
Episode sebelumnya
"(Sepertinya ada sesuatu yang Syafira pikirkan? Lebih baik aku menenangkannya)"
Saat memegang bahu Syafira dan di lihat oleh Renata.
Syafira yang terpleset oleh minyak dan jatuh dari balkon.
Hingga membuat terlihat seperti Tania sengaja mendorong Syafira.
"Aaaaaaaa"
Teriakan Syafira.
Membuat yang lain sontak melihat kearah teriakan tersebut.
"Vin Vin! Lihat deh itu Syafira!" Ucap Renata.
"Hah? Serius loh?" Ucap kagetnya.
Renata dan Vina yang terburu buru lari ke sumber suara tersebut.
Sedangkan Tania yang terkejut dan langsung turun ke bawah dan menghampiri Syafira.
"Syafira"
"Syafira"
"Aduh gimana nih"
"Telepon ambulan"
"Ayo cepat"
"Iyh iyh"
Teriakan gaduh yang ada di sana.
Ambulan pun datang dan membawa Syafira.
Vina ikut kedalam ambulan.
Begitupun Renata tetapi...
Saat Tania ingin masuk.
"Heh Tania loh bener bener keterlaluan banget yah!"
"Loh sengaja kan dorong Syafira?" Ucapnya dengan tegas.
Membuat Tania kaget.
"Heh udh! Lebih baik kita Masuk ke ambulan dulu" Ucap Vina.
"Ish!" Ucap Renata dengan tatapan sinis.
Tania yang pasrah dengan raut sedih dan masuk ke ambulan.
Dan pergi ke Rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit...
"Sus sus tolongin temen saya"
"Baik baik mari kita pergi ke ruang UGD" Jawab suster.
"Baik sus"
...
Syafira pun dibawa ke UGD.
"Tolong kalian tunggu disini yah" ucap suster.
"Baik sus"
Suster pun masuk ke dalam IGD bersama Syafira.
"Tania" Ucap Renata.
"Lo ngapain sih dorong Syafira.
"Hah?" Kagetnya.
"Gw liat dengan mata kepala gw sendiri yah kalo Lo itu mendorong Syafira!" Ucapnya.
"Renataaa gw gak dorong Syafira!"
"Ta..Tapi..." Ucapnya gugup.
"Tania!" Ucapnya memotong omongan Tania.
"Denger yah jika terjadi sesuatu yang parah kepada Syafira! Gw gaakan tinggal diem aja!" Ancamnya.
"..." Tania yang sedih mendengar ucapan Renata.
"(Yaampun gimana niii)" Suara dalam hati Vina.
"(Kenapa malah Syafira yang jatuh!)"
"(Kenapa gak Tania?)"
"(Ahk!)" kesalnya.
"Mmmmm lebih baik kita langsung telepon ibunya Tania.
Di Rumah Bu Nela.
"Hiks Hiks"
Tangisan Bu Nela.
"Syafira dimana kamu naaa" Ucap sedihnya.
Hiks hiks hiks"
Kemana lagi aku harus mencari kamu naa"
"Aku harus cari informasi tentang ibu yang mengadopsi Syafira!" Ucapnya sambil berdiri dari posisi duduk.
Dan pergi keluar rumah...
Di Rumah sakit...
"Emmm Renata Lo mending telpon Bu Sari" Suruh Vina.
"Emmmm okeh okeh"
Renata yang pergi gak jauh dari tempat sebelumnya untuk menelpon Bu Sari.
"Tut Tut Tut"
"Halo ada apa Renata?" Tanya Bu Sari.
"Emmm anu Bu" Ragunya.
"Eeeee, Syafira kecelakaan Tante" Ucapnya.
"APA?" ucap kagetnya.
"KAMU SERIUS RENATA?" Ucapnya.
"Eee iyh Tante" Ucapnya.
"Kamu kirim aja alamatnya ke Tante, Tante akan segera kesana!" Ucapnya gelisah.
"Baik Tante" Jawabnya mengakhiri telpon.
Renata yang langsung mengirim lokasinya kepada Bu Sari.
...
Bu Nela yang gelisah pergi malam malam.
Untuk mencari info tentang Syafira.
"Syafira kamu dimana naaa" ucapnya menangis.
__ADS_1
Sedangkan Bu Sari yang terburu buru pergi ke rumah sakit.
Bruk!
Bu Nela yang tidak memperhatikan jalan karena terburu buru.
Dan Bu Sari yang gelisah sambil menyetir mobil.
Membuat Bu Sari menabrak Bu Nela.
"Ahk!" Ucap kagetnya.
Bu Sari yang melirik ke belakang untuk memastikan.
Dan tentu saja Bu Sari yang melihat Bu Nela dengan kaget.
"What? Gw nabrak orang? Lagi???" Ucapnya kaget.
"Gak! Engak! Gw harus tenang!" Ucapnya menenangkan diri.
Dan pergi meninggalkan Bu Nela.
Sendiri...
Tak lama.
Rangga datang...
Creeeeet.
Mengeram mobil.
"Itu ada orang pingsan?" Ucapnya dengan memperhatikan sosok Bu Nela yang berbaring di jalan.
"Gw harus nolong dia" Ucapnya.
Rangga pun keluar mobil.
"Astagfirullah Bu?" Ucapnya yang kaget melihat sosok Bu Nela yang berbaring di jalan.
"Gw harus nolong dia!"
Rangga yang mengendong Bu Nela ke mobil.
Crep.
"(Gw harus bawa dia ke rumah sakit!)"
Rangga pun pergi menuju rumah sakit.
Yang sama dengan tempat Syafira dirawat...
Bu Sari yang tergesa gesa untuk menemui Syafira.
"Renata!" Ucapnya.
"Tante" Ucap Renata.
Renata yang berdiri dari posisi duduknya begitu pula dengan Vina dan Tania.
"Syafira! Dimana Syafira Tante ingin menemuinya!" Ucapnya.
"Syafira dimana Renata!"
"Tania!Vina!" Ucapnya.
"Tante! Tante tenang dulu Syafira sedang di rawat" Ucap Renata menenangkan Bu Sari.
"Gak bisa Renata! Syafira sedang di dalam dan kamu menyuruh Tante tenang?" Ucapnya lebih panik.
"Tante udh Tante lebih baik Tante duduk dulu" suruh Tania.
Dan Bu Sari memutuskan untuk nurut dan diam.
"Okey sekarang tolong ceritakan bagaimana ceritanya Syafira bisa masuk ke rumah sakit!" Tanyanya.
"Emmmm...." Ucap Tania terpotong.
"Jadi gini Tante! Tania Vina Renata dan Syafira melihat pesta Vina di balkon depan kamar Vina, Dan tidak lama ada pelayan masuk dan bilang kalo ada tamu yang datang Dan Vina dan aku pergi ke bawah untuk menyambut tamu itu tapi pas aku dan Vina sedang di bawah tak lama Tania mendorong Syafira Hinga jatuh." Ucapnya.
Membuat Bu Sari terkejut.
"Plak"
Tamparan keras Bu Sari kepada Tania.
Membuat Renata terkejut.
Begitupun Vina...
Tetapi di sisi hati lain ada rasa senang di dalam Vina.
"(Awww what? Bu Sari menampar Tania?)" Ucapnya senang.
"Berani beraninya kamu mendorong anak saya" Ucapnya dengan nada tinggi.
"Tapi Tante!"
"Bruk!"
Bu Sari yang mendorong Tania hingga jatuh.
"(What?)"
Vina dan Renata yang hanya bisa diam melihat Tania.
Tania yang shok.
Dan tak bisa mengatakan apapun.
"Tante tidak akan biarkan kamu berteman lagi dengan anak saya!" Ucapnya.
"Udh Tante!" Ucap Vina menenangkan Bu Sari.
"Gak bisa Vina!" Ucap Bu Sari.
"Tania tania! Lebih baik Lo pergi deh dari sini!" Ucap Renata.
"(Mengusap air mata)" Tania.
Dan memutuskan untuk pasrah dan pergi dari situ...
Dengan hati yang hancur.
Bu Sari yang benar benar marah kepada Tania...
Rangga yang mengantarkan Bu Sari ke rumah sakit.
"Dok tolong bantuannya yah dok!" Ucapnya.
"Baik mas, Mas bisa tunggu di depan ruangan" Jawab dokter.
"Baik dok!"
Rangga pun menunggu Dokter di depan ruangan.
Tanpa ia sadar ia melihat Tania.
Yang sedang berjalan cepat sambil menangis.
Kebetulan pak Rangga ialah dokter Handalan alies dokter yang selalu menolong keluarga Tania bila ada sesuatu.
Dan membuat pak Rangga dan pak Dimas berteman baik.
"(Itu kan Tania?)" Ucapnya.
Dan Rangga pun mengikuti Tania.
Hingga ke taman depan rumah sakit.
>Halaman depan rumah sakit<
Tania yang berhenti di taman tak jauh dari rumah sakit.
Dan duduk dengan menangis.
Hiks hiks hiks
__ADS_1
Tangisan keras Tania.
"(Yatuhan kenapa semua menyudutkan aku seolah olah emang aku lah yang membuat Syafira jatuh dari balkon)" Ucap dalam hatinya.
Rangga tanpa segan duduk di sisi Tania.
Membuat Tania terkejut dan menghapus air matanya.
"Kamu kenapa Tania?" Ucap pak Rangga.
"Eh? Engak kok om dokter Tania tidak apa apa" ucapnya.
"Kamu bisa ceritakan semuanya kepada om" ucapnya dengan mengusap usap bahu Tania.
Tania pun memeluk pak Rangga.
"Hiks hiks hiks" tangisan Tania di pelukan pak Rangga.
"Udh Tania udh kamu bisa ceritakan ke om" Ucapnya dengan membalas pelukan Tania dan mengelus elus Tania.
"Ommmmmm!" Sedihnya.
"Kenapa semuanya nyalahin Taniaaaaa?" Ucapnya mengeluarkan beban hatinya.
"Kenapa Tania siapa yang menyalahkan kamu" Jawabnya.
"Semuanya om teman teman Taniaaaaa hisk hiks hiks hiks" tangisan Tania.
"Ush ush" melepaskan pelukan Tania.
"Udh yah udh Tania lebih baik menenangkan diri dulu" Ucapnya dengan menghapus air mata Tania.
Tania yang ikut menghapus air matanya.
"Udh tenang kan?" Tanyanya.
"Udh om" jawabnya.
"Okey sekarang Tania bisa cerita ke om?"
"(Apa aku ceritain aja kepada om dokter? Bagaimanapun juga om dokter sudah sangat dekat dengan keluargaku?)" Ucap dalam hatinya.
"Emmm om?"
"Iyh Tania?"
"Tania gatau kenapa tapi hari ini teman Tania ulang tahun dan Tania serta teman Tania datang ke pesta itu tapi tak lama saat Tania sama salah satu teman Tania di balkon Tania melihat ia gelisah dan Tania berniat ingin mengusap pundak karena siapa tau dengan itu teman Tania bisa tenang? Tapi! Semuanya hancur! Saat Tania ingin menyentuk pundak teman Tania, teman Tania malah jatuh dari balkon entah kenapa tapi sepertinya semuanya berpikir kalo Tania lah yang membuat teman Tania jatuh dari balkon! Dan sekarang teman teman Tania pasti akan jatuhin Tania om!" Sedihnya.
" Tania hey! Kamu itu gadis yang kuat yang pernah om kenal! Om yakin banget yang di sembunyikan di tanah se dalam apapun pasti akan tercium jika mayat itu belum di mandikan! Tetapi jika mayat yang sudah di mandikan dia akan berbau harum meskipun ia belum di kubur ke tanah!" Jawab pak Rangga.
"Iyh om Tania tau!" Ucapnya.
"Makasih yah om! Om udah buat Tania lebih baik!"
"Sanss aja sayang!"
"Kamu mau om antar?" Tawarnya.
"Boleh om!" Jawabnya.
Pak Rangga dan Tania pun pulang ke rumah...
Tak lama suster keluar dari ruangan Syafira.
"Sus bagaimana dengan anak saya?" Tanya Bu Sari Tegang.
"Emmm apa ada keluarga korban?" Tanya suster.
"Saya! Saya ibunya sus!" Jawab cepat Bu Sari.
"Oh oke kalau begitu Bu! Saya mau mengatakan bahwa anak ibu mengalami benturan yang sangat keras tepat di ubur uburnya jadi saya takut jika anak ibu mengalami hal yang lebih parah dari ini jika tidak cepat di operasi!" Jawab suster.
"APA SUS?" Kagetnya.
"Benar Bu jadi saran saya lebih baik ibu mempercepat operasi anak ibu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan"
"Baik sus! Suster lakukan apa aja demi kesembuhan anak saya! Nanti soal biaya suster bisa menelpon saya!" Ucapnya.
"Baik kalau begitu silahkan Bu!" Tawar suster.
"Renata! Vina! Tante titip Syafira yah! Tante mau bayar biaya rumah sakitnya"
"Baik Tante!"
Di rumah Tania...
Pak Rangga yang mengantarkan Tania pulang dengan selamat.
Saat pak Rangga hendak turun dari mobil.
"Tunggu om!" Ucap Tania menhentikan pak Rangga.
"Iyh tania?" Tanyanya.
"Om tolong jangan bilang ke papah soal aku nangis" pemintaan Tania.
"Iyh Tania om mengerti" Jawabnya.
"Makasih om!" Ucap Tania memeluk pak Rangga.
"Iyh tania Iyah!" Jawabnya dengan menghelus elus Tania.
Tania pun melepaskan pelukannya dan keluar mobil.
Begitupun Rangga.
"Tok tok tok"
Ketukan pak Rangga.
"Tunggu!" Ucap bi Ani.
Asisten rumah tangga Tania.
"Heh mas ganteng!" Ucapnya mengoda pak Rangga.
"Hai bii" Ucap sopan Rangga dengan mencium tangan Bi Ani.
"Heh! Mas ganteng sopan banget!" Ucapnya.
"Heh bi" Ucap lemas Tania.
"Heh non? Non kenapa?" Ucap Bi Ani kaget.
Karena melihat Tania yang lesu.
"Gapapa kok bi!" Ucap lemas Tania.
"Emmm papah mana bii? Tanyanya.
"Papah sudah tidur lebih awal non" Jawabnya.
"Oh yasudah bi kalau begitu Tania mau langsung ke kamar"
"Oh silahkan non"
Tania pun masuk ke rumah dan pergi tidur.
"Yasudah bi Ani Saya langsung pergi saja yah"
"Oh iyh mas ganteng" godanya
Rangga pun pergi...
Tania yang langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya...
Dengan menangis...
Bersambung
Episode selanjutnya
Hati Tania yang hancur berkeping keping.
Mendengar ucapan bully an teman sekolahnya.
"Hiks hiks" air mata yang entah kenapa turun dari matanya.
__ADS_1
...(Perubahan hidup Tania)...