
Disebuah pagi yang cerah Amila dibawa oleh ayah dan ibunya untuk menemui pamannya yang berumur empat puluh dua dan duda beranak satu, nama paman itu adalah Ravit.
Anak satu satunya paman tersebut bernama Aldi yang berumur dua tahun lebih tua dari Amila.
Seiring waktu berlalu akhirnya Amila sampai ditempat pamannya, "Kita sudah sampai sayang" Usai Michel, ayahnya Amila.
"Hemmmm, Iyah pah" Amila menjawab ucapan ayahnya dengan lemas karena memang dia benar benar males dengan keputusan ayahnya untuk menitipkan dia kepada pamannya, umur Amila sudah menginjak dua puluh empat tahun ditahun ini.
Lalu Amila, ayahnya, dan ibunya turun dari mobil itu dan pergi memasuki wilayah rumah Ravit yang cukup sangat besar.
"Yaampun, aku gak enak banget. Apa lagi aku tau banget sifat paman" Batinya yang baru menginjak teras rumah Ravit.
Michael mengetuk pintu dengan mengucapkan salam, "Assalamualaikum" Dengan suara cukup besar agar terdengar oleh Ravit.
Ravit membukakan pintu dan menjawab ucapan salam Michel. "Walaikumsalam".
Sambil tertawa tertawa bercanda Ravit memeluk kakaknya Michel yang sudah lama tidak bertemu dan menanyakan, "Apa kabar bang!" Dengan menepuk-nepuk pundak Michel.
"Yahahahahahah baik-baik saja kok" Jawab Michel yang membalas tepukan Ravit dengan tepukanya juga dan melepaskan pelukanya.
"Ayo masuk," Ravit membukakan pintu yang tadi sudah sedikit tertutup untuk mempersilahkan Amila dan keluarganya masuk.
"Okey, okey" Jawab Michel yang langsung melirik Amila dan Siska dan memutarkan bola matanya untuk memberikan isyarat masuk.
Amila yang males banget langsung masuk kerumah Ravit yang cukup luas. Desain rumah yang rapih dan clasik dengan peralatan yang mewah dan unik.
Amila langsung menghiraukannya dan kembali memandangi kearah depan dan berhenti ketika sampai disebuah sofa yang berwarna kuning keemasan dan bantal persegi dengan bulu lembut.
Lalu Amila dan kedua orang tuanya menduduki kursi panjang yang mampu diduduki oleh tiga orang, sedangkan Ravit menduduki kursi pendek yang hanya bisa diduduki oleh satu orang saja.
Dengan bercanda canda sebentar dan meminum kopi hingga menghabiskan waktu kurang lebih satu jam akhirnya Michel memutuskan untuk meminta ijin Amila agar tinggal satu bulan dirumah itu.
Dengan menegakkan tubuh dari senderanya kekursi Michel mengatakan, "Jadi sebenarnya saya minta ijin untuk menitipkan anak saya Amila agar tinggal disini kurang lebih satu bilang lah".
"Oh, jadi maksud Abang, Abang menitipkan putri Abang ke saya nih? Hahahaha yah kalau Amilanya mau sih saya tidak keberatan yah" Jawab Ravit dengan tatapan aneh kepada Amila membuat Amila cukup tidak nyaman hingga Amila terus saja membuang muka.
"Hemmmm" Michel langsung membalikan pandangan kearah Amila, "Gimana sayang? Kamu mau kan tinggal sebulan sama paman kamu?" Tanya Michel yang dimana Amila masih membuang muka dan menatap kearah berlawanan.
__ADS_1
"Enggak mau!" Ketus Amila, namun tatapan Ravit makin terlihat jelas seolah-olah dia memikirkan sesuatu.
"Ayolah sayang? Kamu taukan kalau Ayah benar benar sibuk sebulan ini sama mamah kamu? Jadi tolonglah kamu ngertiin" Paksaan Michel membuat Amila cukup kesal dan risih, mau tidak mau Amila menganggukan kepada tanpa berbalik badan melihat ke Michel atau mungkin lebih tepatnya kepada pamannya Ravit.
"Sayang.... Tolong dong jangan buang muka gitu?" Usai Michel.
"Hemmm Iyah!" Ketus Amila memaksakan diri membalik badan dan pandangan.
"Ish, tuh kan. Kenapa sih paman Ravit ngeliatin aku gitu banget?" Batinya.
"Hemmm, kalau begitu kamu permisi dulu yah?" Usai Rini, ibunya Amila.
"Iyah, Iyah" Jawab Ravit yang hanya mengatakan Iyah Iyah namun tetap saja pandanganya mencuri curi pandangan Amila.
"Tuhkan? Paman Ravit ngapain sih liatin aku segitunya?" Batin kesalnya.
"Oke kalau begitu, sekali lagi terimakasih yah" Usai Michel yang kemudian berdiri bersama Rini.
Lalu Amila dan Ravit berdiri.
Tentunya ada adegan-adegan seperti orang pamit pergi. Lalu Michel dan Rini pergi meninggalkan Amila berdua dengan pamanya.
"I-iyah" Gugup Amila.
Lalu Amila dan pamanya Ravit masuk kerumah.
"Eh, Kamarku mana paman?" Tanya Amila sambil berjalan kearah sofa dimana dia meninggal koper berisi barangnya.
Lalu saat Amila sampai disofa itu dan berbalik badan kearah Ravit karena belum mendapatkan jawaban, dia terkejut ketika Ravit memandang wajahnya dengan hawa yang sangat menyengat.
Dengan lancang Ravit memegang pipi Amila dan mengatakan, "Lain kali, panggil saya Abang saja" Godanya mendekatkan diri kepada Amila.
Amila sangat takut dan terus saja mundur dimana semakin dia mundur, semakin Ravit maju. "Ap-apa yang paman ing-ingin lakukan" Gugupnya.
Namun Amila langsung jatuh kesofa dan terbaring karena dia terus saja mundur, dengan keadaan itu membuat Ravit semakin ada kesempatan untuk melakukannya.
Ravit langsung menjatuhkan dirinya dan mengeletakan tubuhnya ketubuh Amila hingga Amila keberatan menahan tubuh berat Ravit yang menimpanya. "Pa-paman".
__ADS_1
Namun Amila baru saja mengatakan itu Ravit langsung mencium bibirnya, mencari cari kesempatan keji.
Ciuman hangat Ravit yang langsung tanganya mengeletak mencari tangan Amila, Lalu Ravit melepaskan bibirnya dari bibir Amila dan mengatakan, "Bermain sebentar dengan paman, Amila".
Amila semakin takut dengan tingkah paman yang padahal baru saja Michel, ayahnya Amila pergi.
Namun sontak Ravit mendengar seseorang berteriak.
"PAAAH" Teriak anaknya Ravit yang bernama Aldi itu.
"Hehe, kamu selamat sekarang Amila" Ucap Ravit yang langsung berdiri dan merapihkan pakaiannya, begitu juga Amila yang masih takut dan murung menjauhkan dirinya dari Ravit.
Aldi datang dan terkejut melihat Amila yang berada disofa, "Dia siapa pah?" Tanya Aldo melangkah menghampiri sofa.
"Dia saudara kamu" Jawab ketus Ravit dan langsung pergi ketangga untuk pergi keatas.
Tentunya disofa tinggal Amila dan Aldi.
"Kamu tidak apa-apa?" Pertanyaan Aldi membuat Amila pusing seolah-olah dia tau apa yang Ravit lakukan kepadanya.
"Hemmm? Aku tidak apa-apa" Jawab Amila dengan suara pelan karena masih syok dengan adegan tadi.
Lalu Aldi duduk disamping Amila seolah-olah menenangkan Amila, "Kalau begitu aku antar kamu kekamar ternyaman aja yah?" Tawaran Aldi mendapatkan agukan saja dari Amila yang terbaku diam.
Lalu Aldi membawakan koper Amila dan mengantarkan Amila kekamarnya.
Hingga sampai kelantai dua dan kamar yang berada diujung kanan sudut ruangan.
"Kamarmu disini saja yah? Semoga nyaman" Ujarnya.
"Sepertinya cowok ini baik, semoga dia benar-benar tau kalau papahnya mesum" Ujar dalam hati Amila menatap ramah Aldi.
"Kalau begitu aku permisi yah?"
"Hemmm? Iyah"
Aldi pergi meninggalkan Amila sendirian dikamarnya.
__ADS_1
Lalu Amila masuk kekamarnya yang cukup luas.
#Hai gays..... Ingat novel judul tangisan dalam hati? Karena berantakan aku ganti jadi novel ini, maaf banget gayssss. Tapi novel ini jamin lebih menarik dan seruuuuu. Jangan lupa like favorit sama komentarnyaaa')