Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Pameran Lukisan


__ADS_3

"Kau sudah siap?"


Stella menoleh setelah mendengar teguran suaminya. Kevin bersandar pada tembok sambil bersidekap dada. Terlihat lengan-lengan berototnya karena kemeja hitam lengan terbuka yang dia pakai, tidak terlalu besar namun terlihat kuat bila disentuh.


"Apa kau mau pergi dengan pakaian seperti itu?" Stella menunjuk kemeja yang dipakai oleh Kevin.


Kevin meninggalkan tempatnya lalu menghampiri Stella. Sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir ranumnya. "Tentu saja tidak, Sayang. Itu sama saja mempermalukan diriku sendiri." Jawab Kevin sambil memeluk pinggang Stella.


Stella tak mau kalah, dia mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher suaminya. Stella menatap Kevin dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Tapi penampilanmu yang seperti ini boleh juga, tinggal buka satu kancing lagi dan tambahkan long waistcoat, penampilanmu akan lebih sempurna. Tidak, tidak, tidak, ini adalah acara formal, lebih baik memakai jas saja."


"Kau begitu memperhatikan penampilanku, Sayang. Apa kau begitu peduli padaku?" Kevin menyeringai.


"Menurutmu? Kau adalah suamiku, jika bukan aku yang memperhatikan penampilanmu lalu siapa? Karena penampilanmu juga bisa mempengaruhi martabat keluarga ini?" Balas Stella menimpali.


"Sepertinya kau mulai bisa memahami diriku. Aku pikir sudah tidak ada yang bisa memahamiku lebih baik darinya, tapi ternyata aku salah, karena kau begitu memahamiku."


Stella memicingkan matanya. "Dia, siapa?" Ia menatap Kevin penasaran.


"Ikut aku, akan ku tunjukkan sesuatu padamu." Kevin melepas pelukannya lalu menuntun Stella menuju sebuah ruangan yang tersembunyi di balik rak buku.


Mata Stella membelalak sempurna saat melihat lukisan dan foto-foto yang terpajang di dinding ruangan tersebut. Lukisan dan foto seorang perempuan muda yang parasnya bak pinang di belah dua dengannya. Kevin mendekati Stella lalu berdiri disampingnya.


"Namanya Stella, dia adalah istriku yang meninggal beberapa tahun lalu dalam sebuah kecelakaan. Saat itu dia sedang mengandung calon anak kami ketika kecelakaan itu terjadi." Jelas Kevin.


Stella menoleh dan menatap Kevin dengan penuh penasaran. "Jadi kau menggunakanku sebagai penggantinya?"


Kevin menggeleng. "Tidak, karena dia tidak akan pernah terganti. Lagipula kau dan dia adalah dua orang yang berbeda, kalian tidak sama meskipun wajah kalian sangat bak pinang di belah dua."

__ADS_1


"Kau membutuhkan bantuanku, dan aku juga membutuhkan bantuanmu. Aku akan membantumu balas dendam pada mereka yang sudah membuatmu seperti ini, dan kau harus membantuku mengungkap kematian mendiang istriku. Kita sama-sama akan diuntungkan dalam pernikahan ini."


Stella tersenyum getir. Memangnya apa yang bisa dia harapkan dari pernikahannya dengan Kevin. Cinta dari pria itu, itu tidaklah mungkin, karena sejak awal tidak ada cinta dalam pernikahan mereka selain hubungan yang saling menguntungkan.


"Ayo berangkat, nanti kita bisa terlambat." Stella meninggalkan Kevin begitu saja.


Wanita itu mengambil tasnya dan memakai sepatu heels-nya. Kevin menghampiri Stella yang terlihat sedikit dingin dan acuh padanya. Mungkin karena apa yang dia sampaikan tadi, Kevin tau itu sangat menyakitinya, tapi dia juga tidak ingin membohongi Stella secara berlarut-larut, setidaknya sebelum benih-benih cinta tumbuh di hati masing-masing.


"Mantan suamimu dan kakak tirimu kemungkinan besar akan hadir di sana, begitu pula dengan ayah dan ibu tirimu," ucap Kevin yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Stella.


Stella melirik Kevin dari ekor matanya. "Itu adalah acara terbuka, jadi sah-sah saja jika mereka datang juga. Nanti aku akan menyapanya dan memperkenalkan diri sebagai istrimu. Toh sudah tidak ada yang mengenaliku lagi," tuturnya.


"Kau benar, aku akan menunggumu di luar," ucapnya dan pergi begitu saja.


Stella menghela napas berat. Wanita itu memastikan penampilannya sekali lagi, saat dirasa tidak ada yang kurang. Ia pun bergegas menyusul Kevin yang sudah keluar lebih dulu.


.


.


Kevin bergumam di dalam hati. Di depannya berjajar deretan lukisan indah karya seniman-seniman terkenal, tapi hanya satu lukisan yang begitu menyita perhatiannya, sedari tadi, hingga ia tak bergeming. Lukisan bertema pemandangan ini lain dari yang biasa ia lihat, tapi jika dilukiskan dengan kata-kata ini memang sangat sederhana.


Pada bagian atas terdapat bentangan awan tipis yang menyerupai bulu ayam halus dan berwarna kontras dengan langit biru muda.


Di bawah mega kerajaan langit berdiri kokoh pegunungan-pegunungan hijau yang bagian atasnya terkena seberkas sinar mentari dari balik tubuhnya yang kehijauan. Laut yang terlihat dalam tapi terasa sejuk serta ekosistem pantai berombak yang begitu indah.


Perlahan ia sentuh bingkai kaca lukisan itu. Entah mengapa sekejap ini ia merasa suasana jadi terasa hening nan sepi. Jika ia pejamkan mata, Kevin merasa bagaikan sedang berpijak di pasir berwarna halus itu sambil menatap pantulan cahaya dari dasar laut. Indah sekali.


Dan jika diperhatikan, gaya lukisan tersebut sama persis dengan lukisan yang dia miliki. Lukisan hasil karya si pelukis misterius yang sampai detik ini belum berhasil ia temukan jejaknya.

__ADS_1


"Tuan Nero," seru seorang laki-laki berkaca mata dengan setelan jas yang rapi. "Apa anda menyukai dan tertarik pada lukisan ini? Lukisan ini adalah sumbangan dari seorang perempuan muda sekitar dua bulan yang lalu,"


"Siapa? Apa kau mengenal wanita itu? Atau kau mungkin memiliki kontaknya?" Tanya Kevin bertubi-tubi.


"Ano, saya~" pria itu menggantung kalimatnya saat pandangannya jatuh pada Stella. Wanita itu tampak cemas dan gugup. "Nona ini, dia adalah~"


"Halo, Paman. Perkenalkan aku Stella Nero, istri dari Kevin Nero," Stella mengulurkan tangannya dan mengenalkan dirinya sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


"Oh, salam kenal, Nyonya Nero. Baiklah, silahkan kalian lanjutkan lagi melihat-lihatnya, saya permisi dulu." Pria itu membungkuk lalu meninggalkan mereka berdua begitu saja.


Kevin menatap Stella dengan bingung. Dia bersikap aneh, benar atau hanya pemikirannya saja? "Di-sana sepertinya juga banyak lukisan yang menarik, ayo kita lihat-lihat juga." Stella memeluk lengan Kevin lalu membawanya untuk melihat-lihat lukisan yang lainnya.


Kevin benar-benar merasa jika sikap Stella agak sedikit aneh sejak ia memperhatikan lukisan pemandangan tadi. Bahkan dia terlihat gugup dan panik ketika manager itu menyapanya tadi.


"Kau kenapa? Kenapa sikapmu jadi aneh begini?" Tanya Kevin kebingungan.


"Aneh bagaimana, hanya perasaanmu saja. Biasa saja kok," ucapnya menimpali.


Kevin dan Stella menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan ayah wanita itu dan ibu tirinya. Mereka berdua datang bersama Dion dan juga Sarah. Stella menatap mereka berempat dengan sinis.


"Wah, wah, wah, Tuan Martadinata. Saya dengar istri Anda baru saja meninggal, tapi dengan mudahnya Anda sudah menggandeng wanita lain. Sepertinya Nona ini juga tidak asing. Tunggu, bukankah Anda adalah Nona Sarah, kakak tiri dari mendiang istri Anda." Ucap Stella tanpa bisa mengobrol bibirnya.


Membuat beberapa pasang mata yang ada disekitar mereka menatap Dion dan Sarah dengan berbagai tatapan. Buru-buru Stella menutup bibirnya, seolah-olah dia tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Ups, maaf aku asal bicara. Jangan diambil hati ya. Suamiku, kau ngobrol dulu saja dengan mereka, aku mau keliling untuk melihat-lihat," ucap Stella lalu meninggalkan mereka begitu saja.


Stella menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Seringai tampak di bibirnya ketika melihat wajah pucat Dion dan Sarah. Ini baru awal dan masih permulaan, Stella akan menebarkan teror pada mereka berdua hingga mereka menjadi gila.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2