Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna

Mengulang Kembali Waktu Untuk Balas Dendam Yang Sempurna
Chapter 18


__ADS_3

Ceklek!


Pintu yang telah kubuka sebelumnya kembali menutup. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berdiri di belakangku.


“Lalu bagaimana kamu akan menanggungnya?” tanyanya tepat di depan telingaku.


Aku tidak berbalik. Aku hanya berdiam diri di tempatku. Aku terlalu gugup karena jarak kami sedekat ini. Aku tahu jelas bahwa seharusnya aku mendorong laki-laki itu, tapi aku tidak melakukannya.


Laki-laki itu memundurkan tubuhnya. Aku berbalik menatapnya begitu sudah merasa bahwa tubuhnya menjauh ke belakang.


“Menanggung apa maksud, Bapak?”


Alexander menyandarkan pinggulnya di sofa yang ada di belakangnya. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, lalu kembali menatap datar ke arahku.


Keraguan sempat menghampiriku. Aku takut jika aku benar-benar gagal mendapatkannya.


“Kau pasti akan disalahkan jika pertunanganmu dengan Timothee dibatalkan. Apalagi jika mereka tahu bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan pria lain sebelum pertunangan kalian dibatalkan. Lebih parah lagi jika mereka tahu pria itu adalah kakak Timothee. Kau yakin bisa menanggungnya?”


Aku terdiam sejenak. Apa yang ia katakan memanglah benar. Aku akan menjadi pihak yang paling disalahkan karena pemutusan pertunangan itu. Tapi bukankah ayahku akan tetap mendapatkan keuntungan karena aku tetap berkencan dengan putra dari pemilik JJ Group?


Alexander menyunggingkan senyum sinis. Ia maju melangkah mendekatiku. Aku memundurkan tubuhku sampai rapat di pintu yang berada tepat di belakangku saat ini.


Laki-laki itu menundukkan tubuhnya agar bibirnya bisa sejajar dengan telingaku. Ia menopang tubuhnya dengan menyandarkan telapak tangannya di pintu.


“Kalau kau berpikir bahwa JJ Group masih akan berinvestasi ke perusahaan ayahmu, sebaiknya kau menyingkirkan pikiran bodoh itu.”


Aku tersentak mendengar apa yang baru saja laki-laki itu bisikkan di telingaku. Ia jelas tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini.


Ia kembali memundurkan tubuhnya. Ia tidak lagi menyejajarkan bibirnya dengan telingaku. Kedua lengannya kembali ia silangkan di depan dada.


“Setelah pembatalan pertunangan antara kau dan Timothee, orang tuaku tentu akan sulit menerima kehadiranmu di keluarga kami jika alasan pembatalan pertunangan kalian karena kau berselingkuh. Mereka akan lebih membencimu karena berselingkuh denganku, yang jelas-jelas merupakan kakak Timothee. Mereka akan berpikir bahwa kau telah menggodaku karena tidak puas dengan apa yang sudah kau dapatkan selama ini.”

__ADS_1


Aku terdiam tidak membantah. Apa yang dikatakan oleh Alexander tidak sepenuhnya salah. Akan sulit bagiku untuk bisa masuk ke dalam keluarganya jika aku adalah pihak yang bersalah dan telah membuat pertunanganku dan Timothee dibatalkan.


Jika mereka membenciku, bukan tidak mungkin mereka akan kembali menarik semua investasi yang telah mereka tanam di perusahaan ayahku. Hal itu akan membuat perusahaan ayahku berada di ambang kebangkrutan.


Ayahku tentu tidak akan diam saja jika aku berani menghancurkan perusahaan milinya. Alasan di balik pertunanganku dan Timothee juga adalah demi perusahaannya. Aku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan perusahaan milinya.


“Lagi pula akan sulit jika kau ingin berkencan denganku saat ini.”


Aku menyipitkan mataku, lalu mengangkat sebelah alisku sambil menatapnya.


“Kenapa?”


“Apa kau kira hanya Timothee saja yang sudah bertunangan di keluargaku saat ini? Aku lebih tua dibandingkan Timothee dan akan menjadi penerus JJ Group, tentu pembicaraan mengenai pernikahanku sudah dilakukan jauh sebelum pembicaraan pertunanganmu dengan Timothee.”


Aku tersenyum menatap laki-laki itu. Aku bukan tidak tahu tentang fakta bahwa ia sudah bertunangan dengan wanita lain. Tapi aku tetap maju karena aku tahu bahwa di masa depan pertunangan mereka akan dibatalkan, meskipun aku tidak pernah tahu alasan di balik pembatalan pertunangan itu.


Menjadi tunangan Timothee tidak membuatku bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dalam keluarga Jordan. Apalagi Timothee jarang membicarakan keluarganya selain tentang ia yang sedang membandingkan diri dengan Alexander dan seberapa bencinya ia dengan Alexander.


“Apa Bapak mencintainya?” tanyaku dengan pandangan meremehkan ke arah laki-laki itu.


“Cinta tidak begitu diperlukan dalam hubungan bisnis seperti ini,” katanya.


Aku tertawa hambar mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Aku bahkan nyaris tidak percaya bahwa ia adalah orang yang sama yang menanyakan tentang bagaimana jika ia yang menjadi tunanganku dan bukan Timothee.


“Jadi, Bapak tidak masalah kan kalau aku bertunangan dan menikah dengan orang lain, entah itu Timothee atau siapa pun yang ada di luar sana.”


Wajah laki-laki itu mengeras. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya atas apa yang baru saja aku katakan.


“Lagi pula Bapak akan tetap berjalan ke arah saya apa pun yang akan terjadi.”


Alexander terkekeh mendengar apa yang baru saja aku katakan. Ia tampaknya tidak percaya dengan ucapanku yang bukanlah omong kosong semata ini.

__ADS_1


“Tampaknya kau terlalu menyukaiku sampai berhalusinasi seperti itu.”


Ceklek!


Pintu di belakangku terbuka. Seorang gadis berambut pirang bergelombang mengenakan gaun mini dengan belahan pada bagian dada yang memperlihatkan dua gundukan lemak miliknya, masuk perlahan. Ia mengenakan sepatu berhak tinggi berwarna merah menyala.


Ia menatap sejenak ke arahku dengan pandangan tidak suka. Lalu masuk tanpa permisi.


“Sayang!” katanya sambil berjalan ke arah Alexander, lalu memeluk laki-laki itu.


Alexander sempat tersentak setelah dipeluk tiba-tiba oleh gadis yang kutebak adalah tunangan laki-laki itu. Laki-laki itu hanya berekspresi datar tanpa membalas pelukan gadis itu.


Gadis itu berbalik menatap tidak suka ke arahku sambil tetap memeluk tubuh Alexander.


“Siapa dia?” tanyanya.


Alexander hanya terdiam tidak menjawab. Ia tampaknya tidak ingin meluruskan kesalahpahaman yang melintas di dalam kepala gadis itu. Lagi pula tidak ada yang perlu diluruskan, karena aku memang berniat merebut tunangan gadis itu.


“Bapak ingat kata-kata saya baik-baik. Jika Bapak datang setelah ini, saya tidak yakin akan bisa menerima Bapak dengan baik seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.”


“Tidak sopan sekali kamu!” teriak gadis itu.


“Kamu masih mahasiswa di kampus ini kan?”


Alexander yang dibela oleh gadis itu tidak berterima kasih sama sekali. Ia justru melepas paksa pelukan gadis itu dan mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.


Ia menatapku penasaran seolah-olah menunggu aku akan mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak ingin bertindak seperti yang ia harapkan.


Aku berbalik, lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka berdua. Aku bisa mendengar suara gadis yang berdiri di sebelahnya tengah menggerutu karena sikap tidak sopanku barusan. Setidaknya aku sudah mencoba untuk menawarinya kesepakatan baik-baik.


“Lucu sekali dia bersikap seperti itu, padahal ia sama sekali tidak bisa menyangkal kalau ia memiliki perasaan padaku.”

__ADS_1


__ADS_2