Menikah Dengan Paman Tampan

Menikah Dengan Paman Tampan
Perubahan Hidup Tania


__ADS_3

Episode Sebelumnya


Tania yang langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya...


Dengan menangis...


Hiks hiks hiks


Tangisan Tania yang tampak jelas


Hati Tania yang campur aduk


"(Kenapa semuanya nyalahin aku?)"


(Yatuhan kalo kau tau kalo aku tidak mendorong Syafira, Maka tolong buat semua orang tau kalo aku tidak mendorong Syafira)" Ucapnya.


Air mata yang menetes lebih deras.


Dan Tania memutuskan menghapusnya.


Dan menulis diary.


"Malam ini benar benar gelap, Tiada bintang dan bulan yang menerangi


Aku benar benar ingin menerangi malamku, tetapi apakah aku bisa menerangi malamku disaat hampa. Tulisan Tania yang ia tulis di buku diary nya dengan air mata yang terus mengalir.


Hiks hiks hiks.


"(Lebih baik aku mengaji saja)"


Tania pun mengaji


Dan membaca Alquran.


Agar hatinya tenang.


Keesokan harinya...


Tania yang baru saja keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.


Tania pun duduk di di dekat papahnya.


"Papah sudah dengar kalo Syafira kecelakaan" Ucapnya.


"Iyh pak Syafira kecelakaan. Tapi....."


"Kamu yang mendorong Syafira?" Ucapnya memotong omongan Tania.


"Engak pih! Tania...."


"Udh cukup Tania!" Ucapnya yang lagi lagi memotong omongan tania.


"Piiih!"


"Taniaaaaa!"


"Bu Sari sudah menceritakannya kepada papi!"


"Kalo kamu sengaja mendorong Syafira!"


"Piih!"


Tania yang sangat sedih dan hancur.


Karena ayahnya yaitu mataharinya kini tiada.


Ayahnya sendiri tidak ingin mendengar penjelasanya.


"Kalo gitu papih berangkat kerja!"


Tanpa pamitan atau meminta salam nya pak Dimas langsung pergi dari depan Tania.


Hingga Tania yang mengulurkan tangan untuk mencium tangan pak Dimas di hiraukan oleh pak Dimas.


Tentu saja membuat hati Tania berpatah patah.


"(Yatuhan kau boleh membuat teman temanku menjauhiku tetapi kenapa kau membuat ayahku menjauhiku juga?)" Ucap Tania dalam hati dengan sedih dan menangis.


Dan menatap lesu kepergian ayahnya.


Di rumah Sakit...


"Syafira.. kamu kenapa bisa begini?"


"Kenapa Tania bisa mendorong kamu sampai kamu koma sayang?"


Ucap khawatir Bu Sari.


"Treneng" suara hp Bu Sari.


Bu Sari pun dengan lemas mengambil hpnya dan menjawab panggilannya.


"Halo?" Ucapnya.


"Emmmm metting yah pak?"


"Bisa gak metting nya sore?"


"Gak bisa yah?"


"Oh oke oke saya akan kesana sekarang"


Bu Sari pun menutup telponnya.


"(Emmmm gimana yah? Aku nitip Syafira kepada siapa yah)?"


"(Oh iyh Renata! Tapi Renata pasti sedang sekolah)"


"Emmmm aku suruh saja Bu Mayang untuk menjaga Syafira"


Bu Mayang adalah sahabat Bu Sari dari SMA.


"Tut Tut Tut"


Bu Mayang yang baru saja sampai di rumah sakit tempat ia bekerja.


Mendengar panggilan Bu Sari.


Bu Maya pun mengangkat telpon Bu Sari.


"Halo Bu?" Ucap Bu Sari.


"Iyah Bu?" Tanya Bu Maya.

__ADS_1


"Bu saya boleh minta tolong gak? Untuk jaga anak saya Syafira di rumah sakit?"


"Apa jeng? Jadi anak kamu Syafira masuk rumah saki?" Tanya nya kaget.


"Iyh jeng dan sekarang ada kerjaan penting yang harus saya kerjakan Bu! Jadi Syafira gaada yang jaga"


" Baik lah jeng saya akan jaga Syafira"


"Makasih banyak Bu"


Bu Sari pun menutup telpon lalu Bu Maya pun langsung balik lagi dan menuju rumah sakit tempat Syafira di rawat.


Tania yang baru saja datang ke sekolah melihat Vina dan Renata yang berada di halaman depan sekolah.


"Hai teman teman" sapa Tania.


Kebetulan di halaman depan sekolah bukan hanya ada mereka bertiga tetapi ada banyak siswa dan siswi. Ada yang datang ke pesta Vina adapun yang tidak.


"Ada yang ngaku sahabat tapi menyakiti sahabatnya check!" Ucap Renata mendekat ke Tania.


Dan mendorong Tania Hinga jatuh.


"UPS maaf!" Ucapnya.


"Heh itu Tania kan? Yang udh dorong Syafira sampe Syafira masuk rumah sakit!" Ucap siswa lain.


"Heh iyh masih ada muka dia masuk ke sekolah ini!"


"Iyh gays karena Tania ini urat malunya udh putus" Ucap Renata dengan menginjak tangan Tania yang sedang ada di tanah.


Sedangkan Vina yang hanya bisa menatap diam.


"Awwww" Ucap tania kesakitan.


Tampa Tania sadari air matanya jatuh.


"Yeh malah nangis!" Ucap Renata dengan mengangkat kakinya dari tangan Tania.


Hati Tania yang hancur berkeping keping.


Mendengar ucapan bully an teman sekolahnya.


"Hiks hiks" air mata yang entah kenapa turun dari matanya.


"(Yatuhan Tania kasihan)" ucap Vina menatap Tania yang sedang menangis.


"(Gw yakin kalo Syafira jatuh karena minyak yang gw sediain buat Tania)"


"(Tapi kenapa gw juga gak tega melihat Tania di injak injak gini)"


"(Karena seharusnya gw senang kalo ternyata kejadian yang gak gw rencana in bisa membuat Tania menangis apalagi bisa membuat Renata menjadi jahat ke Tania)"


"(Apa aku harus melupakan dendamku kepada pak Dimas yah?)"


"(Karena bagaimanapun juga yang salah ayahnya Tania bukan Tania!)"


"(Gak gak! Gw mikir apa sih Tania kan anaknya pak Dimas alies pembunuh ibu aku)"


Ucap dalam hati Vina dengan menatap sedih Tania.


"Udh Vin kita pergi dari sini karena disini itu panas" ucap Renata mengajak Vina pergi dari halaman depan.


Meninggalkan Tania.


Lalu memutuskan pergi ke kursi tak jauh dari sana.


"Hiks hiks hiks"


Tangisan Tania.


Tak lama kemudian


Bu Siska datang.


Bu Siska yang melihat Tania menangis pun menghampiri Tania.


"Tania?" Ucapnya sambil duduk di samping Tania.


Tania yang sadar kedatangan Bu Siska pun menghapus air matanya.


"Eh? Ibu?"


"Kamu kenapa sayang? Coba ceritakan semuanya ke ibu?"


Tania yang belum siap untuk bercerita dan hanya melamun kosong.


"Tania? Hey!" Ucap Bu Sari mencoba menyadarkan Tania.


"Eh? Iyah Bu! Tania gapapa kok!" Ucapnya.


Meskipun Tania mengatakan tidak apa apa tetapi Bu Sari yang tau bahwa Tania sedang memendam lukanya.


"Yah sudah kalo kamu belum bisa menceritakannya ke ibu"


"Tapi kamu gak boleh menangis karena kamu itu wanita yang ceria!"


Ucap Bu Sari memberikan semangat kepada Tania.


"Iyh Bu!"


Tania pun meminta ijin untuk pergi.


"Tania permisi dulu yah Bu!" Ucapnya.


"Yasudah tapi kalo kamu mau ijin kamu bilang ke ibu atau guru lain yah!"


"Baik Bu!"


Tania pun mencium tangan Bu Siska dan pergi.


Dan lorong perjalanan ke kelas.


Tania lagi dan lagi menabrak seseorang.


"Bruk!"


Tatapan mesra lagi.


Bola mata Tania yang terlihat jelas bahwa ia baru saja menangis terlihat oleh Rendy.


"Iiiilih!" Tania yang melepaskan pelukan Rendy.


"Kamu ini yah medus Mulu jadi orang!" Ucap marah Tania.

__ADS_1


"Kamu ini yah mau lagi sedih mau lagi bahagia mau lagi marah atau apalah tapi tetap aja yah bisa marah marah!" Ucap Rendy.


"(Hah? Dia tau kalo aku habis nangis?)" Ucapnya heran.


"Udh yah dari pada kamu bingung kenapa aku tau kamu habis nangis mending kamu menghibur diri kamu sendiri dari pada mencari masalah sama orang lain" ucap perhatiannya yang ia tutupi dengan kemarahannya.


"(Tunggu dia perhatian sama gw? Atau dia marah sama gw sih!)" Ucap bingung nya.


"Dasar cewe aneh!"


Dengan mengatakan itu Rendy langsung pergi dari hadapan Tania.


"Ihk!" Ucap kesalnya sambil melihat Rendy yang pergi dari depan ya.


Dan Tania pun pergi....


Tania yang baru saja masuk kelas di lihat oleh Renata.


Dan Renata pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Tania.


"Ada penjahat nih disini" sindirnya.


"Hai gays Kalian diem aja nih ngeliat penjahat di kelas kita!" Ucapnya.


"Heh Iyah bener kalo Lo Renata!" Ucap Siswa.


"Gw sih yah ogah kalo punya temen sekelas penjahat kaya dia" ucap Renata sambil mendorong Tania hingga jatuh.


Tania yang terjatuh dan dilihatin oleh seluruh siswa.


Termasuk Vina.


"Ren Lo udh keterlaluan banget tau sama Tania" Bela Vina.


"Udh deh Vina Lo gaush belain dia! Dia itu gak pantes buat di bela tau!" Ucap sinis Renata.


"Tapi Renata, Tania ini kan..."


"Apa BFF kita? Gak yah Vin! Tania ini udh out dari tim kita!" Ucapnya memotong omongan Vina.


Tania yang terkejut mendengar kata kata yang keluar dari Renata.


Tania pun berdiri dari posisi terjatuhnya.


"Renata gw...." Ucap Tania terpotong.


"APA!" ucap tegasnya.


"Lo gak dorong Syafira? Iyh? Lo mau bilang itu?"


"Wow! Tania gw gak buta! Dan gw ngeliat kalo Lo itu mendorong Syafira!" Ucap Renata.


"(Gimana kalo Renata tau, Gw lah yang buat Syafira jatuh dari balkon)" Ucap tegang Vina.


"Ren.." Ucap sedih Tania.


Yang terpotong oleh kedatangan guru.


Tania dan yang lain Mun menghentikan pertengkaran dan duduk ke tempat masing masing.


Pelajaran pertama selesai...


Tania yang hendak pergi keluar kelas.


Terjatuh oleh kaki Renata.


"UPS ada penjahat jatuh!" Ucap Renata sambil berdiri dari posisi duduknya.


Tania yang lagi lagi sakit hati.


"Kenapa Tania? Sakit yah?" Ucap sindirnya.


Vina yang gak tega dengan Tania.


Dan Tania yang menenangkan diri dan pergi...


Vina pun mengikuti Tania pergi.


Vina yang menghentikan langkah Tania.


"Tania" menhentikan langkah Tania.


Tania yang melihat ke belakang dan menyadari bahwa itu adalah Vina.


"Iyah Vin?" Tanyanya dengan sedih.


"Tania gw bener bener gak berniat untuk diam saja saat Lo di injek injek sama Renata" ucapnya.


"Iyh Vin lagian gw ngerti kok kalo Lo gak bisa melakukan apapun saat itu" Jawabnya.


"Tania! Tapi Renata udh bener bener keterlaluan" ucapnya.


"Vinaa Lo percaya kan kalo gw gak mendorong Syafira?"


"Iyah Tania gw percaya Seratus persen sama Lo" jawabnya.


"(Karena gw lah yang membuat Syafira jatuh dari balkon Tania)" ucapnya.


"Makasih Vina! loh udh percaya sama gw"


"Iyh Tania"


Tania pun memeluk Vina.


(Kenapa gw gak bisa benci sama Lo Tania! Apa karena Lo memiliki hati seperti bidadari?) Ucapnya.


Bersambung


Episode selanjutnya


Byuuur


Vina yang menumpahi air minum ke muka Renata.


"Vinaaa! Lo apaan sih? Liat gw jadi basah!" Ucap keselnya.


"Udh yah Renata! Lo gak berhak terus menerus menginjak injak Tania!" Belanya.


"Vinaaa!" Ucap marahnya.


Renata yang menatap tajam Tania.


...(Pembelaan Vina)...

__ADS_1


__ADS_2