
Aku terbangun dengan bagian belakang kepalaku yang terasa begitu nyeri dan merasa sangat haus. Kuraba bagian belakang kepalaku yang ditutup kasa dan plester.
Kuraba bagian dadaku, tepat di tempat dua peluru bersarang di kehidupanku yang pertama. Tidak nyeri, tapi aku ingat betul bagaimana rasa nyeri itu ketika dadaku sudah ditembak oleh orang yang paling kupercayai dulu.
“Kamu sudah bangun?”
Aku menatap ayahku yang tampak lega.
“Tunggu sebentar, ayah akan memanggil dokter dulu.”
Laki-laki itu pergi meninggalkanku dan berjalan keluar dari kamar tempat aku dirawat.
***
“Keadaannya sudah cukup stabil. Tapi kami masih harus memeriksanya untuk beberapa hari ke depan.”
Setelah berkata demikian, dokter itu pun berlalu. Ia keluar dari dalam kamar tempatku dirawat.
Aku menatap ayahku yang tampak lelah. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, tapi tampaknya ayahku terus ada di sampingku selama itu.
Aku tahu dengan jelas bahwa ia sangat menyayangiku, meskipun ia menyakitiku begitu aku menolak perjodohan dengan Timothee karena berkaitan dengan bisnisnya. Mungkin memang ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang keadaan perusahaan ayahku saat ini.
“Haus.”
Dengan sigap ayahku mengeluarkan air mineral dari dalam kantung plastik, membukanya dan mengarahkannya bagian atasnya pada mulutku.
“Pelan-pelan.”
Ia membantuku untuk minum dengan menahan bagian belakang tubuhku.
***
“Ayah,” panggilku.
Selama aku dirawat, ia senantiasa mendampingiku di rumah sakit. Bahkan ia membawa serta pakaian miliknya dan beberapa perlengkapan mandi agar ia bisa mandi dan berganti baju di kamar mandi yang ada di dalam ruangan tempatku dirawat saat ini.
“Ya?”
“Lucy sama ibunya bagaimana?”
Ayahku terdiam sejenak. Aku sedikit khawatir ia akan tetap memaafkan mereka, apalagi ia dan ibu Lucy masih dalam ikatan pernikahan.
“Kamu tidak perlu khawatir,” katanya sambil mengusap puncak kepalaku.
Ia menatap nanar ke arah bagian belakang kepalaku yang diperban.
“Ayah sudah mengusir mereka berdua dari rumah kita. Mereka tidak pantas tinggal bersama kita setelah menyakitimu seperti ini.”
Laki-laki paruh baya yang selalu kuandalkan itu menghela nafas kasar, lalu memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
“Ayah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ayah tidak di sana. Di depan ayah saja mereka berani menyakitimu sampai seperti ini. Bagaimana jika ayah tidak ada? Mungkin saja mereka akan membunuhmu.”
‘Mereka memang sudah membunuhku, ayah,’ batinku.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan dari arah pintu mengacaukan suasana sendu yang ada di dalam ruangan ini.
Ayahku melangkah ke arah pintu untuk membuka pintu dan mencari tahu siapa yang ada di balik pintu saat ini.
“Selamat siang, Tuan Anderson.”
Aku menarik nafas kasar ketika melihat Timothee muncul dengan sebuket bunga yang indah.
“Selamat siang. Mari masuk.”
Suasana yang tadi terasa sendu, kini terasa lebih baik dengan kehadiran Timothee. Tapi aku tidak merasa membaik dengan kehadiran laki-laki itu. Aku membencinya.
“Ayah tinggal sebentar, ya.” Ayahku kembali mengusap puncak kepalaku.
“Ayah ada urusan sebentar. Timothee, saya titip Alicia sebentar.”
“Iya.”
Kutatap punggung ayahku yang berjalan menjauh dari arahku dan menghilang di balik pintu.
Seseorang muncul dari balik pintu begitu ayahku keluar. Aku cukup terkejut ketika mengetahui bahwa Timothee tidak datang sendirian.
Aku mengangguk. Tentu saja aku mengenal dia. Aku mengenal sosok angkuh itu dengan sangat baik.
“Dia kakakku, Alexander. Dia dosen di kampusmu.”
Laki-laki itu hanya menatap datar ke arahku. Tidak ada senyuman ramah di wajahnya. Aku bahkan curiga ia datang ke sini untuk mengajakku bertengkar.
“Bagaimana keadaanmu?”
Aku tidak tahu apa pertanyaan yang dilontarkan oleh Timothee itu hanya basa basi atau memang ingin tahu. Aku tahu dengan jelas bahwa laki-laki itu tidak pernah menyukai pertunanganku dengannya, tapi ia selalu bersikap seolah-olah menyukainya.
“Sudah lebih baik.”
“Aku turut prihatin dengan keadaanmu saat ini. Aku tidak menyangka Lucy dan ibunya akan setega ini denganmu.”
Rasa mual memenuhi perutku begitu aku mendengar tiap omong kosong yang terlontar dari dalam mulut laki-laki itu. Tidak ada satu pun dari perkataannya yang membuatku tersentuh, aku justru bertambah benci dengannya karena tahu semua itu hanya sebatas pura-pura.
“Ini, aku tadi beli ini di perjalanan ke sini.”
Ia menyerahkan buket bunga yang tadi dibawanya masuk ke dalam ruangan ini.
“Terima kasih,” kataku sambil menerima buket bunga itu.
__ADS_1
“Indah bukan?”
“Iya sangat indah.”
Aku sebisa mungkin berusaha tersenyum di depannya, berpura-pura di depannya, sama seperti ia selalu berpura-pura di depanku selama ini.
‘Sayangnya buket bunga ini dibawa oleh makhluk menjijikkan sepertimu, keindahannya jadi sangat berkurang. Aku bahkan ingin segera membuangnya,’ batinku.
Segala umpatan terus berkumandang di dalam pikiranku. Tidak ada satu pun yang berani kukeluarkan dari mulutku. Konsekuensi jika aku menyinggungnya di sini terlalu besar.
Aku baru saja sadar setelah kepala bagian belakangku terbentur dan terluka. Aku tidak akan sanggup menahannya jika harus ditampar dengan keras setelah ini.
“Kamu sudah makan?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Aku memang belum mengisi perutku sejak tadi.
“Memangnya dia sudah boleh makan?”
Suara bariton Alexander terdengar untuk pertama kalinya di dalam ruangan ini. Laki-laki itu hanya terdiam sedari tadi dan baru berbicara sekarang.
“Benar juga. Aku akan pergi bertanya pada dokter dulu. Kakak tunggulah di sini sebentar. Tolong jaga Alicia selama aku pergi.”
Timothee berjalan keluar meninggalkan aku dan Alexander berdua di dalam ruangan ini. Tampaknya hubungannya dengan Alexander jauh lebih baik dari yang kupikirkan.
Tapi tentu saja itu tidak akan menipuku yang sudah lama mengenal laki-laki itu. Aku tahu dengan jelas seberapa tidak sukanya ia dengan Alexander dan tentang inferior complex yang ia rasakan terhadap Alexander.
“Kamu sudah bisa bernapas lega sekarang.”
“Maksudnya?” Aku menatap heran ke arah Alexander.
Aku dibuat bingung oleh laki-laki itu.
“Aku tahu kamu tidak menyukai Timothee.”
Ucapannya membuatku terdiam sejenak. Aku tunduk menatap jemariku, lalu tersenyum miris.
“Apa pentingnya perasaanku? Lagi pula ini adalah perjodohan bisnis, perasaanku tidaklah penting.”
“Kamu tetap menerimanya begitu saja meskipun kamu tidak menyukainya?”
Ia menatapku heran dan kesal. Aku juga heran dengan tingkahnya saat ini. Aku kira dia cukup pendiam tadi. Ia kini berbicara lebih banyak denganku setelah Timothee keluar.
“Bagaimana jika bukan Timothee?”
“Maksudnya?”
Aku semakin dibuat bingung dengan arah pembicaraan laki-laki itu. Ia tampak tidak menyukai perjodohanku dengan Alexander. Aku bahkan curiga ia telah membenciku sejak awal.
“Bagaimana jika itu bukan Timothee?” tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku masih terdiam dan bingung dengan tingkah laki-laki itu saat ini.
Bagaimana jika aku yang memilih dijodohkan denganmu? Apa kamu akan tetap menerimanya?”