Menikah Dengan Paman Tampan

Menikah Dengan Paman Tampan
Kenyataan


__ADS_3

Episode Sebelumnya


"Hemmm(Menarik napas) Lo pasti mikirin Vina?, Fir buat apa sih Lo mikirin Vina? Dia sekarang bukan sahabat kita fiiir. Dia sekarang musuh kita...." Ucap Renata yang langsung di potong oleh Syafira.


"Kenapa? Karena masih masalah jatuhnya aku dari balkon?" Ucap lantang Syafira memotong omongan Renata.


"Fir! Tania udah mendorong kamu sampai kamu jatuh!...."


"Tapi Renataaaa! Tania gak mendorong aku sama sekali! Dia tidak sempat menyentuh aku malah" Ucap Syafira lagi lagi menghentikan ucapan Renata.


"Udahlah Renata! Mata hati kamu sudah tertutup" Ucap Syafira yang pergi meninggalkan Renata.


"Fir!" Ucap Renata yang kesal karena Syafira membela Tania.


"Ahk!"


"(Gimana kalo nanti semuanya tau? Kalo sebenarnya aku benci sama Tania karena dia adalah adik tiri aku)"


....


"Hiks...." Tangisan Renata sambil mengingat sesuatu.


Bayangan Renata....


Renata yang sedang berada di rumah sakit jiwa tempat ibunya di rawat.


Keadaan yang sangat ramai dan berisik seperti RSJ pada umumnya.


"Tunggu sebentar yah dek" Ucap suster.


"Eh Iyah sus" Jawab ramah Renata.


Tak lama kemudian susternya kembali dan mengarahkan tempat di rawatnya Bu rastri.


"(Ini harusnya pertama kali aku bertemu dengan ibu aku, Apa aku sanggup bertemu dengan ibu aku dengan keadaan ibu aku sekarang?)" Ucap batinya sambil melangkah terus mendekati ruangan ibunya.


Bayangan Renata...


"Jadi? Ibu aku masih hidup?" Ucap sedih Renata saat pamanya baru memberitahu bahwa ibunya masih hidup.


Karena dahulu pamanya mengatakan bahwa ibunya menitipkan dia kepadanya lalu setelah Renata usia 6 tahun ibunya meninggal dunia.


Hingga membuat Renata bener bener terpukul saat mendengar kejujuran pamanya yang sangat larut kelamaan.


"Iyah Renata, Paman bener bener minta maaf karena sudah menyembunyikan ini dari kamu, Saat paman baru tau kalo ibu kamu mengalami gangguan mental paman bener bener pusing karena usia kamu yang baru 6 tahun Renata! (Menarik napas dalam tangisan) Dan paman bener bener gak tau harus gimana karena ayah kamu sebenernya menikahi 2 wanita! Dan ibu kamu menjadi istri kedua dari ayah kamu sayang!" Ucapan Ucapan yang terus keluar dari mulut pamanya Renata membuat Renata bener bener kaget akan hal itu.


"Nama ayah Renata siapa paman?" Ucap Renata dengan masih di selimuti tidak menerima kenyataan kenyataanya.


"Ayah kamu perusahaan terkenal sayang, Dimas Wijaya" Tentu saja nama itu tidak asing oleh Renata, Karena nama itu adalah nama ayah dari sahabatnya.


"(Dimas Wijaya?)" Ucap dalam hati renata yang bener bener syok.


_Kembali ke ingatan rumah sakit_


Saat Renata sudah berhenti mengingatnya karena muncul sebuah air mata saat ia mengingat hal itu.


Akhirnya ia sampe di ruangan ibunya, dan suster pun ijin permisi untuk kembali ke tempat kasir.


Ibu Renata yang sedang memeluk dirinya, memeluk kakinya mengunakan tangan! Itu maksudnya.


"Mah?" Ucap Renata yang menghampiri ibunya.


"Kamu siapa hah?" Ucap Bu Rastri dengan nada seperti orang gila pada umumnya.


"Ini aku mah, Putri mamah!"

__ADS_1


"HAH? YAH IKUT AKU" Ucap teriak Bu Rastri dengan langsung membawa Renata ke suatu tempat.


Iyah menarik lengan Renata hingga membuat Renata terkejut dan berusaha melepaskan tarikannya.


"Lepasin mah!"


"Mah lepasin"


"Ayo ikut mamah hah?"


"Hayooo ikut akuu"


Dan entah kenapa Renata tiba tiba berada di tempat sedikit gelap dan sepi.


"Mah aku dimanaaa" Ucap Renata, Lalu ibunya Renata pun melepaskan genggamannya dan langsung membuka obrolan serius denganya.


"Jadi? Kamu adalah Renata Rastri Anindita?" Ucap Bu Sistra yang membuat Renata terkejut karena ia menjadi bersifat dan nada suara yang seperti orang normal.


"Mah? Kok....."


"Udah kamu jawab aja, Jadi bener kamu Renata anak saya?"


"Hemmmm Iyah mah"


"Kalo begitu mamah ingin bicara serius denganmu"


"Serius???" Ucap Renata di bawa penasaran.


Bu Rastri pun duduk di kursi yang ada di sana. Kursi yang di buat oleh semen dan di atasan telas putih.


"Mamah ingin kamu melakukan sesuatu untuk mamah" Ucap nya dengan nada serius.


"Sesuatu?..... Sesuatu apa?"


"Membalaskan dendam......"


"Mamah memiliki dendam kepada papah kamu karena dia menghianati mamah" Ucap Bu Rastri dengan nada yang menekan dan berusaha mengeluarkan rasa sakit yang sudah lama ia pendam.


"Mamah tidak sakit jiwa, Mamah di kirim oleh ayah kamu ke sini!"


"Mamah bener bener tidak percaya kalo ayah kamu bisa tega bilang ke suster suster disini ko mamah ini sakit jiwa, Mamah terkejut akan hal itu"


Bayangan Bu Rastri...


"Sini!" Ucap pak Dimas dengan menarik kasar Bu Rastri.


"Aw" Jeritan Bu Rastri karena pak Dimas yang kasar.


Bruk!


Pak Dimas yang melemparkan Bu Rastri ke lantai.


"Denger yah! Kamu betah betahin aja tinggal disini!" Ucap tegas pak Dimas.


"Disini mas???.... Tapi aku gak sakit jiwa Lo mas!" Ucap gak habis pikir Bu Rastri.


"Yaudah kamu syukurin aja! Dari pada aku bawa kamu ke tempat dimana kamu akan kebingungan dan kehujanan ngerti???"


"Tapi mas" Ucap Bu Rastri yang ingin memegang tangan pak Dimas namun pak Dimas malah melemparkannya lagi ke lantai.


"Aw" Ucap sakitnya.


Betapa sakit Bu Rastri yang jelas jelas normal dan tidak memiliki sakit mental tetapi harus masuk ke RSJ cuma karena di buang oleh suaminya sendiri.


Kembali Ke bayangan Renata...

__ADS_1


"Pokonya kamu harus buat pak Dimas atau pun keluarga dia menderita" ucapnya.


"Tapi mah....."


"CUKUP RENATA...... Kamu tidak bisa bersama mamah itu semua karena DIMAS WIJAYA" Ucap penuh amarah Bu Rastri.


"(Tapi...... Gimana dengan Tania????)"


Kembali ke masa kini..


Renata dengan hati yang hancur dengan mengingat hal itu. Dimana ia dan Tania sebenarnya saudara se ayah.


Keesokannya.


Vina yang kebangun dari tidurnya melihat Tania yang masih pingsan.


"Selamat pagi taniaaaa" Ucap cerianya.


"Lebih baik aku cepet cepet gendong Tania lagi dan cari desa desa terdekat" Ucapnya.


Vina langsung bergegas bersiap siap dan mengendong tania menuju desa desa terdekat.


Perjalanan yang sungguh membuang energi ala lagi dengan mengendong teman! Tapi usaha Vina ada hasilnya! Karena ia menemukan desa terpencil.


"Akhirnya ketemu juga Tania!!!! Lo yang kuat yah Tania, Gw yakin kita pasti bakal selamat.


Tetapi saat Vina yang sangat bahagia karena menemukan desa beberapa preman langsung melihat Vina dan menghampirinya dengan pikiran jahat.


"EH MAU KEMANA KALIAN!" Ucap preman tinggi dan kokoh dengan penampilan preman desa dan rambut yang pendek/Botak tetapi dengan poni depan yang masih ada sisa.


"Mending ikut kami neng!" Ucap preman satunya lagi dengan badan sedikit gemuk dan rambut kriting.


"Siapa kalian?" Ucap kaget Vina dengan preman yang loncat ke depanya.


"Ayo ikut!"


"GAK!" Ucap Vina.


"Gak! Lepasin!" Ucap Vina yang tertangkap oleh preman.


"Kamu ikut aku sekarang!


"Enggak lepasin!!!"


"Ayo ikut!"


preman itu akhirnya membawa Vina entah kemana.


"Kamu bawa gadis yang pingsan itu" Ucap preman yang berambut pendek kepada preman gemuk dengan rambut kriting.


Preman gemuk itu pun mengambil Tania dari gendongan Vina.


"ENGGAK LEPASIN!" Ucap Vina yang terus saja berusaha melepaskan tarikan preman tersebut.


Bersambung


Episode Selanjutnya


"Dimana aku?" Ucap Vina yang terbangun dari tidurnya dan melihat beberapa orang muda yang juga melamun terdiam dari ruangan itu.


"Eeeeee aku mau nanya ini tempat apa yah?" Ucap Vina yang menanya ke seseorang.


tentu saja di ruangan itu hanya ada wanita.


"Ki-Kita akan di jual oleh orang itu untuk melayani pria pria tua yang menyewa kita" Ucap pelan wanita dengan baju kaos coklat dan rambut yang pendek serta kulit yang halus.

__ADS_1


"Hah?" Ucap terkejut Vina.


...(Petualangan membebaskan diri)...


__ADS_2