih leluasa merekam mereka tanpa mereka sadari. Dan karena posisiku tepat di dekat pintu, suara mereka pun dapat terdengar dengan sangat jelas.


“Kamu kok bisa tahan satu kampus dengan dia?”


“Tidak tahu diri sekali dia. Apalagi biaya kuliah di kampus ini sangat mahal.”


“Sebenarnya, kekayaan keluarga Anderson tidak akan habis jika hanya membiayainya kuliah di sini meskipun dia tidak begitu pintar. Tapi tetap saja aku merasa sedih karena ia selalu membawa-bawa nama keluarga Anderson ke mana pun dia pergi.”


Aku menahan segala amarahku mendengarkan Lucy yang sedang memosisikan dirinya sebagai orang paling tersakiti di dalam keluargaku saat ini. Tampaknya dia tidak puas hanya menyebarkan kabar kalau aku adalah anak angkat keluarga Anderson yang tidak tahu diri.


“Ya iyalah. Aku juga kalau ada di posisimu melihat anak angkat yang tidak tahu diri seperti dia akan kesal.”


Lucy mengangguk-angguk.


“Dia juga baru-baru ini meminta untuk dijodohkan dengan putra kedua dari keluarga Jordan.”


Aku melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis j4l4ng itu katakan.

__ADS_1


__ADS_2