
Episode sebelumnya
"Mas kamu liat deh aku" Ucap rayuan Bu Sari.
"Aku ini cinta sama kamu mas" Membisik.
"Tolong Sari ini kita sedang berada di tempat umum!" Sambil melepaskan genggaman tangan Bu Sari dari pipinya.
"(Itu bener bener papah)" Ucap dalam hati Tania dengan kaget bahwa papahnya sedang berada di cafe bersama "wanita".
"(Wanita itu siapa? Kenapa dia memegang pipi papah)"
"Tapi pa aku bener bener mencintai bapa dari pertama kita kerjasama" ucapnya dengan memegang tangan pak Dimas.
"(Hah?)" Kagetnya karena melihat wanita itu memegang tangan papahnya.
"Sari cukup!" Dengan melepaskan genggaman tangan.
"Tapi pa"
"Sari cukup!" Dengan tegas.
"Kalo kamu gak bisa menjaga sikap lebih baik kita batalkan makan siangnya" ancamnya.
"Iyh pa iyh saya minta maaf" pasrah nya.
"Tut Tut Tut"
" Halo Bu?" Ucap Bu Maya.
" Halo Bu apa sudah ada informasi tentang ibu dari bayi yang bernama Tania?" Tanya Bu Nela.
" Sudah Bu jadi nama ibu dari bayi itu adalah Gayatri dan seperti yang saya liat suaminya adalah pak Dimas Wijaya ia orang yang cukup terpandang" Ucap Bu Maya.
" Apa ibu sudah menemukan alamat rumahnya Bu?" Tanya nya.
" Sudah Bu alamatnya di ......" Jawab Bu Maya.
" Terima kasih banyak Bu" Ucap Bu Nela.
" Iyah Bu sama sama" saat Bu Maya menutup telpon tersebut datang sosok lelaki yang mengejutkannya.
Yaitu.......
Rangga....
Dokter Tampan yang cukup dekat dengan Bu Sari.
Pak Rangga yang datang mengejutkan Bu Maya.
"Kamu sedang apa" ucap pak Rangga mengejutkannya.
"Pak Rangga?" Ucapnya terkejut.
"Kamu sedang apa Maya?" Ucap ramah Rangga.
"Eh? Aku sedang menelpon teman aku hhe" jawabnya.
"Kebetulan ada urusan"
"Kamu kaya abg aja!" Jawab Rangga.
"Hahahahahaha!" Jawabnya.
"Emmmm kamu udh makan siang?" Tanya mesra dokter Rangga.
"Emmmm? Hehehe udh kok pak ini makanya aku mau lanjut kerja" Jawabnya.
"Oh yudh"
...
Tania dan teman temanya yang keluar dari cafe dan memutuskan untuk menghentikan kebersamaanya dan memutuskan untuk pulang kerumah masing masing.
"Daaaaah"
"Dadaaaah"
Ucap ke empatnya.
Syafira yang terhenti karena melihat mamahnya.
"Itu kan mamah?" Ucapnya dengan sembunyi di belakang mobil untuk bersembunyi.
"Kalo gitu aku pergi duluan ke kantor yah mas" ucap genit Bu Sari.
"Iyh silahkan" jawab ketus pak Dimas.
"Kalo begitu saya permisi" Ucapnya.
"Iyh!" Jawab dinginnya lagi.
"Jangan cuek cuek mas nanti kalo saya ngilang mas nyariin loh" bisik genitnya.
"Ini mamah sama papahnya Tania bicara apa sih?"
"Disini kurang kedengaran lagi!" Keluhnya.
Bu Sari yang pergi dan diikuti oleh syafira sedangkan pak Dimas yang pergi lain arah.
Syafira yang menabrak Bu Sari hingga membuatnya kaget.
"Mamaaah!" Ucap Syafira menghentikan langkah Bu Sari.
" (Memalingkan wajah) Sayang kamu lagi apa disini?" Ucap santainya.
__ADS_1
"Udh deh mah jangan banyak drama Queen lagi! Mamah ngapain di cafe sama papa...." Ucapnya hampir keceplosan.
"(Aduh aku lupa lagi mamah kan belum tau kalo anak pak Dimas itu temanya aku)" suara dalam hati Syafira.
"Samaa cwo di cafe!" Ucap ketusnya.
"Kamu apaan sih sayang pake ngintip mamah!" Ucap ngelesnya.
"Mamah itu lagi meeteng sama Klayen"
"Mah! Kalo yang tadi itu Klayen mamah gamungkin mamah sampe pegang pipinya segala!"
"Ma... Ma... Mamah gak megang pipinya kok! Tadi itu dia itu belepotan jadi mamah bersihin gitu" ucap ngelesnya.
"Mah! Mamah jangan ngeles lagi deh mamah pasti godain dia kan?"
"Sayang lancang sekali kamu yah nuduh mamah seperti itu!"
"Mamaaah udh yah belum lagi soal mobil mamah yang lecet trs sekarang mamah godain om om mamah lagi ngusun rencana apa sih hah?"
Karena kehabisan omongan Bu Sari menampar Syafira dengan keras.
"Plak..."
"Mamah kenapa tiba tiba nampas Syafira hah?"
"Karena kamu lancang mencampuri hurusan mamah" ucapnya tegas.
"Tapi mah...." Ucap Syafira terpotong.
"Cukup Syafira!" Ucap tegas Bu Sari.
"Mah? Syafira cuma nanya mah, mamah gak perlu marah atau takut! Dengan mamah takut......"
"Cukup Syafira!" Ucap Bu Sari memotong omongan Syafira.
"Serah mamah, Syafira mau pulang" Syafira yang sakit hati dan memutuskan untuk tidak memaksa mamahnya cerita.
Di Kamar Syafira.
"Hiks hiks hiks" tangisan Syafira yang mengguncang ruangan kamarnya.
Membuat kamarnya hening dan cuma terdengar suara tangisanya.
Hati yang begitu hancur.
Pikiran yang terus menyambar.
"Plak..."
Tamparan yang terus terlintas di pikirannya.
"Hiks hiks hiks" Tangisan yang seakan akan menyenandungkan isi hati.
"Treneng treneng" suara hp.
"Doni"
Doni adalah seorang siswa di kelas yang mempunyai keluarga sangat sederhana tetapi ia selalu melakukan apapun yang ia mau termasuk mengambil hati Syafira.
"Halo Don" ucapnya.
Tanpa Syafira sadar bahwa Doni mengetahui ia sedang menangis.
"Eeee? Fir Lo nangis?" Ucapnya cemas.
"Hah? Gak kok Don" jawab ngelas nya.
"Keliatan banget sama suara loh" Ucap Dono.
"Eh gini deh kita ketemuan aja ntar Lo bisa cerita semuanya ke gw"
"Oh Okey"
Syafira yang pasrah dengan keadaan karena ia memang bener bener membutuhkan teman cerita.
Saat di taman.
Syafira yang baru datang sudah melihat Doni yang menunggunya.
"Maaf nunggu" ucapnya dengan suara resu.
"Emmmm gapapa sanss aja" jawab manisnya.
Syafira yang ikut duduk di samping Doni.
"Emmmm Lo bener bener habis nangis yah?" Tanyanya.
"Gw gatau Don" jawab sedihnya.
"Ini masalah gw sama nyokap gw"
Jadi gw pengen banget cerita sama loh, tapi gabisa"
"Gw ngerti lagian gak semua masalah Lo, bisa Lo ceritain ke orang lain" jawab bijaknya.
"Lagian masalah keluarga Lo itu gak baik kalo sembarangan orang tau"
"Tapi Lo temen baik gw, seharusnya gw juga bisa percaya sama loh" ucap sedihnya lagi.
"Fir, lo bisa cerita sama gw jika memang Lo udh mampu nyeritain masalah Lo"
"Lo gaperlu khawatir gw bakalan siap jadi pendengar yang baik kalo memang Lo nyeritain masalah Lo dengan baik"
"Engusap pipi penuh air mata) iyh Don"
__ADS_1
keesokan harinya....
Dikamar Tania terdapat Tania yang sedang menulis buku diarinya.
"Duniaku benar benar gelap entah apa yang terlintas di pikiran ku membuatku benar benar tidak mengerti, mengapa semakin aku menjalani hidup semakin banyak dan menambah misteri yang aku dapatkan." (Mengusap pipi).
Tania yang sedang lesu menulis puisi di bukunya membuat dia sedikit tenang.
"(Apa kemarin emang bener bener papa yah?)" Tanya dalam harinya.
"(Tapi kemarin papah sama siapa?)
(Aku tanya papah langsung aja)
Tania yang menutup buku diary nya dan keluar kamar untuk menemui ayahnya.
Tania yang masih terbayang dengan bayangan ayahnya yang ada di cafe.
Tania yang langsung duduk di kursi dekat ayahnya berada.
Ayahnya yang sedang sarapan melihat Tania yang sedikit lesu.
"Yah?" Tanyanya.
"Iyh sayang?" Jawab ayahnya dengan mengunyah makanan.
"Tania mau tanya apa ayah kemarin sempat makan di luar saat makan siang?" Tanyanya.
Muka ayah yang kaget mendengar pertanyaannya.
"Kamu kok nanya begitu sayang?" Tanya baliknya.
"Tania cuma mau tanya yah soalnya Tania lihat ayah kemarin di cafe" ucap jujurnya.
"Sayang ayah kemarin tidak kemana mana kok"
"Ayah makan siang di kantor, mungkin kamu salah liat aja sayang" jawab bohongnya.
"(Maafin ayah sayang, ayah cuma tidak ingin kamu kepikiran tentang itu)" ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Iyh yah" Tania yang berusaha membuang pikirannya.
Dan memutuskan untuk sarapan dan pergi ke sekolah.
Di rumah Syafira...
Syafira yang masih marah dengan ibunya membuat dia cuek dengan ibunya.
Syafira yang masih lesu dan sarapan yang berpura pura tidak ada ibunya di depannya.
"Kamu masih marah yah sama mamah?" Tanya ibunya.
"Gak kok mah" jawab cueknya.
"Mamah cuma gamau kamu terlalu ikut campur urusan mamah"
"Syafira ini anak mamah ,jadi Syafira berhak mengetahui apa yang mamah lakukan! Apa lagi kalau itu akan ada campur bautnya sama pernikahan" Ucap Syafira.
"Sayang kamu setuju kan kalo mamah itu menikah?' tanya nya sambil menghelus pipi Syafira.
"Tapi mah (yang mamah sukai itu ayah nya Tania sahabat aku)" Jawab lesunya.
"Tapi apa sayang?" Tanyanya.
"(Aku gamungkin beritahu mamah kalo cwo yang mamah sukai itu ayah dari teman aku)"
"Gak kok mah"
"Serius? Tapi wajah kamu kok pucet gtu kaya belum mandi" Ucap mamahnya.
"Gpp kok mah Syafira cuma lemas aja" Jawabnya.
Mamahnya Syafira yang masih heran dengan wajah lesu Syafira memutuskan untuk membuang pikirannya.
Di depan rumah Tania.
Bu Nela yang di beri arahan oleh Bu Maya yaitu alamat rumah Tania.
Dan Bu Nela memutuskan pergi langsung ke rumah Tania.
"Assalamualaikum" sambil mengetuk pintu.
"Ada siapa yah pah?" Tanya Tania.
"Gatau, coba kamu cek siapa tau penting" Jawab Pak Dimas.
"Baik pah"
Tania yang menurut untuk mengecek siapa yang datang.
Dan membuka pintu...
"Iyh siapa?" Tanya nya dengan heran.
"Anakku?" Ucap Senang Bu Nela.
...
Bersambung
*e*pisode selanjutnya
"Aku harus buat Tania jatuh dari lantai atas" jawabnya dengan menumpahkan minyak licin di depan kamarnya.
"Dengan itu Tania akan jatuh dan koma kembali" Ucap jahatnya.
__ADS_1
...(Rencana Vina)...