
Episode Sebelumnya
Bu Sari pun duduk di kursi dekat Syafira dan menatap Syafira dengan serius.
"Syafira?" Ucap Bu Sari.
"Iyh mah?" Ucap Syafira.
Syafira yang merasa binggung dengan mamahnya yang menatapnya tajam.
"Ibu minta sama kamu tolong kamu jangan berteman lagi dengan Tania" ucap Bu Sari.
"Apa?" Ucap Syafira heran.
"Syafiraaaa Tania yang sudah buat kamu kaya gini!" Ucap khawatir Bu Sari.
"Hah?" Kagetnya.
"Ta... Tapi" ucap gugupnya.
"Udh Syafira! Apa yang di katakan Renata itu benar, Kalo kamu begini itu semua karena Tania!"
"Kamu jangan pernah berteman lagi dengannya!"
"Tapi mah.." ucap Syafira terpotong.
"Udh Syafiraaaa! Kamu jangan pernah membela penjahat Syafiraaaa" ucap sedih Bu Sari.
"Maaah! Syafira jatuh dari balkon bukan karena Tania!" Ucapnya.
"Syafira!" Ucap Renata dengan volume tinggi.
"Aku lihat dengan kepalaku sendiri kalo Tania mendorong kamu dari balkon!" Ucapnya.
"Hah?" Kagetnya lagi.
"(Kenapa semua menyalahkan Tania? Apa yang terjadi?)" Bingungnya.
Tatapan Bu Sari yang tajam membuat Syafira tidak bisa mengatakan apa apa.
Dan memilih diam.
Di parkiran depan rumah sakit.
"Makasih yah mas Rangga, kamu udah mau antar aku!" Ucapnya.
"Hehe iyah sama sama" ucap ramahnya.
"Emmmm kalo gitu aku permisi pulang dulu" ucapnya melangkah kan kaki.
Terhenti.
"Tunggu"
"Iyh?" Ucapnya.
"Maaf Bu! Ijinkan saya untuk mencarikan taksi untuk ibu" ucap ramahnya.
"Hah? Oh iyh tentu" jawab gugup Bu Nela.
Rangga pun mencarikan taksi untuk Bu Nela.
Dan ketemu.
"Makasih yah mas hari ini udh mau nolong aku" ucap Bu Nela.
"Oh iyh Bu"
Bu Nela pun menaiki taksinya.
Dan pergi.
Didalam taksi.
Bu Nela yang bingung sendiri dengan apa yang sudah terjadi.
"(Astagfirullah aku lupa buat tanya namanya!) Ucap nyesalnya.
"(Emmm apa dia udh tau namaku?)
...
"(Aku harap aku bisa bertemu dia lagi)"
Keesokan harinya...
Pagi yang sangat cerah menyambut semuanya.
Tania yang baru saja selesai siap siap untuk berangkat sekolah.
Pandanganya terpaling kepada buku.
Buku diary nya
__ADS_1
Tania memutuskan untuk menulis diary.
"Duniaku penuh kegelapan Entah itu siang atau malam Seolah olah tiada cahaya matahari yang menerangi serta tiada bintang yang muncul, Entah kenapa aku ingin mencahayai duniaku sendiri."
Dengan sedih.
Dan menatap sedih tentang apa yang terjadi kemarin.
Dan Tania pun pergi ke bawah.
Sesampainya di ruang makan.
Tania yang melihat ayahnya sudah ada di meja makan.
Dan menghampirinya.
"Assalamualaikum pah" Ucap riangnya.
Seketika ria nya hancur.
Karena...
Papahnya yang langsung pergi saat melihat Tania menghampirinya.
Seolah olah tidak ingin bertemu Tania.
"(Apa papah begini karena masalah Syafira?)"
"(Yatuhan tolong buktikan kebenaran yang sebenarnya kepada mereka)" Ucap sedihnya.
Tania Pun memutuskan sarapan.
Sendirian.
Di rumah sakit.
Syafira yang berniat untuk bersekolah hari ini.
"Kamu serius mau sekolah hari ini?" Tanya khawatir Bu Sari.
"Iyh mah" slow santai Syafira.
"Emmm kamu ingat yah sama pesan mamah" ucapnya.
Membuat Syafira tidak bisa mengetakan apa apa.
"Emmmm iyh mah" jawab sedih syafira.
Kebetulan disitu ada Renata yang memang mau berangkat bareng sama syafira.
"Renata tolong jaga Syafira yah?" Ucap Bu Sari.
"Iyh Tante!" Ucap tegar Renata.
"Tante percaya sama kamu" ucap bu sari kepada Renata
Syafira dan Renata pun pamit.
Dan pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah.
Tentunya akan banyak siswa yang baru datang atau memang ada yang berlalu lalang disana.
Tania yang sudah datang lebih dahulu dibandingkan Syafira dan Renata.
"Tania?" Ucap Syafira.
"(Syafira sudah sembuh?)" Ucap Tania menatap Syafira.
"Eh ada penjahat disini?" Ucap Renata.
"Lo gak usah mulai deh Renata!" Ucap Vina.
"Ihk apaan sih Lo! Lagian gw kan ngomong ke Tania bukan ke Lo!" Ucap tegasnya.
"Tania aku mau ngomong sebentar berdua sama kamu" ucap lemas Syafira.
"Syafira! Kamu ngapain sih ngomong sama orang yang udh nyakitin Lo!" Ucap Renata.
"Renata! Gw cuma mau ngomong sesuatu sama Tania" ucap Syafira.
"Gak! Pokonya gw gaakan biarin Lo berduaan aja sama Tania! Lagian yah Tante Sari udh nitipin lo ke gw!" Ucap Renata.
"Udh Renata! Gw gaakan kenapa kenapa! Percaya sama gw"
"Iyh deh iyh! Tapi awas aja Tania! Kalo terjadi apa apa sama Syafira gw gaakan tinggal diam!" Ucap Renata.
Tania yang hanya diam saja dan Vina yang menahan emosinya.
Syafira pun pergi dan diikuti oleh Tania.
"Tania! Gw mau nanya sama Lo, apa yang terjadi selama gw koma?" Tanyanya.
__ADS_1
"Gw juga gak ngerti Fir!"
"Lo nggak ngerti?"
Respon Tania yang cuma mengeleng kepala.
"Entahlah Tania! Tiba tiba gw bangun dari koma! Dan gw harus melihat apa yang sebenarnya gw gatau apa yang menyebabkan ini semua terjadi?" Ucap sedihnya.
"Hisk... Gw mau nanya lagi deh sama Lo tania! Kenapa Renata bisa benci sama Lo?"
Pertanyaan Syafira yang membuat Tania down.
"Fir! Gw juga gak ngerti, tiba tiba semua menyalahkan gw sama apa yang sebenarnya gw gak lakuin!" Ucap sedih Tania.
"Lo gak pernah kan ngerasain gimana rasanya jadi gw? Dimana Lo harus menanggung hukuman yang sebenernya bukan Lo yang menyebabkan semuanya terjadi?" Ucap Tania penuh kesedihan.
"Tania! Lo cerita sama gw apa yang buat Renata benci sama Lo?"
"Fir! Tania benci sama gw, Karena dia fikir kalo gw yang mendorong Lo dari balkon!" Ucap Tania.
"Hah? Ta... Tapi! Gw jatuh dari balkon karena lantainya yang licin kan?" Ucap Syafira kaget.
"Tapi Renata berfikir gitu! Gw gak ngerti sama dia" ucap sedih Tania.
Tania pun pergi meninggalkan Syafira yang sepertinya ia masih memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanya.
Bu Nela yang masih pusing gimana caranya untuk mencari keberadaan Syafira.
"Hiks... Ya Tuhan gimana caranya untuk membuktikan kalo semua yang aku katakan benar!" Ucap sedih Bu Nela.
"Apa aku kembali saja ke tempat dimana aku menitipkan Tania?"
Bu Nela pun pergi ke tempat tinggal lama Bu Sari.
Tempat dimana ia membuang Tania.
Di rumah lama Bu sari...
"(Disini tempat aku membuat Tania!)"
"(Seharusnya ada sedikit bukti yang tertinggal disini!)"
"Iyh! Gw yakin di dalam rumah ini pasti ada bukti dimana tempat pindahnya!)"
"(Pertama pertama gw harus cari cara untuk bisa masuk ke rumah ini)"
Ucap Bu Nela.
Tak lama warga sekitar lewat.
Bu Nela pun Menghentikan langkah warga itu.
"Permisi mbak!" Ucapnya menghentikan langkah.
"Eh iyh Bu? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya warga itu.
"Eh iyh bu, apa ibu tau pemilik rumah ini?" Tanyanya.
"Oh Bu Sari yah Bu?"
"Eh iyh benar Bu! Apa ibu tau dimana ia tinggal sekarang? Eee atau gak apa ibu punya nomor hp yang online atau apa gitu?" Ucapnya.
"Emmm kalo nomor sih saya gak punya, tapi kebetulan rumah ini memang ia titipkan di saya Bu!"
Ucapan warga itu membuat Bu Nela merasa ada kesempatan untuk bertemu Tania.
Bersambung
Episode selanjutnya
Bu Nela pun melihat bahwa Bu Sari sudah berada di sana.
"Permisi Bu" Ucap Bu nela.
"eh? iyh!" ucapnya dengan bangun dari duduknya.
Bu nela dan Bu Sari pun duduk.
"jadi gini Bu saya adalah Bu Nela, Yaitu ibu dari bayi yang berada di depan rumah ibu"
"Hah?"ucap kaget Bu Sari.
"iyh Bu karena waktu itu saya benar benar ingin menyelamatkan Syafira anak saya dari ayah kandungnya yang ingin mengambil ginjalnya!"
"(Ini pasti ibu kandung Syafira, Gak! Pokonya aku gak boleh membiarkan dia mengambil Syafira dari aku! Karena aku lah yang udh membesarkanya)"
"Maaf Bu, tapi saya benar benar tidak menerima bayi apapun di depan rumah saya" Ucap bohong Bu Sari.
membuat Bu nela kaget.
"tapi Bu? saya benar Benar mengatakan yang sejujurnya bahwa saya adalah ibu dari anak itu" ucap Bu nela penuh kesedihan.
...(Usaha Bu Nela)...
__ADS_1