
Kedatangan Erica di rumah duka begitu menarik perhatian. Bagaimana tidak, disaat yang lain memakai pakaian serba hitam sebagai tanda berkabung, dia justru berpakaian glamor seperti hendak menghadiri sebuah pesta.
Erica mengambil setangkai bunga yang kemudian dia letakkan di depan jenazah Sarah. Bahkan Erica tidak memberikan penghormatan terakhirnya pada sang kakak tiri. Dan tentu saja hal itu membuat Cindy marah dan murka.
Tuan Song menghampiri Erica dan membawanya menyisih agar tidak sampai di dengar oleh para pelayat, selain itu Tuan Song juta menghargai Sarah untuk terakhir kalinya.
"Erica, apa-apaan kau ini?! Kenapa datang ke rumah duka dengan pakaian seperti ini? Apa kau sudah tidak waras, dimana otakmu?! Ini bukan acara pesta, tapi pemakaman saudari perempuanmu!! Dan sikapmu ini tentu sangat melukai perasaan kami selaku orang tua mendiang Sarah, terutama Ibumu!!"
"Kenapa aku harus peduli, Pa? Dan kenapa juga aku harus menjaga perasaan wanita itu, memangnya apa dia juga menjaga perasaanku saat aku kehilangan mama, tidak kan?! Dan kau, sebagai suami pun tidak pernah menunjukkan rasa kehilangan seperti yang kau tunjukkan hari ini!!"
Erica menunjuk peti jenazah Sarah dengan pandangan terkunci pada ayahnya. "Pa, dia itu bukan putrimu, bahkan tak ada darah yang sama yang mengalir di dalam tubuh kalian. Tapi kenapa kau begitu peduli padanya, dan ayah macam apa kau ini yang tega menelantarkan putri kandungnya sendiri hanya demi orang lain!!"
"Dan lagi pula, untuk apa juga aku harus berduka atas kematiannya. Justru aku merasa sangat bahagia, saking bahagianya, sampai-sampai aku ingin menari dan bernyanyi di depan mayatnya!!" Ujar Erica panjang lebar.
"Erica, kau~"
Mengabaikan ayahnya, Erica kembali ke dalam dan mendekati peti jenazah Sarah. Wanita itu menyeringai sinis. "Sayang sekali ya, kenapa kau harus mati secepat ini?! Padahal aku belum puas membalas dendam padamu. Kau menghancurkan hidupku, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama padamu. Tapi sayangnya kau harus mati dengan cara setragis ini."
"Sarah, aku datang bukan untuk memberikan penghormatan terakhir padamu. Tetapi aku datang untuk menyoraki kematianmu. Dan sepertinya kisahmu harus aku tulis di dalam sebuah novel dengan judul 'Kakak tiriku adalah seorang Pelakor!!' sungguh miris sekali ya. Ibu pelakor dan anak juga pelakor. Kenapa kau mati dengan membawa sebuah dosa yang sangat besar, Sarah?!"
Orang-orang yang awalnya membicarakan Erica karena dianggap tidak memiliki hati sekarang justru membicarakan mendiang Sarah dan ibunya, Nyonya Cindy. Erica baru saja membuka borok dari ibu dan anak tersebut.
Cindy bangkit dari duduknya lalu menarik Erica menjauh dari jasad Sarah. "Jauhi putriku, apa belum cukup yang kau lakukan padanya? Dia sekarang sudah mati, lalu apa lagi yang kau harapkan darinya?!" Teriak Cindy emosi.
Tuan Song menghampiri Cindy dan memeluknya. Dia mendorong Erica dengan keras, beruntung Kevin masuk tepat waktu sehingga tubuh Erica tidak sampai menyentuh lantai.
Dan kedatangan Kevin membuat orang-orang yang ada di rumah duka terkejut bukan main. Dalam hati mereka bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan Kevin dan Erica.
__ADS_1
"Tu..Tuan Nero, Anda datang. Maaf atas kekacauan yang terjadi ini. Putri saya yang kurang ajar ini memang sering membuat ulah dan membuat malu keluarga, tolong jangan diambil hati. Silahkan, pasti Anda datang untuk melayat kan,"
Mengabaikan Tuan Song. Kevin memegang bahu Erica dan menatap langsung ke dalam matanya. "Kau tidak apa-apa kan?" Erica menggeleng, meyakinkan pada Kevin jika dia baik-baik saja.
Lalu pandangan Kevin bergulir pada tuan Song. "Sepertinya Anda salah paham, kedatanganku bukan untuk melayat apalagi menyampaikan belasungkawa, tapi untuk menjemput istriku. Erica, urusanmu disini sudah selesai kan? Ayo pulang." Kevin merangkul bahu Erica dan keduanya meninggalkan kediaman Song.
Mendengar apa yang Kevin katakan, seketika dia ingat akan sosok wanita yang ada disampingnya hari itu. Bagaimana dia begitu bodoh sehingga tidak sadar jika yang bersama Kevin pada hari itu adalah putrinya sendiri, Erica.
.
.
Kevin melepas jasnya dan meletakkan di sandaran jok kemudi, dan menyisakan kemeja hitam lengan terbuka. Kevin menoleh, menatap wanita yang duduk disampingnya. Matanya memicing melihat kediaman Erica.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tegur Kevin dan mengalihkan perhatian wanita itu.
"Mantan suamiku itu?" Erica mengangguk."Tapi kenapa kau berpikir jika itu adalah dia?"
"Karena Dion adalah seorang psycho. Mungkin saja dia sudah bosan dengan Sarah makanya ia membunuhnya dan membuang semua bukti-bukti yang bisa memberatkannya." Terang Erica.
Kevin terdiam selama beberapa saat. Sepertinya Erica sangat mengenal mantan suaminya itu dengan sangat baik. Buktinya Erica bisa mengetahuinya secara mendetail tendang Dion. Jika yang Erica katakan memang benar, artinya dia adalah orang yang berbahaya.
"Kenapa sekarang malah jadi kau yang melamun?" Ucap Erica.
"Tidak, kau ingin langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Kevin memastikan.
"Aku lapar, sebaiknya pergi makan saja. Tapi sebelum itu kita ke boutique dulu. Berpakaian seperti ini membuatku kurang nyaman, orang-orang akan melihatku aneh. Karena memakai gaun pesta keluar rumah." Ucap Erica sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Kevin mendengus geli. "Memangnya siapa juga yang memintamu berpakaian seperti ini. Dasar kau ini, benar-benar ya." Kemudian ia menjitak pelan kepala Erica saling gemasnya. Bukannya marah wanita itu malah terkekeh geli.
Jika bukan karena harus, Erica juga tidak mungkin memakai gaun pesta di suasana yang kurang tepat. Tapi semua itu semata-mata dia lakukan untuk menunjukkan rasa bencinya yang besar pada Sarah.
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka di dalam mobil. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Erica. Sebenarnya mereka sama-sama memiliki sebuah pertanyaan, tetapi sama-sama ragu untuk bertanya.
Erica menoleh, memperhatikan Kevin yang sedang fokus mengemudi. Sadar jika diperhatikan, Kevin menoleh dan membalas tatapan Erica. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Ucap Kevin yang sekarang kembali fokus pada jalanan.
"Ya, aku memiliki sebuah pertanyaan padamu. Ini hanya pertanyaan saja, jadi kau jangan menganggapnya serius dan berpikir yang tidak-tidak."
"Baiklah, aku berjanji."
"Jika suatu hari nanti tiba-tiba aku melupakanmu dan menghilang tiba-tiba, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membenciku atau mungkin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Kevin memicingkan matanya. "Pertanyaan macam apa itu? Bertanya yang logis saja, lagipula kau tidak amnesia jadi bagaimana mungkin bisa melupakanku. Dan mana mungkin kau akan menghilang, sementara kau sendiri sendiri yang berjanji untuk selalu di sisiku." Ujar Kevin menimpali.
"Aku kan sudah bilang 'Jika!!' kenapa kau begitu serius?! Lagipula takdir manusia tidak ada yang tau. Dan semakin tua, orang pasti akan menurun daya ingatnya, pikun. Jadi bisa saja aku mengalami hal itu sebelum aku tua!!"
Kevin menyentil gemas kening Erica. "Jangan bicara omong kosong lagi. Karena aku tidak suka mendengarnya!!" Dan seketika Kevin teringat dengan botol-botol obat yang ia temukan di dalam laci meja rias Erika.
Sepertinya Kevin harus menyelidikinya sendiri, karena tidak mungkin Erica mengatakan yang sejujurnya ketika dia bertanya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1