
Hari sudah hampir gelap ketika aku keluar dari ruang kelas. Malam ini aku ada janji makan malam dengan Alexander. Laki-laki itu sudah menghubungiku sedari tadi.
Koridor benar-benar sepi. Aku tidak melihat orang lain selain diriku di koridor saat ini.
Drrtt... Drrtt..
Alexander kembali mengirimkan sebuah pesan singkat padaku.
“Dari Alexander:
Kamu di mana?”
Aku tidak membalas pesan laki-laki itu dan tetap berjalan ke ruangan laki-laki itu. Aku sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
***
“Kamu dari mana saja?” tanya laki-laki itu ketika aku masuk ke dalam ruangannya.
“Dari kelas. Ada barangku yang ketinggalan tadi.”
Alexander hanya menggeleng dan tidak bertanya lagi. Ia segera mengambil jasnya yang ia letakkan di kursinya dan berjalan ke arahku.
Kami keluar dari ruangannya menuju parkiran, tempat mobil Alexander terparkir. Suasana yang sepi membuatku tidak takut akan ada yang melihat kami berjalan berdua seperti saat ini.
Laki-laki itu segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus. Kedua mataku tidak sengaja melihat Lucy tengah berdiri sambil tersenyum tidak jauh dari parkiran kampus ketika kami akan meninggalkan parkiran kampus. Ia tampak tersenyum dan membuatku merasa tidak nyaman.
“Dia belum pulang juga?” tanyaku.
“Siapa?”
Bukannya menjawab, Alexander malah balik bertanya kepadaku. Aku memutar malas kedua bola mataku.
“Lucy. Dia tadi masih ada di kampus.”
“Oh. Mungkin Timothee sedang sibuk dan belum sempat menjemputnya.”
Aku tidak lanjut bertanya lagi karena Alexander tampaknya tidak begitu peduli tentang Lucy dan Timothee sama sekali.
***
Drrtt... Drrtt...
__ADS_1
Drrtt... Drrtt...
Ponselku terus bergetar sejak tadi. Belum lama sejak kami mulai makan malam, tapi ponselku seolah tidak bisa diam.
“Dari siapa sih?” tanya Alexander tanpa melihat ke arahku. Ia tengah sibuk memotong dan melahap steak wagyu yang disajikan di piringnya.
“Entahlah. Aku belum mengeceknya sedari tadi,” kataku berusaha menyingkirkan rasa khawatir dan tidak nyaman yang terus menghampiriku sejak tadi.
Drrtt... Drrtt...
Drrtt... Drrtt...
“Mungkin itu adalah sesuatu yang penting,” kata Alexander.
Ia tampaknya cukup terganggu dengan kebisingan yang dibuat oleh ponselku yang terus bergetar sejak tadi. Tapi aku belum ingin memainkan ponselku saat ini.
Drrtt... Drrtt...
Alexander kini mengalihkan pandangannya dari makanannya. Ia menatap lurus ke arahku. Ia tampaknya sudah tidak bisa menahan diri lagi karena terus terusik oleh getaran ponselku.
Aku melirik ke arah ponselku dan mendapati nama Gioavano tertera di layar ponselku saat ini. Ia meneleponku.
“Ada apa?” tanyaku.
Alexander tidak lanjut menyantap makan malamnya. Ia menggeser piringnya ke depan dan meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap datar ke arahku. Aku yakin ia sempat melihat nama Giovano di layar ponselku tadi.
“Kamu sudah melihat berita hari ini?” tanya Giovano dari seberang telepon.
“Huh? Berita? Berita apa?” tanyaku bingung.
“Berita tentangmu dan Pak Alexander. Kau berselingkuh dari tunanganmu?!”
Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Berselingkuh? Aku yang adalah korban perselingkuhan antara Timothee dan Lucy, kini menjadi pihak yang bersalah?
Segera kuputuskan panggilan telepon dengan Giovano. Aku segera membuka akun sosial media milikku untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Ada begitu banyak pemberitahuan yang masuk ke dalam akunku. Ada begitu banyak orang yang menandai akunku dan menyebutkanku untuk sesuatu yang tidak kuketahui sama sekali.
“Ada apa?” tanya Alexander.
Ia tampaknya bingung melihatku yang tampak panik saat ini. Tapi aku tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaannya saat ini.
__ADS_1
Kedua mataku membelalak begitu aku menemukan sumber utama keributan malam ini. Firasatku yang cukup buruk setelah melihat Lucy sebelum meninggalkan kampus ternyata benar. Aku mengutuk perempuan licik itu di dalam hatiku.
“Ada apa?” tanya Alexander lagi. Kali ini ia menaikkan nada suaranya agar aku bisa memberikan reaksi atas pertanyaannya.
“Lucy berulah lagi,” kataku.
“Maksudnya?”
Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponselku dan menatap lurus ke arahnya yang tampak kebingungan. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku sebelum berbicara.
“Dia tadi memotret kita sewaktu berjalan ke arah parkiran bersama. Tidak hanya itu, ia juga memotret sewaktu aku masuk ke dalam mobilmu dan ketika kita akan meninggalkan parkiran kampus. Entah dari mana, tapi dia juga mengunggah foto kita yang sedang makan malam saat ini.”
Aku kembali menarik nafas dalam. Emosiku rasanya benar-benar memuncak sewaktu membaca kalimat-kalimat yang menyertai foto-foto yang ia unggah barusan.
“Dia juga mengatakan bahwa bukan Timothee yang memulai perselingkuhan lebih dulu tapi aku sama kamu. Dia membuat seakan-akan dia dan Timothee adalah korban yang paling dirugikan di sini. Lucu sekali rasanya. Padahal dia sendiri yang mengunggah foto ketika dia dan Timothee menghabiskan malam bersama.”
Gigi-gigiku bergemeletuk. Aku benar-benar kesal setengah mati dibuatnya.
“Lihat saja. Akan kubalas berkali-kali lipat dari apa yang baru saja kau lakukan. Kau salah sudah memancing emosiku malam ini,” gumamku.
“Apa?!”
Aku memutar malas kedua bola mataku. Laki-laki yang sedari tadi diam menyimak apa yang kukatakan, baru bereaksi sekarang. Ia tampak terlalu lamban untuk seorang yang digadang-gadang akan menjadi penerus JJ Group.
“Sekarang banyak orang yang mulai menaruh simpati pada mereka. Kita harus melakukan sesua-.”
Kalimatku menggantung di udara. Aku sadar jika meminta tolong pada Alexander belum tentu akan menyelesaikan permasalahan yang tengah kuhadapi saat ini. Orang yang terseret dalam masalah ini bukan hanya Alexander, tapi adiknya juga, Timothee. Aku tidak yakin JJ Group akan memberikan klarifikasi yang tidak merugikanku nantinya.
“Sudahlah. Apa yang coba kuharapkan dari kalian?” kataku sambil menghembuskan nafas kasar.
Aku memainkan ponselku dan mengunggah bantahanku atas tuduhan yang dialamatkan Lucy padaku. Aku tidak bisa mengharapkan JJ Group untuk melakukan hal ini padaku. Hanya diriku yang benar-benar bisa kupercaya dan kuandalkan saat ini.
Aku tertawa miris meratapi nasibku. Keberadaan Alexander di sisiku tidak banyak membantuku. Aku bahkan khawatir dengan keputusan menariknya ke pihakku saat ini.
“Bahkan setelah menjadi tunangan penerus JJ Group sekalipun, keamananku dan nama baikku tidak pernah terjamin. Entah siapa sekarang yang bisa kuharapkan selain diriku sendiri,” gumamku.
“Aku akan menghubungi sekre-“
“Tidak perlu!” aku memotong ucapan Alexander.
Lagi pula tidak ada yang bisa kuharapkan dari JJ Group. Aku tidak yakin mereka akan membantuku dalam masalah ini. Apalagi kedua anak pemilik JJ Group terseret dalam permasalahan ini. Bukan tidak mungkin mereka akan menjadikanku tumbal untuk menyelamatkan keduanya.
__ADS_1