
Hubunganku dan ayahku menjadi renggang setelah aku merilis pernyataan tentang kondisiku terakhir kali. Citra perusahaan milik ayahku mengalami banyak komentar buruk, apalagi setelah mereka membiarkan informasi palsu yang beredar tentangku.
Aku tidak ingin terlalu ambil pusing, karena aku tahu ayahku seperti apa jika itu berkaitan dengan perusahaan miliknya. Aku pun bukan prioritas utama di matanya jika itu sudah ada sangkut pautnya dengan perusahaan miliknya.
“Kamu yakin sudah mau masuk hari ini. Izin lagi saja sehari?” tanya Timothee.
Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke kampusku.
“Tidak apa-apa. Lagian aku sudah izin terlalu banyak.”
Laki-laki itu melirik sekilas ke arah bagian belakang kepalaku yang masih tertutup kasa dan perban.
“Kalau ada apa-apa langsung kabari aku, ya.”
Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan laki-laki itu. Meskipun kalau terjadi apa-apa nantinya, aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki itu untuk meminta tolong. Aku tidak begitu ingin terlalu terikat dengannya di kehidupan kali ini.
***
“Kamu sudah masuk? Aku kira kamu masih izin hari ini soalnya baru keluar dari rumah sakit.”
Giovano menyambutku begitu aku baru sampai di kampus.
Aku melirik sekilas ke arah Timothee yang tampak terganggu dengan keberadaan Giovano. Tapi aku tidak begitu peduli dengan kenyamanan laki-laki itu.
Di kehidupanku yang pertama, hanya Giovano yang tetap berteman denganku sampai aku lulus meskipun banyak kabar buruk yang beredar tentangku.
“Ayo!” Aku mengajak Giovano untuk segera masuk ke gedung fakultas kami, meninggalkan Timothee yang masih duduk di balik kemudi mobilnya.
***
“Tadi itu siapa?” tanya Giovano setelah kami sudah masuk di dalam gedung.
“Tunanganku.”
Laki-laki itu tersentak begitu mendengar aku menyebut Timothee “tunanganku”. Aku menatapnya dengan heran.
“Adiknya Pak Alexander?”
“Iya.”
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut setelah itu. Laki-laki itu tidak lagi bertanya sampai kami tiba di dalam kelas.
Suara bisik-bisik memenuhi ruangan ketika aku menginjakkan kakiku ke dalam kelas. Suara bisik-bisik yang pembicaraannya masih dapat kudengar dengan jelas.
“Bukannya dia ada di rumah sakit?”
“Sudah keluar mungkin. Lihat saja belakang kepalanya masih diperban.”
“Jadi, itu benar? Parah sekali kelakuan Lucy dan ibunya.”
Aku berjalan mengabaikan suara bisik-bisik dan perhatian orang-orang yang tertuju padaku. Aku bahkan tidak perlu bertanya karena semua bisik-bisik itu seperti sengaja diperdengarkan padaku, si topik utama pembicaraan pagi ini.
__ADS_1
“Meskipun mereka saudara tiri, tapi sampai membuatnya masuk rumah sakit bukannya sudah sangat keterlaluan?”
“Ingat terakhir kali Lucy sibuk membuat rumor kalau dia anak angkat?”
“Tampaknya upik abu berniat ingin menjadi putri.”
Mendengar Lucy yang menjadi topik pembicaraan yang buruk, aku tidak merasa kasihan sama sekali. Itu adalah bayaran yang harus ia bayar atas perbuatannya. Itu pun belum cukup rasanya. Aku ingin dia merasakan kesakitan yang berkali-kali lipat dibandingkan apa yang kurasakan dulu.
***
Aku melangkahkan kedua kakiku keluar dari gedung fakultas setelah kuliah selesai.
Aku menyipitkan mataku begitu melihat pemandangan yang tidak asing. Senyuman sinis tergambar di wajahku ketika aku melihat Lucy tengah berbincang dengan Timothee.
“Memang, ya. Sekalinya murahan tetap murahan.”
Suaraku cukup keras sampai membuat orang-orang di sekitarku melirik ke arahku.
“Maksudnya?” tanya Giovano yang berjalan di sebelahku.
“Itu.” Tunjukku menggunakan daguku.
Di sana Timothee sedang duduk di balik kemudi mobilnya. Ia belum kunjung pergi dari sana.
Di sebelahnya ada Lucy yang berdiri, gadis itu tampaknya tidak dipersilahkan untuk masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Keduanya tengah asyik berbincang lewat jendela mobil yang dibuka oleh Timothee.
“Bukannya itu tunanganmu?”
“Iya. Dia memang tunanganku.”
Suasana makin heboh ketika aku membenarkan pertanyaan Giovano.
“Tidak kamu susul?”
“Tidak. Untuk apa? Dia saja asyik berbincang seperti itu dengan perempuan lain. Aku lebih baik pulang naik taksi saja.”
“Biar kuantar,” tawar Giovano.
Aku merenung sebentar memikirkan tawaran laki-laki itu.
“Tidak usah. Aku pulang sendiri saja.”
Laki-laki itu tersenyum canggung begitu aku menolak tawarannya untuk mengantarku pulang.
“Kamu masih belum pulang?”
Suara bariton dari sebelahku cukup membuatku terkejut. Aku berbalik menatap heran si pemilik suara.
Laki-laki itu hanya balas menatap datar ke arahku.
“Menurut Bapak, saya masih ada di sini kalau sudah pulang?”
__ADS_1
Terdengar tidak sopan, tapi aku tidak ingin menjaga kesopanan untuk orang yang sudah memperlakukanku dengan kurang menyenangkan, meskipun itu terjadi di kehidupanku yang lalu, bukan sekarang.
“Kenapa? Tunanganmu belum datang?” tanyanya lagi.
Dia tampaknya tidak tersinggung dengan sikap tidak sopanku barusan.
“Sudah datang, tapi lagi asyik sama cabe-cabean.”
Alexander mengikuti arah pandangku yang menatap ke arah Timothee dan Lucy yang tengah asyik berbincang sambil sesekali tertawa.
“Kamu masih musuhan sama dia?”
“Menurut Bapak sendiri, apa saya bisa berdamai dengan orang yang sudah menyebarkan rumor buruk tentang saya dan bikin saya masuk rumah sakit?”
“Kamu ini tidak ada sopan-sopannya sama sekali sama saya.”
Laki-laki itu akhirnya protes juga tentang sikap tidak sopan yang terus kuperlihatkan padanya sejak tadi. Aku juga tidak ada niat untuk beramah-tamah dengan laki-laki itu.
“Sudahlah. Sekarang kamu mau menyusulnya ke sana?”
“Tidak. Mana mau saya dekat-dekat sama orang itu. Bisa-bisa saya masuk lagi ke rumah sakit.”
Orang-orang yang ada di sekitar kami semakin banyak berkumpul. Mereka tampaknya sedang menunggu untuk menyaksikan keributan yang akan terjadi antara aku dan Lucy.
Semua orang sudah tahu jika hubungan kami berdua tidak baik. Apalagi setelah aku masuk rumah sakit dan unggahan yang kubuat di akun media sosial milikku.
“Ya sudah.” Laki-laki itu berjalan meninggalkan aku dan Giovano.
Aku pun melanjutkan langkahku untuk pergi ke arah gerbang kampus. Aku ingin cepat-cepat keluar dari kampus ini.
“Alicia!”
Aku tahu persis siapa yang tengah memanggilku saat ini dari arah belakang. Tapi aku tidak ingin berhenti dan justru mempercepat langkah kakiku.
“Alicia!”
Laki-laki itu terus memanggilku berulang kali. Tapi aku juga terus mengabaikannya.
“Alicia!”
Aku merasakan sebuah tangan memegang bahuku. Suara nafas terengah-engah terdengar dari arah belakangku.
“Aku sudah memanggilmu dari tadi, apa kamu tidak dengar?”
Kutepis kasar tangannya. Aku tidak berbalik sama sekali. Aku lebih memilih untuk melanjutkan langkahku menuju gerbang.
Giovano ikut berjalan bersama denganku. Ia tidak banyak bicara.
Hal yang membuatku heran adalah laki-laki itu membawa kendaraan pribadi ke kampus, tapi ia memilih untuk menemaniku berjalan ke arah gerbang kampus. Arah gerbang kampus dan parkiran tempat ia memarkirkan mobilnya berlawanan. Tapi tampaknya ia tidak begitu peduli.
“Kamu kenapa sih?” tanya Timothee kesal.
__ADS_1